Kapten Timnas Korea Selatan, Son Heung-min. Foto: TVRI/Grafis/Dede Mauladi
TVRINews - London, Inggris
Kisah sukses Son Heung-min sebagai pemain sepak bola dunia tidak lepas dari peran sang ayah, Son Woong-jung, yang mendidiknya dengan keras sejak kecil.
Bagi kapten Timnas Korea Selatan, Son Heung-min, kenangan masa kecilnya tidak diwarnai oleh permainan santai seperti anak-anak lain. Justru sebaliknya penuh disiplin keras, latihan tanpa kompromi, dan tuntutan tinggi dari sang ayah, Son Woong-jung.
Salah satu momen paling membekas terjadi saat ia berusia 10 tahun. Kala itu, Son bertengkar dengan kakaknya, Heung-yun. Sang ayah yang juga mantan pesepak bola profesional Korea Selatan, murka dan menjatuhkan hukuman yang tak biasa.
“Ia menyuruh kami melakukan juggling bola selama empat jam. Kami berdua. Setelah sekitar tiga jam, saya melihat tiga bola. Lantai terasa merah (karena mata memerah). Saya sangat lelah. Dan dia sangat marah,” kata Son, dikutip dari The Guardian.
Kisah itu bukan sekadar anekdot ekstrem. Ia menggambarkan bakat alami Son, yang sudah menendang bola sejak bisa berjalan, sekaligus menerapkan fondasi utama kesuksesannya: fokus luar biasa dan kepatuhan terhadap metode ayahnya.
Ada cerita lain yang tak kalah keras. Saat ayahnya melatih tim sekolah, para pemain diminta juggling selama 40 menit. Jika satu pemain menjatuhkan bola, semua harus mengulang dari awal.
“Ketika saya yang menjatuhkan bola, dia membuat kami semua mulai dari awal lagi,” ujar Son. “Teman-teman mengerti, karena saya anaknya. Memang berat. Tapi kalau dipikir sekarang, itu cara yang benar.”
Meski terdengar seperti sosok pelatih tanpa kompromi, Son sama sekali tidak menyimpan kepahitan. Justru sebaliknya, ia penuh rasa hormat.
“Apakah dia pelatih yang keras? Ya. Menakutkan juga,” kata Son, sambil tersenyum. “Tapi dia selalu memikirkan apa yang saya butuhkan. Dia melakukan segalanya untuk saya. Tanpa dia, saya mungkin tidak akan berada di posisi sekarang.”
Air Mata, Tekanan, dan Kebangkitan
Perjalanan Son tidak selalu mulus. Pada Piala Dunia 2018 di Rusia, Korea Selatan tersingkir di fase grup meski sempat mencetak kemenangan bersejarah atas Jerman.
Setelah kalah dari Meksiko, Son bahkan menangis tersedu-sedu saat bertemu Presiden Korea Selatan, Moon Jae-in. Namun, ia bangkit. Ia membawa Korea Selatan menjuarai Asian Games 2018 di Indonesia, hasil yang juga memberinya pembebasan dari wajib militer selama 21 bulan.
Pada level klub bersama Tottenham Hotspur, performanya melonjak drastis setelah pelatih Mauricio Pochettino memberinya waktu istirahat dari jadwal internasional yang padat.
“Pertengahan November 2018 adalah periode yang sangat penting bagi saya,” ujar Son. “Saya banyak bepergian, tidak merasa baik, banyak hal di kepala saya. Keputusan pelatih sangat sempurna, latihan keras di Spurs dan sedikit istirahat.”
Hasilnya? Ia mencetak 14 gol dalam 23 pertandingan, membawanya menjadi salah satu kandidat pemain terbaik musim itu.
Lebih dari Sekadar Pembebasan Wajib Militer
Ketika Korea Selatan menjuarai Asian Games 2018 di Jakarta-Palembang, Indonesia, banyak yang melihatnya sebagai jalan Son menghindari wajib militer. Namun ia menolak pandangan itu.
“Itu turnamen besar, bukan karena saya. Saya bangga dengan negara saya, bangga dengan rekan tim saya,” ia menegaskan. “Seperti yang saya katakan sebelumnya, tujuan saya bukan untuk menghindari wajib militer. Tujuan saya adalah menjadi pesepak bola hebat setiap saat. Ini (Asian Games) hanya bagian dari perjalanan itu.”
Filosofi Hidup: Hormat Lebih Penting daripada Gol
Ada nilai yang terus dipegang Son Heung-min di balik ketajamannya di lapangan: ajaran ayahnya tentang rasa hormat. “Ayah saya bilang, kalau saya punya peluang mencetak gol tapi lawan jatuh dan cedera, saya harus buang bola keluar dan mengecek kondisi lawan,” kata pemain yang kini memperkuat Los Angeles FC itu.
“Kalau kamu pemain bagus tapi tidak tahu menghormati orang lain, kamu bukan siapa-siapa,” ujarnya. Nilai itu membentuk karakter Son yang rendah hati, penuh energi positif, dan jauh dari stereotip pesepak bola modern.
Cinta, Pengorbanan, dan Keputusan Besar
Dalam kehidupan pribadi, Son juga mengikuti nasihat ayahnya, termasuk soal pernikahan. Pemain berusia 33 tahun ini pernah dikabarkan dekat dengan beberapa figur publik Korea seperti Bang Min-ah (anggota girlband Girls' Day) dan aktris sekaligus penyanyi K-pop, Yoo So-young. Namun hingga kini, ia memilih sendiri.
“Ayah saya mengatakan jangan menikah sampai pensiun, dan saya juga setuju. Ketika menikah, yang nomor satu adalah keluarga (istri dan anak), baru kemudian sepak bola,” ujarnya.
“Saya ingin memastikan selama saya bermain di level tertinggi, sepak bola adalah prioritas utama. Anda tidak tahu berapa lama bisa bertahan di level tertinggi. Setelah pensiun, Anda masih punya waktu panjang bersama keluarga,” Son menambahkan.
Bermain untuk Negara, Bukan Sekadar Klub
Bagi Son, sepak bola bukan hanya soal karier, tetapi tanggung jawab. “Ketika kami bermain pukul 3 sore, di Korea sudah tengah malam. Saat Liga Champions jam 8 malam, di sana jam 5 pagi dan mereka tetap menonton,” katanya.
“Saya harus membalas itu. Saya memikul tanggung jawab besar." Ia juga berbicara tentang pengorbanan keluarganya. “Mereka meninggalkan aktivitas dan datang ke sini untuk membantu saya. Saya harus membalasnya.”
Mentalitas Juara
Son mengidolakan Cristiano Ronaldo bukan hanya karena bakat, tetapi etos kerja. “Dia (Ronaldo) bekerja lebih keras daripada bakat yang dia miliki,” kata Son. “Saya melihat banyak pemain berpikir bakat saja cukup. Tapi itu tidak benar.” Sejak muda, Son memang sudah terbiasa dengan latihan tambahan yang melelahkan, bahkan setelah masuk tim utama Hamburger SV di usia 18 tahun.
Kisah Son Heung-min adalah perpaduan antara disiplin ekstrem, pengorbanan keluarga, dan tekad tanpa batas. Di balik senyumnya yang khas, tersimpan mental baja yang ditempa sejak kecil. Dan mungkin, itulah alasan mengapa hingga hari ini ia tetap memilih satu hal di atas segalanya: sepak bola.