Ilustrasi Kota Atlanta Foto: Grafis Dede Mauladi
TVRINews - Atlanta, Amerika Serikat
Atlanta menawarkan kombinasi kemewahan fasilitas dan strategi ekonomi yang solid bagi penggemar sepak bola global.
Detik jam terus berputar mendekati perhelatan Piala Dunia 2026. Atlanta akan memegang peranan krusial karena didapuk menjadi tuan rumah bagi salah satu dari dua laga semifinal ajang prestisius empat tahunan ini.
Atlanta tidak dipilih sekadar karena statusnya sebagai kota besar di wilayah Selatan Amerika. Seiring pertumbuhan sepak bola yang pesat di seantero Amerika Serikat, meledaknya popularitas olahraga ini di Atlanta hanya tinggal menunggu waktu saja. Selama dekade terakhir, kota yang punya julukan Big Peach ini telah mengukuhkan dirinya bukan cuma sebagai pusat perkembangan olahraga, melainkan ibu kota sejati sepak bola Amerika.
Keberhasilan ini sebagian besar berkat kesuksesan waralaba MLS mereka, Atlanta United. Namun, sebenarnya ini adalah momentum yang sudah mampu dicapai oleh kota tersebut sejak bertahun-tahun yang lalu.
Kini, kancah sepak bola di sana tidak hanya sekadar tumbuh, melainkan berkembang dengan sangat pesat. Hal ini akan mencapai puncaknya pada Piala Dunia musim panas mendatang, namun untuk memahami kancah sepak bola Atlanta berarti harus mengapresiasi apa yang telah dilakukan sejauh ini sekaligus mengantisipasi apa yang akan terjadi di bulan-bulan dan tahun-tahun mendatang.
Wilayah Selatan Amerika pertama-tama dan yang utama merupakan teritori American Football. Georgia Tech yang berlokasi di Atlanta serta University of Georgia di dekat Athens masing-masing memiliki empat gelar juara nasional tingkat universitas. Selain menjadi markas tim NFL Atlanta Falcons, Stadion Mercedes-Benz juga menyelenggarakan kompetisi SEC Championship dan Peach Bowl setiap tahunnya.
Di luar American Football, Atlanta Braves merupakan satu-satunya tim Major League Baseball di wilayah Deep South. Di bawah kepemilikan Ted Turner, pertandingan Braves disiarkan secara nasional mulai 1977 dan memperkenalkan wajah kota tersebut ke seluruh penjuru negeri.
Namun, untuk sekian lama, sepak bola tidak pernah benar-benar hadir secara nyata di wilayah tersebut. Atlanta pernah menjadi rumah bagi tim Atlanta Chiefs dalam iterasi pertama North American Soccer League, tetapi gagal membuat berakar kuat.
Semua itu berubah pada 2017 ketika Arthur Blank, mulai membangun stadion baru untuk tim NFL miliknya, Atlanta Falcons. "Mereka melakukan studi kelayakan dan ternyata kita memang memiliki komunitas sepak bola yang sangat termotivasi di Atlanta ini. Dan dia memutuskan, mari kita wujudkan saja," kata Heather Sautter, Wakil Presiden Komunikasi Korporat untuk AMB Sports + Entertainment yang merupakan induk perusahaan Atlanta United dan Falcons, dalam laporan Daily Mail.
Saat Blank sedang mengerjakan pengembangan stadion yang kini bernama Mercedes-Benz tersebut, putranya, Josh, sedang aktif bermain sepak bola di sekolah menengah. Sebelumnya Blank pernah mempertimbangkan untuk mengejar waralaba ekspansi namun membatalkannya pada akhir 2000-an. Setelah berbagai diskusi dan penyesuaian rencana stadion, MLS akhirnya mengumumkan Atlanta United FC sebagai tim ekspansi pada 2014 dengan target mulai bertanding tiga tahun kemudian.
Bangunan stadion itu sendiri merupakan salah satu katedral olahraga termegah yang bisa ditemukan di mana pun di dunia. Di usianya yang baru menginjak sembilan tahun, fasilitas ini tetap menjadi yang tercanggih dan tidak hanya menawarkan kemewahan, tetapi juga keterjangkauan dalam bentuk harga makanan dan minuman termurah di seluruh Amerika Serikat.
Perwakilan stadion menyatakan bangunan tersebut dirancang agar dapat beradaptasi dengan jenis pertandingan yang dimainkan. Mereka mengatakan ketika berada di sini untuk pertandingan American Football, tempat ini tidak boleh terasa seperti stadion sepak bola, namun sebaliknya ketika pertandingan sepak bola berlangsung, suasana pun harus berubah total.
Perwakilan dari Kamar Dagang Metro Atlanta mencatat dalam sejarah bangunan tersebut total jumlah penggemar yang menghadiri pertandingan sepak bola lebih banyak daripada pertandingan American Footbal. Mereka meyakini tren ini tidak akan pernah berbalik kembali ke masa lalu.
Pada hari pertandingan Atlanta United saat tim berada di puncak performanya, mereka mampu mencapai kesatuan atmosfer yang luar biasa. Five Stripes menempati peringkat ke-45 di dunia untuk rata-rata kehadiran penonton di hari pertandingan, satu tingkat di bawah Aston Villa dan mengungguli raksasa dunia seperti Juventus serta Chelsea.
Hingga hari ini, Atlanta United masih memegang rekor kehadiran penonton tertinggi untuk pertandingan final liga MLS. Sebanyak 73.019 orang memadati stadion untuk menyaksikan tim tersebut memenangkan final Piala MLS 2018.
Kesuksesan awal tim ini langsung memikat perhatian sepak bola Amerika sejak laga perdana. Gelar juara Piala MLS tersebut merupakan trofi pertama yang dimenangkan oleh tim olahraga profesional Atlanta sejak kemenangan Braves di World Series 1995.
Berkat dampak instan itulah dukungan berkelanjutan tetap bertahan hingga hari ini. Bahkan di tengah musim terburuk dalam sejarah klub tahun lalu saat Atlanta United finis di posisi 14 dari 15 tim di Wilayah Timur, tim ini masih mencatatkan rata-rata 43.992 penggemar per pertandingan yang berarti hampir 13.000 lebih banyak dari rival terdekat mereka.
Angka tersebut menunjukkan betapa kuatnya dukungan terhadap sepak bola di wilayah Atlanta. Hal inilah yang menjadi alasan mengapa sepak bola diperlakukan sebagai peluang pertumbuhan yang sangat potensial.
"Para penggemar... mereka yang datang hanya ingin mendukung tim pemenang, mereka pasti akan selalu ada di sana," kata direktur olahraga Atlanta United, Chris Henderson.
"Tetapi ada landasan yang sangat kuat dari kelompok penggemar inti yang telah mengikuti pasang surut tim ini dan menurut saya hal itu lebih merupakan koneksi dengan identitas klub serta peran kota ini," Henderson menambahkan.
Selain penduduk lokal di kota paling makmur di Selatan Amerika ini, Atlanta juga menjadi rumah bagi komunitas ekspatriat dari negara-negara Eropa seperti Belgia, Jerman, dan Inggris. Terdapat pula komunitas besar dari Meksiko dan Amerika Tengah, bersama dengan negara sepak bola yang tengah berkembang lainnya seperti Korea Selatan.
"Penting juga untuk menghadirkan infrastruktur yang tepat pada saat itu dan melakukan kerja dasar dengan mendatangi komunitas-komunitas sepak bola untuk mengenal serta memahami apa yang mereka butuhkan dan inginkan," kata Sautter.
"Ini benar-benar merupakan upaya akar rumput untuk mengajak orang-orang tersebut berjalan bersama kami," Sautter melanjutkan.
Melihat gairah terhadap permainan yang terus tumbuh, pemerintah kota dan pihak Atlanta United meresponsnya dengan memperluas kesempatan di seluruh negara bagian Georgia. Di dalam kota, layanan transportasi lokal, MARTA, sedang mengerjakan program "Station Soccer" yang membangun lapangan sepak bola bekerja sama dengan organisasi nirlaba setempat. Lima lapangan telah berhasil dibangun dan lima lainnya sedang dalam proses pengerjaan.
Pihak klub MLS tersebut juga tengah mengerjakan proyek serupa yang bertajuk GA 100 dengan tujuan membangun 100 lapangan sepak bola di seluruh penjuru negara bagian. Sejauh ini, 18 lapangan telah dikonstruksi mulai dari kota Dalton di utara Georgia hingga Brunswick di pesisir Atlantik.
Kemudian, tentu saja ada dua contoh pertumbuhan terbesar lainnya yang sangat menonjol. Pertama adalah markas baru bagi federasi sepak bola AS: Pusat Pelatihan Nasional Sepak Bola AS Arthur M. Blank yang bernilai 250 juta dolar atau sekitar Rp4,24 triliun.
Kompleks luas di atas lahan 200 hektar ini terletak hanya 30 menit ke arah selatan dari pusat kota. Fasilitas ini memiliki 17 permukaan lapangan luar ruangan, ruang dalam ruangan seluas 200.000 kaki persegi, dan mampu menampung seluruh 23 tim nasional yang berada di bawah naungan Federasi Sepak Bola AS (USSF).
Dengan peresmian yang dijadwalkan pada awal Mei, para pejabat di USSF menegaskan pinggiran kota Atlanta adalah pilihan yang sangat jelas untuk membangun basis masa depan mereka.
"Salah satu hal utama adalah Anda harus bisa bermain sepak bola sepanjang tahun. Hal itu mengeliminasi sebagian besar wilayah negara ini dan tentu saja Anda harus berada di dekat bandara utama," ujar CEO USSF, JT Batson.
"Setelah kami memutuskan Atlanta adalah rumah yang tepat, kami memeriksa seluruh area dan kami benar-benar menemukannya di sini," Batson menambahkan.
Terakhir, namun tidak kalah pentingnya, adalah waralaba NWSL (liga wanita) yang telah diberikan kepada Atlanta dan akan mulai bertanding pada 2028. Meskipun tim tersebut belum diberi nama, terdapat keyakinan kuat bahwa begitu segala sesuatunya berjalan, tim ini akan langsung mampu bersaing di level tertinggi.
"Menyadari bahwa kami akan menjadi tim ekspansi, tentu akan ada lebih banyak kesabaran, namun menurut saya ini kembali lagi pada apa yang ingin kita wujudkan dan wakili?" ujar Josh Blank, putra Arthur yang telah mengambil peran kunci dalam mengembangkan tim liga wanita tersebut.
Merujuk pada Atlanta United, Blank mengatakan terkadang memang ada kendala dalam masa pertumbuhan. Namun hal itu juga membuat jenis permainan sepak bola yang disajikan menjadi sangat menarik.
Blank berharap dapat menemukan cara untuk mereplikasi kesuksesan tersebut dengan tim wanita nantinya. "Mudah-mudahan itu berarti kami akan memenangkan banyak pertandingan, namun pada akhirnya kami ingin memainkan gaya permainan yang atraktif."
Semua latar belakang ini, tidak heran jika Atlanta menjadi lokasi yang sempurna untuk menyelenggarakan pertandingan Piala Dunia 2026. Atlanta akan menggelar delapan pertandingan, termasuk laga di babak 32 besar, babak 16 besar, hingga semifinal.
Para penggemar akan menjumpai keramahtamahan khas Selatan yang terkenal serta berbagai fasilitas akomodasi yang melimpah. Tersedia puluhan ribu kamar hotel yang hanya berjarak 15 menit berjalan kaki dari Stadion Mercedes-Benz.
Ini adalah kota yang telah tumbuh bukan hanya untuk mencintai sepak bola, melainkan merangkulnya sepenuhnya sebagai bagian besar dari identitas mereka. Kini dengan Piala Dunia 2026 yang menyisakan kurang dari 70 hari lagi, semua orang di Atlanta bersiap untuk menyambut dunia di kota tempat para pemain beraksi.