Jersei Timnas Norwegia untuk Piala Dunia 2026. Foto: TVRI/Grafis/Yusuf
TVRINews - Washington, Amerika Serikat
Aksen salib biru di dada terinspirasi langsung dari bendera Norwegia, jadi elemen visual utama. Motif seni khas Skandinavia disisipkan secara halus dalam warna biru tersebut.
Pembahasan soal taktik, formasi, hingga peluang juara memang mendominasi di tengah hiruk-pikuk persiapan menuju Piala Dunia 2026. Namun bagi sebagian orang terutama pemerhati mode, sepak bola tidak melulu soal strategi di lapangan. Ada elemen lain yang tidak kalah penting: gaya.
GQ Magazine, sebuah majalah lifestyle ternama di Amerika Serikat, melalui editornya, Mahalia Chang, mengungkapkan pandangannya terkait gaya atau mode di Piala Dunia 2026. Menurutnya, Norwegia mungkin bukan unggulan juara, tetapi sudah “memenangi” turnamen dari sisi estetika.
“Saya bahkan tidak terlalu paham soal permainan high press atau istilah off-side,” ujar Chang sambil tertawa. “Tapi kalau soal gaya, saya tahu persis. Dan menurut saya, jersei Norwegia itu yang paling keren di Piala Dunia kali ini.”
Terakhir kali Norwegia tampil di Piala Dunia adalah 1998 di Prancis, jauh sebelum nama-nama seperti Martin Odegaard dan Erling Haaland dikenal dunia. Kini, dengan generasi emas yang juga dihuni talenta seperti Antonio Nusa dan Sander Berge, mereka kembali ke panggung terbesar sepak bola dunia.
Namun menariknya, perhatian Mahalia Chang tidak tertuju pada performa tim. “Jujur saja, saya mungkin cuma akan nonton sambil dukung Australia sampai mereka tersingkir, lalu lanjut nonton Inggris sambil cari alasan buat minum di publik,” kata wanita itu. “Tapi Norwegia? Mereka bikin saya peduli, karena jerseinya.”
Jersei Kandang: Simpel tapi Kuat
Menurut Chang, kekuatan utama jersei kandang Norwegia justru terletak pada kesederhanaannya. Warna merah polos menjadi fondasi utama, tanpa pola berlebihan seperti yang terlihat pada beberapa tim lain.
“Merahnya itu benar-benar merah. Tidak ada motif aneh-aneh. Justru itu yang bikin terasa bersih dan kuat,” ia menjelaskan.
Aksen salib biru yang melintang di dada, terinspirasi langsung dari bendera nasional, menjadi elemen visual utama. Detail kecil berupa motif seni khas Skandinavia (gaya Urnes) disisipkan secara halus di dalam warna biru tersebut.
“Detailnya ada, tapi enggak rumit. Itu yang bikin beda. Tidak terasa seperti pakai poster Canva,” Chang menambahkan.
Jersei Tandang: Aura Viking yang Intimidatif
Jika jersei kandang tampil bersih dan klasik, jersei tandang Norwegia membawa pendekatan yang jauh lebih berani. Desain serba hitam mulai dari dasar, logo, hingga badge menciptakan kesan gelap dan intimidatif.
Terinspirasi dari sosok “Viking Berserkers”, jersei ini disebut-sebut mencerminkan kekuatan dan agresivitas.
“Itu jersei hitamnya, luar biasa. Benar-benar all-black. Bahkan font nama pemainnya terinspirasi rune Nordik kuno. Ketika Erling Haaland yang pakai? Jujur saja, agak seram,” ujarnya.
Dalam pandangan Mahalia Chang, jersei Piala Dunia 2026 secara keseluruhan menghadirkan kualitas yang tidak merata. Beberapa tim dinilai terlalu bermain aman, sementara yang lain justru terlalu eksperimental.
Ia menyoroti beberapa contoh: Kanada yang dianggap kurang meyakinkan, Uruguay dengan desain yang “aneh”, hingga Australia yang mencoba pendekatan gradasi.
Sementara itu, banyak jersei tim lain dinilai terlalu minimalis hingga sulit dibedakan satu sama lain. “Coba bedakan jersei tandang Italia, Wales, Spanyol, Meksiko dari jauh. Mirip semua,” katanya.
Jersei Norwegia Membekas dalam Pikiran
Pada akhirnya, daya tarik jersei Norwegia justru terletak pada kesan yang membekas. “Sejak pertama lihat, saya tidak bisa berhenti memikirkan. Dan mungkin akan terus begitu sampai saya beli dan pakai ke pub,” ujar Chang. Namun, ia juga menyadari konsekuensi dari pilihan tersebut.
“Pasti nanti ada yang tanya saya nama lima pemain Norwegia. Saya cuma bisa jawab Haaland itu menyeramkan, dan saya menonton Pep Guardiola (pelatih Haaland di klub Manchester City) cuma buat lihat dia pakai apa,” katanya sambil tertawa.
Mahalia Chang menutup percakapan dengan pandangan yang lebih luas tentang hubungan antara sepak bola dan gaya hidup.
“Sepak bola modern bukan cuma soal skor. Ini tentang identitas, budaya, dan bagaimana sebuah tim merepresentasikan dirinya, baik di dalam maupun di luar lapangan. Dan Norwegia, kali ini, melakukannya dengan sangat tepat.”