TVRINews - Jakarta

Campbell-Kirk Kawana-Waugh merupakan wasit Piala Dunia 2026, sementara sang istri, Anna-Marie Keighley, berpengalaman sebagai wasit di tiga edisi Piala Dunia Wanita.

Kisah Campbell-Kirk Kawana-Waugh dan Anna-Marie Keighley menghadirkan sudut pandang berbeda dari lapangan sepak bola yang didominasi oleh pemain. Mereka bukan sekadar pasangan. Keduanya adalah wasit FIFA yang sama-sama menapaki panggung internasional, meski di turnamen berbeda. 

Keighley lebih dulu mencicipi panggung besar lewat Piala Dunia Wanita (2015, 2019, dan 2023), Olimpiade, dan berbagai turnamen kelompok umur dunia. 

Sementara Kawana-Waugh yang dikenal sebagai salah satu wasit pria terbaik di Selandia Baru, menyusul dipercaya sebagai wasit di Piala Dunia 2026. Ia juga pernah ditunjuk sebagai wasit cabang sepak bola Olimpiade Paris 2024, Piala Dunia U-17 2023 di Indonesia, dan Piala Dunia U-20.

Keighley menggambarkan perannya sebagai bagian kecil dari sistem besar sepak bola dunia. “Tidak ada jaminan. Kamu hanya perlu terus bekerja keras,” ujarnya dikutip dari New Zealand Football, menegaskan bahwa di level tertinggi, tidak ada jaminan wasit tampil di pertandingan besar.

Ia juga menyoroti peran perempuan di dunia wasit yang terus berkembang. “Kami adalah wasit yang perempuan, bukan wasit perempuan,” kata Keighley, sebuah pernyataan yang menegaskan bahwa kompetensi kini lebih penting daripada label gender.

Sedangkan Kawana-Waugh melihat perjalanan karier mereka sebagai proses bertahap yang penuh target. Saat dipercaya sebagai wasit Olimpiade Paris 2024, ia mengatakan, “Semua ini adalah langkah-langkah menuju, mudah-mudahan, Piala Dunia berikutnya.” Sebuah harapan yang akhirnya jadi kenyataan.

Namun, yang membuat kisah mereka unik bukan hanya karier, melainkan hubungan personal yang berjalan seiring dengan tekanan profesi. Dalam dunia wasit yang menuntut disiplin tinggi, mereka justru menemukan kekuatan satu sama lain.

“Sangat menyenangkan memiliki seseorang yang memahami tuntutan,” kata Kawana-Waugh tentang hubungan mereka. Ia menambahkan bahwa profesi ini penuh tantangan. “Ada banyak suka dan duka menjadi wasit.”

Keighley pun mengakui pentingnya dukungan pasangan dalam kariernya. “Suami saya punya segudang keahlian yang bisa saya manfaatkan,” ujarnya, merujuk pada pengalaman suaminya yang sering membantu menganalisis pertandingan dan memberi masukan teknis.

Hubungan mereka terbentuk dari dunia yang sama, lapangan hijau. Dari sana, mereka tumbuh bersama: berlatih, bepergian, dan terkadang harus “berpencar” karena tugas di lokasi yang berbeda. Namun justru di situlah letak kekuatan mereka. “Senang bisa pergi ke tempat yang sama dan saling mendukung,” kata Keighley.

Kehidupan mereka di balik layar juga tidak kalah menantang. Keighley sempat menggambarkan bagaimana mereka berbagi peran sebagai orang tua sambil tetap menjalani karier internasional. “Kami berpapasan dari waktu ke waktu, bermain tag team,” ujarnya tentang keseharian mereka.

Keighley, yang juga bekerja sebagai guru di Rototuna Senior High, mengakui bahwa kemajuannya tak lepas dari dukungan sang suami.

“Dia sudah menjadi wasit lebih lama dari saya, jadi memiliki pemahaman yang sangat baik tentang cara tim bermain dan taktik mereka,” ujarnya. “Dia punya banyak pengalaman yang bisa saya manfaatkan dalam pertandingan saya. Rasanya seperti memiliki mentor pribadi selama 24 jam.”

Dengan kehidupan yang begitu erat dengan sepak bola, keduanya mengakui sulit untuk benar-benar lepas dari olahraga ini. Namun, mereka berusaha menjaga keseimbangan dalam kehidupan rumah tangga.

“Memang sulit karena kami berdua sangat terlibat, dan Keighley juga melatih tim di sekolahnya. Keluarga saya juga semuanya tentang sepak bola, jadi terkadang rasanya hanya sepak bola, sepak bola, dan sepak bola,” ujar Kawana-Waugh. 

“Tapi kami berusaha memastikan setidaknya satu hari dalam seminggu benar-benar tanpa sepak bola, tidak pergi ke pertandingan atau menontonnya di TV.”

Meski sama-sama terbiasa mengambil keputusan penting di lapangan, Keighley menegaskan bahwa kehidupan rumah tangga mereka tidak berbeda dari pasangan lain.

“Lucu, saya membuat banyak keputusan di lapangan, jadi kadang menyenangkan setelah itu menyerahkan keputusan lain, seperti menentukan menu makan malam,” katanya. “Seperti hubungan pada umumnya, semuanya tentang saling memberi dan berbagi tanggung jawab.”