TVRINews - Firenze, Italia

Lima hal yang menjadi penyebab Italia gagal ke Piala Dunia 2026, termasuk menurunnya kualitas kompetisi Liga Italia.

Italia gagal ke Piala Dunia untuk ketiga kalinya secara beruntun. Setelah 2018 dan 2022, Piala Dunia 2026 pun tanpa kehadiran Italia. Dari tiga kegagalan tersebut, semuanya karena kalah dalam play-off.

Terakhir, Italia kalah dalam adu penalti dari Bosnia-Herzegovina dalam final play-off Piala Dunia 2026 pada Selasa (31/3/2026) lalu. Ya, tim juara dunia empat kali (1934, 1938, 1982, dan 2006) gagal lagi tampil di Piala Dunia tentu menimbulkan pertanyaan.

Ada apa dengan sepak bola Italia? Setelah Italia meraih gelar Piala Dunia 2006, Italia sudah memperlihatkan tanda-tanda penurunan tersebut. Dalam dua Piala Dunia selanjutnya yaitu Piala Dunia 2010 dan 2014, Italia hanya sampai fase grup atau tidak pernah lolos ke fase knockout.

Dalam fase grup Piala Dunia 2010, Italia tidak pernah menang. Tiga laga, dua kali imbang dan mengalami satu kekalahan. Sedangkan di Piala Dunia 2014, meraih satu kemenangan dan mengalami dua kekalahan, di antaranya kekalahan mengejutkan ketika takluk 0-1 dari Kosta Rika.

Pertandingan menghadapi Uruguai, kalah 0-1 pada 24 Juni 2014 merupakan laga terakhir Italia di Piala Dunia. Kini, Gli Azzurri harus melewatkan empat tahun lagi dengan status sebagai tim yang tidak pernah tampil di Piala Dunia.

Kegagalan ke Piala Dunia 2026 pun memunculkan banyak pertanyaan. Lalu, apa sebenarnya yang menyebabkan Italia gagal ke Piala Dunia? Berikut ini, TVRI menampilkan setidaknya ada lima alasan utama yang menjadi penyebab Italia gagal tampil di Piala Dunia 2026:

1. Tidak Memanfaatkan Kualifikasi dengan Baik

Jika melihat sebab dan akibat, Italia gagal ke Piala Dunia 2026 karena Gli Azzurri tidak mampu memanfaatkan dengan baik laga kualifikasi Piala Dunia 2026. Bukan hanya Piala Dunia tahun ini melainkan juga di edisi Piala Dunia sebelumnya (2018 dan 2022).

Dalamnm kualifikasi Piala Dunia 2026, kekalahan dari Norwegia 0-3 di laga pertama (tandang) dan 1-4 di laga kedua (kandang) membuat Italia hanya berada di posisi kedua Grup I kualifikasi zona Eropa. Dalam delapan pertandingan, Italia meraih enam kemenangan dan dua kekalahan.

Hasil tersebut membuat mereka kembali harus menjalani babak play-off kualifikasi. Italia tidak belajar dari dua Piala Dunia sebelumnya di mana mereka juga harus melalui play-off dan hasilnya gagal.

Pada kualifikasi Piala Dunia 2018, Italia hanya di posisi kedua Grup G di bawah Spanyol yang membuat mereka harus play-off. Hasilnya, Italia gagal setelah kalah 0-1 di laga pertama dan imbang 0-0 di laga kedua lawan Swedia.

Pada kualifikasi Piala Dunia 2022, Italia di posisi kedua Grup C yang membuat mereka harus play-off. Hasilnya, di play-off mereka kalah dari Masedonia Utara. Dari tiga kualifikasi tersebut, jelas Italia memang "sudah terbiasa" dengan jalan yang sulit, namun tidak pernah kapok.

2. Minim Penyerang Berkualitas

Faktor lain dari kegagalan Timnas Italia ke Piala Dunia 2026 tiada lain adalah minimnya striker berkualitas. Ini sudah menjadi rahasia umum, bahkan menjadi topik setiap kali laga-laga internasional datang.

Italia tidak memiliki penyerang dengan kriteria penyerang berkelas bintang yang produktif, dalam usia terbaik, dan bermain di liga yang kompetitif. Cukup melihat dari daftar pencetak gol di Liga Italia 2025-2026 maka akan ditemui tidak ada penyerang lokal.

Yang terlihat adalah Lautaro Martinez (Argentina), penyerang Inter Milan yang untuk sementara memimpin dengan 14 gol. Lalu Anastasios Douvikas (Como), yang berasal dari Yunani dengan 11 gol. Atau Keinan Davis (Inggris), Rasmus Hojlund (Denmark), Nico Paz (Argentina), dan Kenan Yildiz (Turiki) yang masing-masing mencetak 10 gol.

Hanya ada satu penyerang asal Italia yaitu Gianluca Scamacca dengan mengoleksi 8 gol. Ketika Italia juara Piala Dunia 2006, saat itu ada Luca Toni yang menjadi top scorer Liga Italia dengan 31 gol atau Alberto Gillardino dengan 17 gol, termasuk Francesco Totti dengan 15 gol.

3. Menurunnya Kualitas Liga Italia (Seri A)

Liga Italia memang masih sebagai salah satu liga besar di Eropa, bahkan masih disebut-sebut termasuk dalam lima liga top Eropa bersama Inggris, Spanyol, Prancis, dan Jerman. Namun, apakah mereka masih sebagai liga dengan kualitas seperti Inggris atau Spanyol?

Terakhir kali klub asal Italia juara Liga Champions sudah terjadi pada 16 tahun lalu ketika Inter Milan juara pada 2009-2010. Inter Milan memang berhasil ke final pada Liga Champions musim lalu namun di laga final itu, mereka digulung Paris Saint-Germain dengan lima gol tanpa balas (0-5).

Bandingkan di era setelah Italia juara Piala Dunia 2006 ketika AC Milan juara Liga Champions 2006-2007 dengan bintang seperti Alssandro Nesta, Paolo Maldini, Andrea Pirlo, Gennaro Gattuso, atau Filippo Inzaghi.

Liga Italia pernah menjadi liga yang diinginkan sejumlah pemain besar seperti Diego Maradona, Marco van Basten, Ruud Gullit. Bahkan, Kaka (Brasil) meraih gelar Ballon d'Or 2007 ketika dia bermain di AC Milan.

Kini, Italia menjadi destinasi bagi pemain yang telah melampaui masa terbaik. Luka Modric contohnya, yang kini berusia 40 tahun bermain di AC Milan lalu ada Jamie Vardy yang berusia 39 tahun bermain di Cremonese.

4. Regenerasi yang Buruk

Pada Desember 2025 lalu, pelatih Como yaitu Cesc Fabregas, pernah menyatakan bahwa sangat sulit untuk memiliki pemain muda asal Italia untuk klubnya. Bukan karena ketatnya persaingan melainkan karena kualitas para pemain muda ini yang tidak meyakinkan.

Akademi klub-klub Italia tidak menghasilkan cukup pemain yang dapat langsung bermain di Liga Italia. Klub-klub Serie A memprioritaskan pemain veteran asing daripada mempromosikan pemain muda Italia, sehingga mempersempit kesempatan para talenta muda untuk bermain. Ini yang juga memengaruhi kualitas tim nasional Italia.

Mudah untuk melihat di liga negara top lainnya. Di mana Spanyol contohnya memiliki pemain muda seperti Lamine Yamal, Nico Williams, atau pemain lainnya.

Inggris bahkan memiliki begitu banyak talenta muda yang kini sudah siap menjadi bintang dunia seperti Jude Bellingham atau Cole Palmer. Bahkan mudah menemukan untuk menggantikan peran Harry Kane karena The Three Lions punya Ollie Watkins atau Phil Foden.

5. Timnas Bukan yang Utama

Timnas Italia bukan yang Utama cukup terlihat dalam sepak bola Italia. Ada isu bahwa klub Italia sering menolak untuk memajukan jadwal pertandingan sehingga para pemain tim nasional bisa lebih banyak istirahat.

Laga Fiorentina vs Italia Milan salah satunya yang tetap dimainkan pada Minggu malam (22/3/2026) waktu setempat atau hanya beberapa jam ketika kamp Latihan di Coverciano dimulai pada hari Senin.

Di laga tersebut ada Federico Dimarco, Nicolo Barella, atau Francesco Pio Esposito dari Inter Milan dan Moise Kean dari Fiorentina. Setelah laga itu berakhir, mereka langsung ke Coverciano untuk bergabung bersama tim nasional. Pihak Timnas Italia sudah melobi agar laga itu dimajukan namun ditolak.

Timnas Italia juga bukan yang utama karena banyak pelatih top Italia tidak menginginkan menjadi pelatih Timnas Italia. Italia mengangkat Gian Piero Ventura, yang tidak memiliki pengalaman melatih klub besar. Italia pun kalah dari Swedia dalam play-off di 2017 silam.

Lalu ada Roberto Mancini meninggalkan Timnas Italia sebelum Piala Eropa 2024 bergulir untuk menangani Timnas Arab Saudi. Luciano Spalletti menangani Italia namun dipecat setelah kalah dari Norwegia pada tahun lalu.

Italia menawarkan tugas tersebut kepada Claudio Ranieri, namun sang pelatih menolak untuk menggantikannya. Hingga kemudian, Italia menjadikan Gennaro Gattuso sebagai pelatih. Italia memiliki pelatih hebat bahkan Carlo Ancelotti melatih Timnas Brasil, Vincenzo Montella menangani Timnas Turki, lalu ada Fabio Cannavaro di Uzbekistan.