TVRINews - Berlin, Jerman

Tuchel memikul tanggung jawab besar untuk mengubah tumpukan pemain bintang Inggris menjadi tim juara.

Terik matahari musim panas Amerika Serikat 32 tahun silam memicu emosi Stefan Effenberg hingga harus dipulangkan lebih awal dari Piala Dunia 1994. Terlepas dari kenangan pahitnya tersebut, Legenda Jerman itu meyakini bahwa Amerika Serikat, bersama Meksiko dan Kanada, akan menjadi panggung yang luar biasa bagi turnamen tahun ini.

Saat ditarik keluar ketika Jerman bersusah payah meraih kemenangan 3-2 atas Korea Selatan pada Piala Dunia 1994, Effenberg membalas ejekan suporter dengan mengacungkan jari tengah ke arah mereka. Akibat tindakan tersebut membuatnya didepak dari skuad, Effenberg menyatakan suhu di permukaan lapangan Dallas yang mencapai 49 derajat celsius sebagai faktor utama yang menyulut emosinya.

“Tidak mudah untuk bermain dalam cuaca panas seperti itu. Kondisinya tidak sempurna bagi para pemain dari Eropa, karena kami biasanya tidak terbiasa dengan suhu atau kelembapan setinggi itu,” kata Effenberg kepada South China Morning Post, merujuk pada kesulitan sejumlah pemain dalam Piala Dunia Antarklub di Amerika Serikat tahun lalu.

Meskipun menghadapi tantangan cuaca, Effenberg tetap memuji kualitas penyelenggaraan turnamen di tanah Amerika tersebut. Menurutnya, Negeri Paman Sam menjadi tuan rumah yang sukses dalam menggelar Piala Dunia.

“Namun, saat kami bermain pada 1994, itu adalah Piala Dunia yang terorganisasi dengan sempurna. Mereka sangat tahu apa yang harus dilakukan untuk menjadi tuan rumah turnamen yang baik,” ucapnya.

Kesejahteraan pemain menjadi inti perdebatan mengenai apakah penambahan 16 tim dari format 32 tim sebelumnya merupakan langkah yang positif. Sebagai pendukung format baru ini, Effenberg sangat menantikan laga fase grup antara negaranya melawan Curacao, negara berpenduduk sekitar 150.000 jiwa yang menjadi negara terkecil yang pernah lolos ke Piala Dunia.

“Memiliki 48 tim memberikan kesempatan bagi negara-negara kecil untuk memperkenalkan diri mereka kepada dunia. Kita akan melihat lima atau enam tim yang biasanya tidak akan pernah memiliki kesempatan bermain di Piala Dunia, dan menurut saya itu adalah hal yang bagus,” tutur Effenberg mengenai perluasan jumlah peserta tersebut.

Saat berada di Hong Kong pekan lalu untuk pengumuman laga persahabatan Bayern Munchen melawan Aston Villa, Effenberg menyoroti kinerja manajer Inggris saat ini, Thomas Tuchel. Ia mencatat masa kepemimpinan Tuchel di Die Roten pada musim 2023/24 tidak sukses meski memiliki rekam jejak yang cukup mentereng.

“Dia melakukan pekerjaan luar biasa bersama Mainz dan Borussia Dortmund, dan kini memiliki kesempatan untuk melatih negara besar. Kami selalu bicara tentang Inggris yang punya banyak pemain hebat namun bukan sebuah tim, jadi tugas Thomas adalah menyatukan segalanya,” ujar Effenberg memberikan penilaiannya.

Effenberg yang merupakan kapten sekaligus pencetak gol saat Bayern mengalahkan Valencia di final Liga Champions 2001, menolak mengomentari kabar ketertarikan klub terhadap Anthony Gordon. Namun, ia dengan senang hati mengulas pemain Inggris lainnya, Harry Kane, yang telah mengoleksi 137 gol sejak bergabung dengan Bayern pada musim panas 2023.

“Dia seperti kapten lainnya, dia tidak hanya bermain sebagai nomor sembilan, tetapi ada di mana-mana. Dia sangat penting, tidak hanya dalam pertandingan tetapi juga dalam latihan karena teladan yang dia berikan bagi para pemain muda,” tuturnya.

“Saat dia bergabung, beberapa orang bertanya, ‘Harry Kane seharga lebih dari 100 juta euro [sekitar Rp1,7 triliun], benarkah?’, kini kita sudah memiliki jawabannya karena dia memberikan dampak yang sangat besar,” ia melanjutkan.

Perjalanan karier Effenberg di Bayern terbagi dalam dua periode. Di mana periode terakhir terbukti jauh lebih bergelimang prestasi dibandingkan periode pertamanya karena mampu meraih gelar Liga Champions setelah 25 tahun menunggu. 

Kini, Bayern akan bertandang ke markas juara bertahan Paris Saint-Germain untuk melakoni laga leg pertama semifinal Liga Champions pada Rabu (29/4/2026) dini hari WIB. Duel tersebut digelar di Stadion Parc des Princes.

“Ini adalah trofi terbesar yang bisa Anda menangkan, beberapa pemain besar bahkan mengatakan lebih memilih trofi ini daripada Piala Dunia. Bayern Munchen adalah klub kelas dunia, hal terpenting adalah memainkan sepak bola yang bagus dan sukses, dan itulah yang sedang mereka lakukan.”