Ilustrasi Kota New York Foto: TVRI/Grafis/Jovi Arnanda
TVRINews - New York, Amerika Serikat
Fokus utama kota kini memastikan infrastruktur siap menyambut final Piala Dunia pada 19 Juli 2026.
Pemerintah dan Anggota Dewan Kota New York kini tengah menyuarakan kekhawatiran mendalam terkait krisis toilet umum yang kian mendesak. Masalah ini mencuat di tengah persiapan kota tersebut menjadi tuan rumah Piala Dunia 2026 yang kini hanya menyisakan waktu kurang dari dua bulan.
Menjelang laga pembuka di Stadion MetLife pada 13 Juni mendatang, pejabat kota mulai meninjau ulang kesiapan infrastruktur New York dalam menampung ledakan suporter. Mereka mempertanyakan apakah kapasitas kota benar-benar sanggup mengelola kerumunan besar yang akan memadati setiap sudut jalan.
Komite Tuan Rumah New York memprediksi sekitar 1,2 juta orang membanjiri kawasan tersebut selama Piala Dunia 2026 berlangsung. Namun, berdasarkan laporan Gothamist, data saat ini menunjukkan perbandingan yang ironis di mana hanya tersedia satu toilet umum untuk setiap 8.500 penduduk.
Para legislator menilai rasio tersebut sudah sangat menyulitkan warga lokal dalam aktivitas sehari-hari di kondisi normal. Situasi ini diprediksi menjadi bencana saat gelombang suporter Piala Dunia 2026 mulai berdatangan ke sana.
Dewan Kota New York telah mengajukan rancangan undang-undang pekan lalu yang mewajibkan pemerintah menyusun rencana formal perluasan akses toilet sebelum ajang tersebut dimulai. Mereka menyoroti lokasi populer seperti Bryant Park yang sudah sering mengalami antrean panjang, sehingga kehadiran jutaan penggemar sepak bola global dikhawatirkan membuat kondisi tak terkendali.
“Kami sebenarnya memiliki sejumlah toilet umum yang tersebar di taman-taman dan lokasi lainnya di seluruh kota,” kata Komisioner Departemen Layanan Bisnis Kecil Kota New York, Dynishal Gross Menin, kepada Good Day New York.
“Oleh karena itu, kami sedang menyusun peta menyeluruh agar masyarakat mengetahui lokasi pasti untuk mengakses fasilitas tersebut,” Menin melanjutkan.
Menin menambahkan bahwa pemerintah kota berupaya menyeimbangkan kebutuhan infrastruktur dengan jangkauan ekonomi bagi warga. Langkah ini diambil guna memastikan Piala Dunia 2026 memberikan dampak finansial yang merata.
“Kami juga menjalankan program untuk mendukung bisnis kecil selama FIFA berlangsung karena ini adalah peluang sekaligus kewajiban untuk memastikan usaha kecil di Kota New York dipromosikan dan tidak terpinggirkan. Sangat penting bagi kami agar mereka tetap menjadi bagian penting dalam kesuksesan acara ini,” ucapnya.
Kelangkaan toilet hanyalah satu dari sekian banyak rintangan yang membayangi kawasan kota tersebut. Masalah transportasi tetap menjadi fokus utama bagi jutaan penggemar yang diprediksi akan berlalu-lalang antara Manhattan dan stadion di East Rutherford, New Jersey.
Berdasarkan laporan The Independent, mobilitas melalui Stasiun Penn New York diperkirakan menjadi kendala besar selama turnamen. Stasiun yang sering dikritik karena tata letaknya yang membingungkan dan kepadatan penumpang ini merupakan rute utama bagi suporter yang menggunakan New Jersey Transit.
Tekanan pada sistem transportasi ini terjadi berbarengan dengan kebijakan kenaikan tarif signifikan yang diterapkan pejabat New Jersey untuk menambal defisit anggaran. Upaya tersebut menuai kritik pedas karena beban biaya penyelenggaraan dianggap dilimpahkan kepada para penumpang lokal dan juga suporter yang datang berkunjung.
Dengan 48 tim yang bertanding serta laga-laga besar seperti Brasil melawan Maroko dan Panama kontra Inggris, skala turnamen ini diprediksi melampaui kapasitas sistem kereta api yang mulai menua. Kekhawatiran mengenai kegagalan sistem pengangkutan massal pun menjadi topik hangat di kalangan pengamat olahraga dan tata kota.
Pemerintah kota saat ini tengah giat memetakan toilet taman dan merancang undang-undang baru guna membantu bisnis kecil, namun anggota dewan menilai minimnya fasilitas dasar tetaplah sebuah kelalaian fatal. Mereka berargumen penambahan toilet bukan hanya demi Piala Dunia 2026, melainkan juga untuk kesehatan dan martabat warga New York yang membutuhkannya setiap hari.
“Ini adalah persoalan martabat, kebersihan, dan kesehatan masyarakat, sama pentingnya dengan masalah kenyamanan,” ungkap Pemimpin Mayoritas Dewan Kota, Shaun Abreu, kepada Gothamist.
“Tidak ada seorang pun yang harus kebingungan mencari toilet atau memotong agenda harian mereka hanya karena kesulitan menemukan fasilitas tersebut di kota global seperti New York,” Abreu menambahkan.
Kawasan ini akan menjadi pusat perhatian dunia saat menggelar partai final Piala Dunia 2026 pada 19 Juli mendatang. Semua mata akan tertuju pada New York untuk melihat apakah mereka mampu menyelesaikan masalah mendasar ini tepat pada waktunya.