Estadio Azteca di Mexico City, Meksiko, akan menggelar pertandingan pertama Piala Dunia 2026 pada 11 Juni antara tuan rumah Meksiko melawan Afrika Selatan. Foto: TVRI/Grafis/Mohamad Yusuf
TVRINews - Jakarta, Indonesia
Meksiko akan menggelar Piala Dunia untuk ketiga kali dalam sejarah turnamen ini.
Inggris boleh jadi mengklaim sebagai negeri pertama sepak bola. Begitu juga Cina dengan permainan"Cuju". Brasil kemudian menjadi tim paling sukses dalam sepak bola di antaranya karena melahirkan banyak pemain bintang dunia, lalu ada Argentina. Sedangkan taktik sepak bola berkembang di berbagai negara, dari Italia, Jerman, hingga Belanda.
Namun, dari semua deretan negara tersebut, Meksiko adalah negara paling tepat sebagai tempat "artefak"-nya sepak bola. Negara ini banyak momen terbaik dari turnamen terbesar sepak bola dunia terjadi. Meksiko dapat diibaratkan sebagai museum dari Piala Dunia.
Tahun ini, Meksiko kembali akan menjadi tempat Piala Dunia. Bersama Amerika Serikat dan Kanada, negara di Amerika Utara ini untuk ketiga kalinya dalam sejarah akan menjadi tuan rumah Piala Dunia.
Meksiko akan mencetak sejarah dengan menjadi tuan rumah pertandingan pembuka Piala Dunia 2026 di Estadio Azteca pada 11 Juni 2026, dan secara resmi menjadi negara pertama yang menjadi tuan rumah sebanyak tiga kali. Sebelum panggung Piala Dunia 2026 dimulai, berikut ini 10 momen yang membuat Meksiko pantas disebut sebagai museumnya Piala Dunia:
1. Momen Emas Pele dan Diego Maradona
Stadion Azteca menjadi saksi dua bintang dunia merengkuh trofi Piala Dunia: Pele dan Diego Maradona. Pele membawa Brasil juara Piala Dunia 1970 sedangkan Diego Maradona juara Piala Dunia 1986. Keduanya meraih gelar tersebut di Stadion Azteca, Meksiko City. Pele dan Brasil juara pada 21 Juni 1970 di Stadion Azteca setelah menang 4-1 atas Italia. Sedangkan Diego Maradona dan Argentina meraihnya pada 29 Juni 1986 di Stadion Azteca.
Piala Dunia 1970 menandai titik tertinggi Pele dalam sejarah sepak bola. Pele berperan baik dengan gol dan asis sejak fase grup hingga final. Total, 4 gol dengan 6 asis diciptakan Pele dalam Piala Dunia 1970 ini, termasuk 1 gol dan dua asis di final lawan Italia.
2. Balas Dendam Brasil
Sebelum menang atas Italia di final, Brasil lebih dulu mengalahkan Uruguai di semifinal dengan skor 3-1. Kemenangan Brasil itu sekaligus sebagai pembalasan dendam atas apa yang terjadi 20 tahun sebelumnya yang dikenal dengan tragedy Maracanazo (Piala Dunia 1950 di Brasil), di mana Uruguai menjadi juara dunia di Brasil. Maracanazo adalah kekalahan mengejutkan Brasil 1-2 dari Uruguai pada laga penentuan final Piala Dunia 1950 di Stadion Maracana, Rio de Janeiro, 16 Juli 1950.
Saat itu, sebagai tuan rumah yang hanya butuh hasil imbang, Brasil difavoritkan juara, namun Brasil malah kalah 1-2 dan itu menjadi tragedi nasional yang membekas. Di semifinal Piala Dunia 1970, Brasil akhirnya menemukan momen untuk mengubur sejarah pahit tersebut. Di Stadion Jalisco, Brasil tertinggal 0-1 di menit ke-19. Namun, Brasil berhasil membalikkan kedudukan lewat gol Clodoaldo, Jairzinho, dan Rivellino.
3. Trofi Terakhir Jules Rimet
Piala Dunia 1970 adalah edisi terakhir di mana Trofi Jules Rimet diberikan. Brasil mempertahankan trofi bersejarah tersebut setelah memenangkan gelar ketiga berturut-turut mereka setelah sebelumnya juara pada 1958 dan 1962.
Ketika Pele merayakan dengan mengangkat trofi tersebut, itulah untuk terakhir kalinya publik dunia melihat trofi Jules Rimet. Karena kemudian, trofi tersebut diberikan selamanya untuk Brasil. Setelah itu, trofi baru pun dibuat untuk menggantikan trofi Jules Rimet yaitu trofi yang berbentuk seperti saat ini.
4. Gol Ke-800 Piala Dunia
Stadion Leon atau juga dikenal dengan Stadion Nou Camp di Guanajuato, merupakan bagian dari sejarah Piala Dunia. Di sanalah mesin gol Timnas Jerman, Gerd Muller, mencetak gol ke-800 Piala Dunia. Gerd Muller mencetak gol tersebut dalam pertandingan babak penyisihan grup melawan Bulgaria, yang dimenangkan Jerman.
Pada Piala Dunia 1970 itu pula, Gerd Muller, menjadi penyerang ketiga yang mencetak 10 gol atau lebih di Piala Dunia setelah Sandor Kocsis di Swiss 1954 (11 gol) dan Just Fontaine di Swedia 1958 (13 gol).
5. Franz Beckenbauer dengan Penyangga Bahu
Franz Beckenbauer mengalami cedera bahu di semifinal melawan Italia pada pertandingan semifinal, 17 Juni 1970. Pada menit ke-70 dalam laga tersebutm, bek Jerman Barat, Franz Beckenbauer, memang mengalami dislokasi bahu, tetapi tetap berada di lapangan. Dia harus tetap main karena timnya telah menggunakan dua pergantian pemain yang diizinkan.
Ini juga menjadi momen ikonik dari munculnya kepemimpinan Franz Beckenbauer di masa depan. Saat itu, Franz Beckenbauer belumlah menjadi kapten Jerman Barat. Tugas tersebut masih ada di lengan Uwe Seeler. Franz Beckenbauer masih berusia 24 tahun di Piala Dunia 1970 ini sedangkan Uwe Seeler 33 tahun.
6. Pertandingan Abad Ini
Momen Franzbeckenbauer tersebut juga menjadi bagian dari laga yang dikenal dengan Pertandingan Abad Ini atau The Game of the Century atau Partita del Secolo. Stadion Azteca menyajikan laga paling seru di Piala Dunia 1970. Jerman dan Italia imbang 1-1 di waktu normal, dan lima gol tercipta di babak perpanjangan waktu, dengan Italia akhirnya menang 4-3.
Laga ini disebut sebagai Pertandingan Abad Ini karena intensitas drama, banyak gol di babak perpanjangan waktu, dan semangat juang yang ditunjukkan kedua tim di Stadion Azteca, Meksiko, pada 17 Juni 1970 itu. Pertandingan ini sangat dramatis sehingga di Stadion Azteca ada plakat khusus di pintu masuknya untuk memperingati pertandingan tersebut sebagai laga terhebat abad ini.
7. Perampokan Abad Ini
Jika ada Pertandingan Abad Ini, ada juga "Perampokan Abad Ini". Di Stadion Azteca pula, tercipta salah satu gol paling kontroversial dalam sejarah Piala Dunia. Ya, gol yang sudah sangat dikenal dengan Gol Tangan Tuhan. Diego Armando Maradona, pemain andalan Argentina yang mencetak kontroversial tersebut di perempat final melawan Inggris pada 22 Juni 1986.
Berawal dari Jorge Valdano melepaskan umpan, Diego Maradona mengejarnya, melompat, mengungguli kiper Inggris Peter Shilton, dan mencetak gol dengan tangannya. Peter Shilton memprotes, mengklaim Maradona menggunakan tangannya. Namun, wasit mengesahkan gol tersebut.
Lima menit setelah "Gol Tangan Tuhan", Maradona mencetak salah satu gol terindah dalam sejarah Piala Dunia, yang disebut Gol Abad Ini, di Stadion Azteca. Diego Armando menggiring bola melewati para pemain Inggris hingga berhadapan dengan peter Shilton, yang juga ia kalahkan untuk mencetak gol yang dianggap sebagai gol terbaik Piala Dunia tersebut.
8. Lahirnya Mexican Wave
Selama turnamen 1986, penggemar mempopulerkan "Gelombang Meksiko" (La Ola) di tribun, sebuah tradisi yang kemudian menjadi ciri khas dari penonton. Mexican wave atau yang juga bisa disebut dengan ombak penonton menjadi mendunia setelah terlihat di Piala Dunia 1986 di Meksiko.
Gerakan ini menambah kemeriahan pertandingan. Stadion Azteca mencatat sejarah dengan atmosfer luar biasa yang dihasilkan oleh ombang penonton tersebut. Meski aksi ini sebelumnya sudah ada seperti di Olimpiade 1984 tapi di Piala Dunia 1986 inilah aksi tersebut semakin dikenal dunia dan kemudian ditiru di sejumlah stadion di dalam berbagai ajang atau turnamen, hingga saat ini.
9. Argentina Menciptakan Sejarah
Hingga tahun 1986, hanya Italia, Brasil, Jerman, dan Uruguay yang telah memenangkan Piala Dunia lebih dari sekali. Setelah menang di Meksiko, Argentina bergabung dengan "kelompok tim nasional" yang memenangkan lebih dari satu Piala Dunia. Sebelumnya, Argentina meraih gelar pertama juara Piala Dunia pada 1978 dalam Piala Dunia yang digelar di negeri mereka.
Di Piala Dunia 1986 pula dimulainya rivalitas antara Argentina dan Jerman (Jerman Barat). Setelah Piala Dunia 1986, kedua tim bertemu lagi di final Piala Dunia 1990 dan di Piala Dunia 2014.
10. Tendangan Gunting Manuel Negrete
Meksiko bukan hanya sebagai tempat terciptanya sejarah sejumlah momen di Piala Dunia melainkan juga menjadi menjadi pelaku sejarah. Adalah Manuel Negrete yang mencetak gol voli dengan cara salto, yang disebut dengan tendangan gunting. Momen itu terjadi saat Meksiko melawan Bulgaria di 16 besar Piala Dunia 1986.
Gol tersebut kemudian disebut sebagai salah satu gol terbaik dalam sejarah Piala Dunia, gol pada menit ke-34 dalam kemenangan 2-0 ini menampilkan umpan satu-dua dengan Javier Aguirre (pelatih Timnas Meksiko saat ini). Manuel Negrete menciptakan gol tersebut dengan tembakan kaki menyilang menggunakan kaki kirinya. Gol itu juga salah satu yang membuat Meksiko melangkah ke perempat final Piala Dunia. Pada momen itu pula, kali terakhir pencapaian terbaik (perempat final) Timnas Meksiko di Piala Dunia.