Harga tiket kategori terbaik untuk pertandingan final Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, sungguh luar biasa mahal. (TVRI/Grafis/Dede Mauladi) Foto: TVRI/Grafis/Dede Mauladi
TVRINews - Edinburgh, Skotlandia
Ketika kesempatan mendukung langsung Timnas Skotlandia di Piala Dunia 2026 akhirnya datang, McCahill harus memilih antara dua hal yang ia cintai: sepak bola dan musik.
Robert McCahill berdiri di antara saudaranya Stephen dan sesama penggemar Skotlandia, Darren McConway, di dalam sebuah stadion sepak bola dengan mengenakan kostum Timnas Skotlandia. McCahill sendiri setia menjadi pendukung Skotlandia selama lebih dari 50 tahun.
Seperti banyak penggemar lainnya, ia pun ikut larut dalam euforia setelah tim asuhan Steve Clarke memastikan tiket ke putaran final Piala Dunia untuk pertama kalinya sejak 1998.
Ribuan anggota Tartan Army, julukan suporter Skotlandia, langsung bertekad untuk tidak melewatkan perjalanan ke Amerika Serikat. Tiket pesawat dipesan, hotel diamankan, dan sebagian beruntung berhasil mendapatkan tiket pertandingan.
Namun, perjalanan itu memang tidak pernah murah. Dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah penggemar seperti McCahill mulai menyadari bahwa biaya yang dibutuhkan berada di luar jangkauan mereka.
Setelah kemenangan bersejarah atas Denmark pada November 2025, pria berusia 51 tahun itu teringat janji yang ia buat dengan adiknya setelah Piala Dunia 1998.
“Kami berjanji satu sama lain bahwa saat kami sudah lebih tua, kami akan pergi ke Piala Dunia bersama,” ujarnya dikutip dari BBC.
Mereka tidak pernah membayangkan bahwa harus menunggu lebih dari 25 tahun untuk kembali melihat kesayangan mereka tampil di putaran final Piala Dunia. Ketika kesempatan itu akhirnya datang, McCahill harus memilih antara dua hal yang ia cintai: sepak bola dan musik.
“Saya punya koleksi rekaman yang cukup besar, sekitar 150 piringan hitam,” katanya. “Saya berhasil menjual semuanya dan mengumpulkan sekitar 3.500 poundsterling (sekitar Rp80 juta).”
Namun, setelah memesan tiket pesawat, pertandingan, dan akomodasi, ia menyadari bahwa total biaya perjalanan ke Amerika Serikat bisa mencapai sekitar 7.000 poundsterling (sekitar Rp161 juta), jauh di atas kemampuannya.
“Saya juga mengoleksi sepatu dan jaket Stone Island, dan mungkin saja saya menjualnya untuk membiayai perjalanan ini. Tapi saya berpikir, sampai kapan saya harus menjual semua yang saya miliki hanya untuk perjalanan dua minggu?," ujar McCahill.
“Saya melihat orang-orang di media sosial bilang ini adalah cara Amerika dan kita harus menghormatinya, tapi kenapa saya harus menghormati itu?,” ia menuturkan.
Agen perjalanan Linda Hill dari LAH Travel mengatakan Robert McCahill bukan satu-satunya yang membatalkan rencana berangkat ke Piala Dunia 2026.
“Kami melihat beberapa orang membatalkan karena saat memesan mereka sangat antusias, tetapi ketika harus melunasi pembayaran beberapa minggu lalu, mereka sadar tidak mampu,” katanya.
“Bukan hanya biaya perjalanan, tetapi juga pengeluaran selama di sana,” Linda menambahkan.
Harga tiket dan transportasi juga menjadi sorotan. Tiket termurah untuk laga pembuka Skotlandia melawan Haiti di Boston mencapai 380 dolar AS (sekitar Rp6 juta), sementara yang termahal lebih dari 2.000 dolar AS (sekitar Rp33 juta).
Biaya transportasi lokal pun tidak murah. Kereta ke stadion seharga 80 dolar AS (sekitar Rp1,32 juta), bus resmi 95 dolar AS (sekitar Rp1,5 juta), dan parkir mobil mencapai 175 dolar AS (sekitar Rp2,8 juta).
Presiden Asosiasi Sepak Bola Skotlandia, Mike Mulrainey, mengatakan pihaknya tidak bisa mengatur cara bisnis di Amerika.
“Tugas kami bukan datang ke Amerika dan memberi tahu mereka bagaimana menjalankan bisnis mereka. Tugas kami adalah bagaimana mengurangi beban biaya bagi para penggemar, dan itu sedang kami upayakan,” ujar Mulrainey.
FIFA menyatakan bahwa tiket fase grup dimulai dari 60 dolar AS (Rp1 juta) dan harga bervariasi sesuai permintaan pasar. Mereka juga menegaskan bahwa pendapatan Piala Dunia digunakan kembali untuk pengembangan sepak bola pria, wanita, dan usia muda di seluruh dunia.
Meski demikian, muncul pertanyaan apakah mereka memiliki kewajiban membuat sepak bola tetap terjangkau bagi penggemar biasa.
“Benar,” kata Mulrainey. “Namun, sebagian besar orang akan menonton melalui media, karena memang tidak semua bisa hadir langsung.”

Suporter Skotlandia, The Tartan Army, akan berbondong-bondong mendukung Timnas Skotlandia di Piala Dunia 2026.
Foto: TVRI/Grafis/Yusuf
Ibu Hamil Pilih Tetap Berangkat ke Piala Dunia
Meski begitu, ada juga penggemar Skotlandia lainnya yang rela melakukan apa saja demi hadir di Piala Dunia 2026. Kevin Gall, yang kini bersiap menjadi ayah, tetap merencanakan perjalanan meski pasangannya, Heather McCue, dijadwalkan melahirkan pada 6 Juli 2026.
“Saya sangat bersyukur dia begitu pengertian dan mengizinkan saya pergi ke Piala Dunia saat dia hampir melahirkan!” kata Kevin sambil tersenyum.
Heather pun menanggapi dengan santai, “Saya ini sangat pengertian atau mungkin sudah tidak waras, salah satu dari keduanya.”
Pasangan itu berharap Kevin bisa pulang tepat waktu, karena ia akan mempersingkat perjalanannya setelah pertandingan kedua Skotlandia pada 19 Juni 2026 dan kembali dua minggu sebelum hari kelahiran.