Manajer Arsenal, Mikel Arteta turut kecewa dengan kegagalan Italia ke Piala Dunia 2026. Foto: TVRI/Grafis/Dede Mauladi
TVRINews - London, Inggris
Ruang ganti Arsenal diwarnai dinamika berbeda usai jeda internasional antara duka Calafiori dan kegembiraan Ben White.
Kegagalan tim nasional Italia mengamankan tiket Piala Dunia 2026 meninggalkan duka mendalam bagi bek Arsenal, Riccardo Calafiori. Manajer Mikel Arteta mengakui situasi ini merupakan pukulan besar bagi sang pemain maupun sejarah panjang sepak bola internasional.
Arteta mengungkapkan upayanya untuk membangkitkan kembali mentalitas anak asuhnya tersebut. Ia menilai absennya negara dengan gairah sepak bola sebesar Italia bukan hal yang baik bagi kompetisi global.
Upaya membangkitkan semangat ini dinilai krusial karena dampak kegagalan tersebut tidak hanya dirasakan oleh Calafiori secara individu. Arteta memandang fenomena absennya tim besar seperti Italia sebagai sebuah kehilangan yang melampaui batas ruang ganti klub.
"Kami mencoba membangkitkan semangatnya. Saya pikir ini bukan hanya untuk Richy, saya pikir ini untuk Italia, dan untuk sepak bola," kata Arteta menegaskan empati sang manajer terhadap tragedi olahraga yang menimpa salah satu pilar pertahanannya dikutip Goal.
Arteta juga menyoroti betapa sulitnya persaingan di tingkat dunia untuk sekadar mendapatkan hak tampil di putaran final. Setiap negara pasti berusaha keras untuk bisa ambil bagian dalam ajang bergengsi empat tahunan tersebut.
"Negara seperti mereka, dengan gairah dan sejarah yang begitu besar, namun tidak tampil di Piala Dunia, itu sangat berat dan menurut saya tidak bagus untuk sepak bola," ucapnya.
Kondisi sepak bola Italia saat ini memang sedang berada dalam masa transisi yang cukup pelik. Setelah Gennaro Gattuso resmi menanggalkan jabatannya sebagai pelatih, federasi harus segera menyusun ulang struktur teknis yang sempat runtuh.
Fokus kini dialihkan sepenuhnya pada ajang UEFA Nations League sebagai langkah awal pembangunan kembali martabat tim nasional. Meskipun kursi pelatih masih kosong, sejumlah nama besar mulai muncul ke permukaan sebagai kandidat kuat pengganti Gattuso.
Legenda hidup Italia, Alessandro Del Piero secara terbuka memberikan dukungannya agar Antonio Conte kembali menangani skuad Azzurri. Kehadiran Conte diharapkan mampu memulihkan ketertiban tim serta membina generasi talenta baru yang lebih kompetitif.
Di saat Calafiori bergelut dengan kekecewaan, suasana berbeda justru dirasakan oleh Ben White di kamp tim nasional Inggris. Bek serbabisa tersebut menampilkan performa yang mencuri perhatian di bawah kendali manajer, Thomas Tuchel.
White tetap menunjukkan profesionalisme tinggi meski sempat mendapat cemoohan dari sebagian penonton di Stadion Wembley. Reaksi negatif tersebut muncul saat ia membela The Three Lions dalam laga persahabatan melawan Uruguai dan Jepang.
Arteta sendiri mengaku tidak terlalu mempedulikan suara sumbang dari tribune penonton saat memantau pertandingan tersebut. Ia lebih memilih fokus pada kebahagiaan yang terpancar dari wajah White saat kembali berlatih di London Colney.
"Suara televisinya saya kecilkan jadi saya tidak bisa mendengar [cemoohan]. Saya hanya bisa melihat senyum lebar di wajahnya dan cara dia kembali dari tim nasional," tuturnya.
Kini, fokus Arsenal sepenuhnya tertuju pada perburuan gelar di kompetisi Liga Primer Inggris dan Piala FA. The Gunners harus segera melupakan kepahitan setelah ditumbangkan Manchester City dalam laga final Piala Liga Inggris beberapa waktu lalu.
Kehadiran Viktor Gyokeres yang baru saja mencetak empat gol untuk Swedia menjadi tambahan amunisi berharga di lini serang Arsenal. Arteta berharap momentum positif para pemain yang sukses di jeda internasional dapat menular ke rekan setim lainnya.
"Ketika Anda tidak berhasil memenangkan final tersebut, hal yang harus ditanamkan adalah bagaimana kegagalan ini akan membuat kita lebih kuat untuk dorongan terakhir musim ini," ungkapnya.