Pencapaian dahsyat empat tahun silam sudah lewat. Kegagalan di Piala Afrika pada awal 2026 diikuti pemecatan pelatih jadi bukti beban besar pada Maroko. Singa Atlas punya tugas yang tidak ringan: membuktikan bahwa mereka memiliki kapasitas untuk meningkatkan pencapaian di Piala Dunia 2026.
Setelah semifinal yang menggemparkan di Qatar 2022, Maroko disebut bakal merosot. Perkiraan yang salah besar. Selain hampir memenangi Piala Afrika 2024 (atau juara menurut CAF menyusul sanksi terhadap Senegal), skuad Singa Atlas tampak semakin lengkap menjelang gelaran Piala Dunia 2026.
Gaya bertahan Maroko dinilai sebagai buah kecerdikan taktis, bukan karena kegentaran terhadap lawan. Atlas Lions memanfaatkan kekuatan dan kebugaran fisik untuk mengendalikan ruang permainan.
Kesulitan lawan saat menyerang Maroko ditambah kemampuan bek sayap seperti Achraf Hakimi dan Noussair Mazraoui untuk menangkal sayap-sayap serang lawan sekaligus daya ofensif besar. Kreativitas Brahim Diaz menjadi tambahan signifikan yang membuat Maroko semakin layak diperhitungkan. Selain tetap mengandalkan serangan balik cepat, Maroko bisa pula mengedepankan penguasaan bola.
Di tengah tantangan besar, Maroko mesti menghadapi dan mengatasi perubahan pelatih. Arsitek yang membawa Maroko menembus empat besar Piala Dunia 2022, Walid Regragui, digantikan Mohamed Ouahbi saat waktu mundur start turnamen tersisa sekitar tiga bulan lagi. Namun, dengan dasar tim yang sudah kukuh, Singa Atlas berkesempatan mengulangi kejutan seperti empat tahun silam.