TVRINews - Miami, Amerika Serikat

Untuk laga Piala Dunia 2026 di Miami, pertandingan dijadwalkan tidak akan dimulai lebih awal dari pukul 17.00 waktu setempat, guna mengurangi paparan langsung sinar matahari.

Piala Dunia 2026 dipastikan menjadi tontonan paling panas di Miami, Amerika Serikat, pada musim panas ini, secara harfiah. FIFPro (serikat pemain pro dunia) dan para ahli iklim memperingatkan potensi suhu ekstrem yang dapat memengaruhi kesehatan pemain selama pertandingan yang digelar di Miami Gardens. Khususnya di Hard Rock Stadium, yang dijadwalkan menjadi tuan rumah tujuh laga sepanjang Juni hingga Juli.

Isu ini menjadi sorotan karena kondisi cuaca di Florida Selatan dikenal memiliki kombinasi suhu tinggi dan kelembapan ekstrem. FIFA sendiri mengklaim telah melakukan analisis risiko panas di setiap stadion tuan rumah. Sebagai langkah mitigasi, badan sepak bola dunia itu akan memberlakukan jeda minum wajib di semua pertandingan serta membatasi jadwal laga siang hari di stadion terbuka.

Keputusan tersebut muncul setelah FIFA mendapat kritik terkait standar keselamatan panas pada Piala Dunia Antarklub 2025 lalu. Untuk laga di Miami, pertandingan dijadwalkan tidak akan dimulai lebih awal dari pukul 17.00 waktu setempat, guna mengurangi paparan langsung sinar matahari.

Meski begitu, FIFPRO menilai langkah tersebut masih belum cukup. Mereka mendesak FIFA untuk menurunkan ambang batas suhu yang digunakan sebagai dasar penundaan atau pembatalan pertandingan. 

Saat ini, kebijakan FIFA hanya memperbolehkan penundaan jika suhu Wet-Bulb Globe Temperature (WBGT) mencapai sekitar 90 derajat WBGT, sebuah ukuran yang mempertimbangkan suhu, kelembapan, radiasi matahari, dan angin.

FIFPRO merekomendasikan batas yang lebih rendah, yakni 82 derajat WBGT. Sebagai perbandingan, lembaga keselamatan kerja Amerika Serikat (OSHA) menyatakan bahwa WBGT di atas 77 derajat sudah masuk kategori “risiko tinggi” untuk penyakit terkait panas, terutama bagi individu yang belum terbiasa dengan kondisi tersebut.

Berdasarkan data historis cuaca, FIFPRO memperkirakan suhu WBGT di Miami bisa mencapai 91,4 derajat saat laga perempat final pada 11 Juli 2026 dan pertandingan perebutan tempat ketiga pada 18 Juli 2026. Kondisi ini dinilai berpotensi membahayakan pemain.

Dua peneliti panas ekstrem juga menyuarakan kekhawatiran serupa. Daniel Vecellio, asisten profesor geografi dan geologi di University of Nebraska at Omaha, mengatakan bahwa meski laga malam hari membantu mengurangi paparan sinar matahari, kelembapan tinggi tetap menjadi masalah serius.

“Waktu kick-off yang lebih sore memang membuat saya merasa lebih tenang dibanding pertandingan siang hari, tetapi langkah-langkah pencegahan tetap harus dilakukan untuk memastikan kesehatan dan keselamatan pemain,” ujar Vecellio, dikutip dari Axios Miami, Selasa (21/4/2026).

Sementara itu, Donal Mullan, dosen senior geografi fisik di Queen’s University Belfast, menekankan bahwa iklim tropis Florida Selatan membuat panas ekstrem bertahan sepanjang hari.

“Iklim tropis di Florida Selatan berarti panas ekstrem tetap terasa di Miami sepanjang hari,” Mullan menjelaskan.

Ia juga mengungkapkan bahwa penelitian terbaru menunjukkan suhu WBGT di Miami biasanya masih berada di kisaran 79 derajat WGBT, bahkan hingga pukul 20.00 malam. Kondisi ini menjadi tantangan tambahan, terutama bagi tim-tim dari negara beriklim lebih sejuk seperti Skotlandia.

“Tim-tim tersebut tidak terbiasa dengan kondisi seperti ini, sehingga ada peningkatan risiko terhadap kesejahteraan pemain akibat panas ekstrem,” ia menambahkan.

Dengan kondisi tersebut, perdebatan soal standar keselamatan suhu dipastikan akan terus berlanjut menjelang Piala Dunia 2026. FIFA kini dituntut untuk menemukan keseimbangan antara jadwal pertandingan, keselamatan pemain, dan tuntutan global terhadap turnamen sepak bola terbesar di dunia ini.