Ilustrasi Cristiano Ronaldo bersama Timnas Portugal Foto: TVRI/Grafis/Mohamad Yusuf
TVRINews - Porto, Portugal
Penunjukan Jorge Jesus sebagai pelatih baru Timnas Portugal langsung memunculkan sorotan besar terhadap masa depan Cristiano Ronaldo.
Hanya empat hari setelah Portugal tersingkir di babak 16 besar Piala Dunia 2026 usai dikalahkan Spanyol, Federasi Sepak Bola Portugal (FPF) resmi mengakhiri kerja sama dengan Roberto Martinez dan menunjuk Jorge Jesus sebagai nahkoda baru.
Pelatih berusia 71 tahun itu diberi mandat untuk membangun Portugal menuju Euro 2028 dan Piala Dunia 2030, yang akan digelar bersama oleh Portugal, Spanyol, dan Maroko.
Kehadirannya sekaligus memunculkan pertanyaan mengenai nasib Ronaldo, yang sebelumnya mengisyaratkan bahwa Piala Dunia 2026 kemungkinan menjadi penampilan terakhirnya di ajang tersebut.
Meski begitu, Jorge Jesus menegaskan bahwa status Ronaldo sebagai legenda sepak bola Portugal tidak akan membuatnya mendapat perlakuan istimewa. Mantan pelatih Benfica, Flamengo, hingga Al Nassr itu menekankan bahwa semua keputusan akan berada di tangan pelatih.
"Dia adalah simbol sepak bola Portugal. Saya sangat senang pernah bekerja dengannya dan sangat mudah melatihnya, selama dia memahami batasannya dan saya juga memiliki batasan dalam mengambil keputusan," kata Jorge Jesus dikutip dari Marca, Minggu (12/7/2026).
Pernyataan tersebut menjadi sinyal bahwa Jorge Jesus akan menerapkan disiplin yang sama kepada seluruh pemain, termasuk Ronaldo, meski keduanya pernah bekerja sama di Al Nassr.
Masih Mungkin Panggil Cristiano Ronaldo
Lebih lanjut, Jorge Jesus menepis anggapan bahwa usia Ronaldo yang kini telah menginjak 41 tahun bukan alasan untuk tidak lagi memanggil sang bintang. Berdasarkan pengalamannya melatih Al Nassr, ia justru menilai kondisi fisik Ronaldo masih berada di level yang sangat baik.
Menurutnya, selama berada di bawah arahannya, Ronaldo tidak pernah mengalami cedera dan tetap mampu menunjukkan kapasitas atletik yang mengesankan.
Penyerang berjulukan CR7 itu disebut rutin menempuh jarak sekitar delapan kilometer setiap pertandingan, dengan kecepatan lari yang kerap melebihi 25 kilometer per jam.
Meski demikian, Jorge Jesus belum ingin mengambil keputusan tergesa-gesa mengenai masa depan Ronaldo bersama tim nasional. Ia mengungkapkan akan berbicara secara langsung dengan sang pemain sebelum menentukan langkah berikutnya.
"Saya akan berbicara empat mata dengannya terlebih dahulu untuk mengetahui apa yang sebenarnya dia inginkan. Setelah itu barulah saya akan mengambil keputusan," ujarnya.
Pengalaman Melatih Neymar
Ilustrasi Neymar membela Timnas Brasil
Foto: TVRI/Grafis/Mohamad Yusuf
Karakter tegas Jorge Jesus sebenarnya bukan hal baru. Sepanjang kariernya, ia dikenal sebagai pelatih yang tidak segan mengambil keputusan sulit, bahkan terhadap pemain-pemain bintang.
Dalam konferensi pers perdananya sebagai pelatih Portugal di Cidade do Futebol, Oeiras, itu Jorge Jesus mengenang pengalamannya menangani sejumlah pesepak bola terbaik dunia.
"Saya sudah melatih dua pemain terbaik di dunia. Saya tidak akan melatih yang ketiga, yaitu Lionel Messi. Saya pernah melatih Cristiano Ronaldo dan Neymar," ucapnya.
Ia juga menceritakan sebuah pengalaman saat masih bekerja bersama Neymar. Menurut Jorge Jesus, dirinya pernah menyampaikan kritik secara langsung kepada bintang Brasil tersebut.
"Suatu hari saya mengatakan langsung kepada Neymar, 'Kamu sudah habis'," ucap Jorge Jesus sambil mengenang momen tersebut.
Pernyataan itu semakin mempertegas reputasinya sebagai pelatih yang mengutamakan disiplin dan tidak memberikan perlakuan khusus kepada pemain mana pun.
Misi Jangka Panjang
Jorge Jesus datang dengan misi jangka panjang. Ia dikontrak selama empat tahun oleh Federasi Sepak Bola Portugal di bawah kepemimpinan Pedro Proenca untuk membangun tim yang mampu bersaing memperebutkan gelar juara pada Piala Dunia 2030.
Meski banyak pihak menilai Portugal membutuhkan regenerasi besar-besaran setelah kegagalan di Piala Dunia 2026, Jorge Jesus tidak sependapat. Ia menilai fondasi skuad saat ini sudah sangat menjanjikan karena mayoritas pemain masih berada pada usia produktif.
Menurutnya, hanya enam pemain di skuad Portugal yang berusia di atas 30 tahun. Dengan banyaknya talenta muda berkualitas yang dimiliki, ia optimistis Portugal tidak memerlukan revolusi total, melainkan penyempurnaan agar mampu kembali menjadi penantang serius di level tertinggi sepak bola dunia.