TVRINews – Jakarta, Indonesia

Sepak bola wanita Indonesia, termasuk tim nasionalnya, sedang dalam tren positif

Secara historis, Indonesia merupakan salah satu kekuatan sepak bola wanita di Asia pada era 1970-an hingga 1980-an, sebelum akhirnya mengalami penurunan dan kini sedang dalam upaya kebangkitan. 

Hal itu pun diakui oleh mantan kiper tim nasional sepak bola wanita Indonesia—dijuluki Garuda Pertiwi, Yolanda Krismonica, yang ditemui TVRI di Jakarta, belum lama ini.  

Pertengahan bulan April lalu, ketika tim-tim wanita di Eropa melanjutkan laga kualifikasi Piala Dunia Wanita 2027, Garuda Pertiwi turun di FIFA Women’s Series di Ratchaburi yang diikuti tuan rumah Thailand, Rep. Demokratik Kongo (Afrika) dan Kaledonia Baru (Oseania).

Claudia Alexandra Scheunemann dan kawan-kawan berhasil finis di peringkat ketiga setelah di laga play-off perebutan medali perunggu berhasil mengalahkan Kaledonia Baru, 4-2. 

Yolanda menyebut di timnas wanita Indonesia memang ada tren positif yang dibangun. Namun, menurut kiper Garuda Pertiwi antara tahun 2021 sampai 2024 tersebut, lagi-lagi saat Indonesia menanjak, tim-tim negara lain juga pasti berkembang.

“Masih banyak PR yang perlu dibenahi dan lagi-lagi puncaknya adalah ketika kita punya kompetisi berjenjang dan reguler. Tidak hanya di level senior tapi di tingkat junior pun sudah ada,” ucap Yolanda yang kini juga dikenal publik sebagai komentator. 

Wanita kelahiran Yogyakarta, 7 Juni 1998, tersebut menjelaskan bahwa yang diperlukan timnas wanita Indonesia saat ini adalah kemampuan bersaing di level senior.

“Indonesia memang sudah membangun bibit dari bawah tapi ketika usia remaja sampai seniornya kita butuh kompetisi yang sustain. Mengapa? Karena di level internasional yang kita hadapi adalah pemain-pemain senior,” tutur Yolanda. 

Mantan kiper yang pernah memperkuat Tira Persikabo Kartini dan menjadi runner-up di Liga 1 Putri pada 2019 tersebut juga menjelaskan, jika Garuda Pertiwi membawa pemain junior ke ajang internasional, lawan yang dihadapi pasti memiliki level senior.

“Tim nasional wanita Indonesia membutuhkan pemain-pemain senior yang matang, memiliki kemampuan baik, dan bisa kerja sama dalam tim,” ucap Yolanda.

Di ajang FIFA Series Thailand lalu, ada tiga nama pemain diaspora yang masuk dalam 24 nama skuad asuhan pelatih Satoru Mochizuki. Mereka adalah Iris Joska de Rouw (kiper), Emily Julia Frederica Nahon (bek), dan Isa Guusje Warps (penyerang). 

Terkait program naturalisasi yang dilakukan PSSI untuk timnas wanita, seperti di pria, diakui Yolanda memiliki pengaruh positif karena pemain asal Indonesia menjadi lebih kompetitif dan menjadi motivasi untuk bersaing mendapatkan posisi starting XI.

“Tetapi di sisi lain tidak menutup mata jika naturalisasi itu juga bisa mengurangi minat para pemain. Mungkin jadi tidak sedikit yang berpikir: ‘Ah sudah ada naturalisasi ini’. Tetapi naturalisasi seharusnya menjadi motivasi untuk lebih berkembang lagi,” kata Yolanda.

“Harus diakui jika naturalisasi itu memiliki pengaruh besar karena di negara yang mereka tinggali dari level sekolah hingga kuliah sudah memiliki kompetisi yang bagus. Sementara di sini memang kurangnya ada di masalah kompetisi. 

“Mau berlatih sekeras apa pun, mau latihan pagi sampai sore, kalau tidak punya kompetisi, bagaimana pemain bisa mengasah hasil latihan mereka? Itulah kenapa pentingnya para pesepak bola wanita Indonesia ini membutuhkan kompetisi.” 

Yolanda Krismonica saat ini mengaku lebih fokus pada pekerjaannya. Namun, ia mengaku ingin tetap bekerja di lingkungan sepak bola meskipun tidak sebagai pemain. 

Saat disinggung apakah sepak bola wanita di Indonesia bisa menjadi gantungan hidup, Yolanda menjawab diplomatis. 

“Untuk profesional saya rasa masih bisa, tergantung federasinya. Federasinya mau berkembang seperti apa dengan cara seperti apa karena memang isunya akan ada kompetisi di Oktober ini (tahun 2026),” tutur Yolanda.

“Kami menantikan ini bisa menjadi ancang-ancang bagi pemain yang level usia senior, 19 tahun ke atas, mempersiapkan diri untuk kompetisi yang dijanjikan oleh federasi. Jadi artinya bukan hanya federasi yang mempersiapkan diri namun pemainnya juga.”