TVRINews - Missouri, Amerika Serikat

Beberapa pihak mengkritik langkah ini sebagai beban tambahan di tengah tingginya harga tiket dan transportasi.

Jutaan penggemar sepak bola bersiap membanjiri Amerika Serikat demi menyaksikan Piala Dunia musim panas ini. Sejumlah restoran berencana menerapkan biaya layanan otomatis guna melindungi pendapatan staf, mengingat banyaknya wisatawan internasional yang terbiasa dengan norma pemberian tip berbeda di negara asal mereka.

Asosiasi Restoran Missouri, misalnya, telah menyarankan restoran di Kansas City untuk menambahkan biaya layanan otomatis sebesar 20 persen selama turnamen berlangsung. Kota tersebut diperkirakan menjamu sekitar 650.000 pengunjung yang datang untuk menyaksikan enam pertandingan yang dijadwalkan di sana.

Pemberian tip merupakan standar umum di Amerika Serikat, namun tradisi ini sangat bervariasi di berbagai belahan dunia. Di banyak negara, pemberian uang tambahan tidak diharapkan atau biaya layanan biasanya sudah termasuk dalam total tagihan pelanggan.

Perbedaan budaya ini dikhawatirkan akan berdampak langsung pada kesejahteraan pekerja restoran di kota-kota penyelenggara yang sangat bergantung pada tip. Di Missouri dan sebagian besar wilayah Amerika Serikat, pekerja yang mengandalkan tip menerima upah minimum dasar yang lebih rendah dibandingkan pekerja di sektor lainnya.

“Kami hanya ingin memastikan bahwa para pramusaji dan bartender atau siapa pun yang mengandalkan tip benar-benar mendapatkannya,” kata Direktur Pemasaran dan Komunikasi Asosiasi Restoran Missouri, Trey Meyers, dikutip The Hill. 

Meskipun ini hanya bersifat rekomendasi, Meyers menyatakan sebagian besar dari sekitar 800 anggotanya di area metropolitan Kansas City berencana menerapkan kebijakan tersebut selama Piala Dunia 2026. Berdasarkan laporan dari para pengusaha restoran, besaran tip otomatis yang bakal diterapkan berkisar di bawah 25 persen. 

“Apa yang kami dengar dari para pemilik restoran adalah mereka akan menerapkan tarif mulai dari 18 persen hingga 22 persen,” ungkapnya.

Bukan cuma Kansas City, restoran di kawasan Boston yang akan menyelenggarakan tujuh pertandingan Piala Dunia 2026 juga sedang mempertimbangkan kebijakan tip otomatis serupa. Para penggemar dari Skotlandia yang melakukan perjalanan ke kota tersebut dilaporkan telah diberitahu untuk bersiap menghadapi biaya wajib sebesar 20 persen.

Secara nasional, rata-rata pemberian tip di restoran dengan layanan penuh mencapai sekitar 19 persen pada 2025 berdasarkan data dari Toast. Perhelatan akbar musim panas ini sendiri diprediksi menarik hingga 7 juta pengunjung internasional yang tersebar di 11 kota di seluruh Amerika Serikat.

Kebijakan tip otomatis ini pun menjadi isu hangat baru bagi penyelenggara Piala Dunia 2026 yang sebelumnya telah dikritik akibat mahalnya harga tiket. Selain biaya masuk pertandingan, tingginya ongkos transportasi juga menjadi keluhan utama bagi banyak penggemar yang ingin menyaksikan turnamen secara langsung.

Sejumlah pengguna internet bahkan meminta restoran di Amerika Serikat mencontoh negara lain dengan menghapus sistem tip dan memberikan upah yang lebih layak. Meski demikian, sebagian pihak lain menilai kebijakan ini masuk akal asalkan restoran bersikap transparan kepada seluruh pelanggan yang datang.

Meyers mengaku adanya penolakan dari warga lokal terkait rencana ini, namun menekankan kebijakan tersebut bersifat sementara. Restoran juga diwajibkan untuk mengomunikasikan aturan tersebut secara jelas agar tidak terjadi kesalahpahaman saat pembayaran tagihan di meja makan.

Ternyata tidak semua asosiasi restoran mengambil langkah yang seragam dalam menghadapi lonjakan wisatawan internasional ini. Asosiasi Restoran dan Perhotelan New Jersey memilih untuk tidak menyarankan anggotanya menambah biaya otomatis, melainkan lebih fokus pada edukasi mengenai perbedaan budaya.

“Kami tidak ingin saat hari pertandingan pertama tiba, mereka ternyata belum siap menghadapi situasi di lapangan,” tutur Wakil Presiden Urusan Publik Asosiasi Restoran dan Perhotelan New Jersey, Amanda Stone.

Pihak restoran kini mulai mempelajari preferensi makanan hingga kebiasaan pembayaran yang berbeda dari para tamu mancanegara agar proses transaksi berjalan lancar. Hal ini dilakukan supaya pengunjung internasional tidak merasa bingung atau curiga ketika pelayan membawa kartu kredit mereka untuk menyelesaikan pembayaran.