Selebrasi pemain Timnas Portugal dalam sebuah pertandingan. Foto: TVRI/Grafis/Dede Mauladi
TVRINews – Lisbon, Portugal
Tim nasional sepak bola Portugal saat ini dinilai sangat pantas menjadi salah satu fpenantang serius peraih Piala Dunia.
Tim nasional sepak bola Portugal akan pergi ke Piala Dunia 2026 tidak hanya untuk memenuhi kewajibannya. Juga tidak boleh membiarkan diri mereka hanya mendapatkan pujian estetika biasa untuk permainan yang mereka suguhkan.
Atau yang lebih buruk lagi, memiliki ketakutan kronis akan kurangnya ambisi untuk bersaing serius memperebutkan gelar.
Dengan kualitas talenta yang ditawarkan generasi ini dan jumlah pemain yang tersedia di berbagai posisi, Portugal seharusnya tidak boleh menerima status sebagai tim underdog. Apalagi mereka kini berada di peringkat kelima dunia—hanya di bawah Prancis, Spanyol, Argentina, dan Inggris.
Dengan materi pemain, tidak salah jika Portugal berambisi menjadi yang terbaik di turnamen utama—setelah sukses di Euro 2016—dengan membawa pulang trofi buatan pematung Italia Silvio Gazzaniga ke ruang trofi mereka.
Portugal saat ini memiliki beragam pemain, dengan kombinasi antara mereka yang sangat berpengalaman dan telah bermain di panggung terbesar. Sang megabintang tetaplah Cristiano Ronaldo, meskipun banyak yang memperdebatkan apakah ia harus tetap berada di tim nasional atau tidak.
Portugal juga memiliki sederet pemain muda yang sangat berbakat yang masih haus akan kemenangan, dan memiliki keinginan besar untuk membuktikan diri di kancah sepak bola internasional.
Tim Portugal ini kaya akan keberagaman, kuat secara teknis dan semakin cerdas secara taktik sehingga siap untuk mengendalikan pertandingan dan berjuang untuk kemenangan melawan tim-tim kuat.
Lihat saja apa yang dicapai di final UEFA Nations League terakhir (2025), ketika banyak yang mengharapkan bencana untuk membenarkan kepergian dini pelatih saat ini, Roberto Martinez.
Portugal bersaing setara dengan dua tim nasional terkuat di dunia, mengalahkan Jerman di semifinal dan Spanyol di final yang dramatis dan tidak terlupakan yang berpuncak pada adu penalti yang emosional.
Tahap final ini tidak hanya membuktikan kemampuan timnas Portugal tetapi juga menunjukkan bahwa skuad ini sudah lebih dari sekadar bermimpi dan percaya pada kemungkinan mencapai Piala Dunia sebagai favorit juara, tanpa rasa takut, kekhawatiran, atau prasangka inferioritas lainnya.
Talenta di Setiap Lini
Portugal kini memiliki talenta di setiap posisi. Di penjaga gawang, kiper FC Porto Diogo Costa memang masih dalam pemulihan cedera. Namun, Rui Silva (Spoting CP) dan Jose Sa (Wolverhampton Wanderers) mulai membuktikan kelasnya di dua laga persahabatan terakhir Portugal.
Di lini belakang, Portugal bisa memakai formasi tiga bek tengah, tergantung taktik. Jika memainkan empat pemain di lini pertahanan, Portugal memiliki salah satu bek kiri terbaik di dunia, Nuno Mendes.
Untuk lini belakang, Portugal juga tidak kekurangan pilihan yang sudah terbukti dengan performa mereka di klubnya masing-masing. Joao Cancelo (FC Barcelona) bisa menjadi pelapis Nuno Mendes sedangkan di kanan Diogo Dalot (Manchester United) bisa bergantian dengan Matheus Nunes (Manchester City) yang juga bisa bermain sebagai gelandang.
Bek tengah yang tersedia saat ini dianggap sebagai yang terbaik, bersaing dengan mereka, termasuk Renato Veiga (Villarreal CF), Antonio Silva (SL Benfica), dan Goncalo Inacio (Sporting CP). Jika masih kurang, Ruben Dias (Manchester City) yang tidak dipanggil di dua laga terakhir, masih bisa ditarik.
Di lini tengah, duo Paris Saint-Germain (PSG) mengamankan trofi tertinggi klub Eropa musim lalu, Liga Champions. Torehan itu membuat Vitinha dan Joao Neves sudah masuk level gelandang top dunia.
Portugal juga masih memiliki Bruno Fernandes (Manchester United), Ruben Neves (Al Hilal), dan Joao Palhinha (Tottenham Hotspur), yang semuanya memiliki kualitas yang tidak dapat disangkal.
Jika pelatih Roberto Martinez masih memerlukan gelandang kreatif, rasanya tidak ada salahnya memanggil kembali Bernardo Silva yang juga tidak memperkuat Portugal di dua laga terakhir.
Di lini depan, Portugal tentu masih berharap pencetak gol terbanyak sepanjang masa mereka, Cristiano Ronaldo, bisa turun untuk Piala Dunia keenamnya.
Kehadiran CR7 tidak hanya bakal mempermudah tugas pemain seperti Joao Felix (Al Nassr) dan Bruno Fernandes yang biasa bermain tepat di belakang striker dalam formasi 4-3-3, juga para pemain sayap seperti Francisco Conceicao (Juventus FC), Pedro Neto (Chelsea FC), Francisco Trincao (Sporting CP), Goncalo Guedes (Real Sociedad) hingga Rafael Leao (AC Milan).
Sementara itu, nama-nama seperti Goncalo Ramos (PSG) dan Paulinho yang bermain di Liga Meksiko (bersama Toluca), bisa menjadi opsi jika Ronaldo tidak ada atau bila pelatih ingin mengganti formasi demi kepentingan taktik.
Tanpa perlu berlebihan, Portugal memiliki semua yang dibutuhkan untuk bersaing di Piala Dunia 2026 ini. Ada banyak talenta individu, keberanian dan pengalaman yang matang, kekuatan yang memadai, dan banyak pilihan untuk menghadapi kompetisi dengan percaya diri dan rasa tanggung jawab.
Pelajaran dari Belgia
Materi pemain yang dimiliki timnas Portugal mungkin tidak sehebat golden generation skuad Belgia antara 2014 sampai 2022.
Dalam rentang waktu itu, Belgia memiliki segudang pemain kunci seperti Kevin De Bruyne, Eden Hazard, Thibaut Courtois, Romelu Lukaku, Vincent Kompany, Jan Vertonghen, Toby Alderweireld, Axel Witsel, dan Dries Mertens.
Namun, di bawah dua pelatih, Marc Wilmots (2012-2016) dan pelatih Portugal saat ini, Roberto Martinez (2016-2022), pencapaian terbaik Belgia di era generasi emas itu hanyalah peringkat ketiga Piala Dunia 2018 dan perempat final Kejuaraan Eropa (Euro) pada 2016 dan 2020.
Pada 2014, dengan materi pemain seperti itu, Belgia lolos ke putaran final Piala Dunia 2014 di Brasil dengan rekor tanpa kekalahan di kualifikasi. Namun, di turnamen utama, Belgia justru terhenti di perempat final.
Tahun 2015, Belgia sempat berada di posisi pertama dunia. Tiga tahun kemudian di bawah Martinez, mereka kembali ke posisi teratas daftar peringkat dunia FIFA. Namun, hingga Piala Dunia 2022—tersingkir di fase grup—tim ini tidak pernah memenangi gelar utama.
“Secara keseluruhan, generasi ini jelas memiliki apa yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan besar, memenangi gelar,” kata Jean-Marie Pfaff, kiper legendaris yang merupakan bagian dari tim yang mencapai final Kejuaraan Eropa 1980 dan semifinal Piala Dunia 1986.
“Sayangnya, ini tidak berhasil karena para pemain jarang bermain sebagai tim yang sesungguhnya, dengan satu pemain berlari untuk pemain lainnya. Beban berada di pundak beberapa individu, dan itu jelas tidak cukup,” kata Pfaff seperti dikutip BBC.
Belgia tampil gemilang di Piala Dunia 2018 – mengalahkan Brasil di perempat final – namun kemudian kalah tipis di semifinal dari Prancis yang akhirnya juara.
Piala Dunia 2022 menjadi saksi Belgia tersingkir di babak grup di tengah pensiunnya beberapa pemain, pengunduran diri Roberto Martinez, dan pembicaraan tentang keretakan di antara skuad.
Mantan gelandang Belgia Radja Nainggolan mengakui bahwa mereka adalah tim yang terlalu banyak terdiri dari individu-individu yang mencoba menonjol.
Hal itu berlanjut di bawah pengganti Martinez, pelatih muda mantan RB Leipzig, Domenico Tedesco (2023-2025). Tak lama kemudian, Courtois mengasingkan diri karena kurangnya kepercayaan pada Tedesco, yang akhirnya memilih mundur dan digantikan Rudi Garcia.
Sejauh ini, timnas Portugal terlihat tidak seperti Belgia. Generasi emas kedua Portugal ini (sejak 2016 sampai sekarang) sudah melampaui torehan golden generation Portugal sebelumnya (akhir 1980-an sampai pertengahan 2000-an).
Salah satu faktor pembedanya adalah pelatih. Martinez memiliki kualitas yang tidak boleh diabaikan. Ia tipe pelatih modern yang tahu bagaimana menghadapi tahap akhir.
Martinez juga memiliki rekor yang hampir sempurna dalam pertandingan kualifikasi Piala Dunia 2026. Terpenting, pelatih asal Spanyol itu tampaknya sudah belajar dari apa yang dialaminya di Belgia.
Dari sisi permainan dan teknis, Portugal dalam beberapa pertandingan terakhir juga sudah mampu secara perlahan melepaskan ketergantungan pada sosok Ronaldo.
Faktor terakhir ini sangat penting karena saat generasi emas Luis Figo, Rui Costa, Fernando Couto, Pauleta, Deco, Joao Pinto, dan Vitor Baia pergi, transisi yang dilakukan Portugal terbilang sangat mulus hingga mampu meletakkan fondasi bagus bagi terbentuknya generasi saat ini.
Yang pasti, torehan generasi emas Belgia dan golden generation pertama Portugal—runner-up Euro 2004 dan semifinalis (peringkat keempat) Piala Dunia 2006—masih di bawah CR7 dan kawan-kawan: juara Euro 2016 dan UEFA Nations League 2019 dan 2025.
Dari torehan itu generasi emas Portugal saat ini paling tidak sudah membuktikan kapabilitas teknik dan kekuatan mental mereka untuk merebut gelar.