Tidak meyakinkan selama kualifikasi, harapan pada Brasil tetap tinggi. Namun, pertanyaan di Piala Dunia 2026 tak jauh dari: mampukah Carlo Ancelotti membuat Selecao membalikkan performa tidak meyakinkan di kualifikasi tersebut? Perlukah mereka tampil pragmatis, jauh dari jogo bonito? Perlukah Ancelotti memasukkan Neymar?
Pada Brasil, dimunculkanlah istilah-istilah yang menyuratkan hasrat besar pada sepak bola. Dua ungkapan yang sering mengemuka adalah jogo bonito (permainan indah) dan ginga, fondasi bola Brasil campuran ritme--disebut dari samba, dansa tradisional--dan teknik yang membuat pergerakan pemain menjadi tidak mudah ditebak.
Brasil memang ditautkan erat dengan kemahiran individual para pemainnya. Mereka tidak segan mempertontonkan dribel dan gocekan yahud dengan trik-trik yang menyulitkan lawan.
Akan tetapi, Brasil disebut sudah lama menanggalkan identitas-identitas elok tersebut. Permainan tim yang juga berjulukan Canarinhos ini tidak lagi mengutamakan keindahan.
Hanya, saat sudah lebih pragmatis, prestasi Selecao masih seret. Arus bakat dahsyat yang tidak lagi kencang menjadi salah satu penyebab. Selecao saat ini mendapat banyak kritik yang menyebut mereka sebagai salah satu yang terburuk.
Carlo Ancelotti didatangkan untuk meningkatkan lagi kualitas yang dulu membuat Brasil disegani dan diunggulkan. Hanya, pelatih asal Italia itu malah lebih sering diusik soal pemanggilan Neymar, walau wacana itu tidak sepenuhnya harus diabaikan karena kemampuan teknis Neymar masih dianggap sebagai salah satu yang terbaik.
Dengan atau tanpa Neymar, Brasil bakal tampil di Piala Dunia 2026 di Amerika Utara pada musim panas nanti tanpa beban yang terlalu besar. Kebebasan ini yang bisa membuat mereka berbahaya lagi. Akan tetapi, dengan tim yang tanpa banyak bakat hebat, semifinal sudah merupakan pencapaian tinggi buat Brasil.