TVRINews - Lisbon, Portugal

Pengaruh Ronaldo di ruang ganti Portugal tetap tak tergantikan di Piala Dunia 2026.

Pengamat sepak bola Eropa, Lars Sivertsen, melontarkan kritik tajam kepada tim nasional Portugal bahwa posisi Cristiano Ronaldo di skuad utama sudah seharusnya ditinjau ulang. Di usianya yang telah menginjak 41 tahun, kehadiran sang megabintang justru dinilai berpotensi menjadi beban taktik yang menghambat kolektivitas tim di Piala Dunia 2026.

Selama lebih dari dua dekade, Ronaldo selalu menjadi pilar utama dalam setiap turnamen internasional yang diikuti Portugal. Namun, fakta bahwa ia tidak lagi berada di puncak performa membuat statusnya sebagai pemain inti mulai dipertanyakan oleh banyak pihak.

Ronaldo telah membukukan 143 gol dan 46 asis dari total 226 penampilan. Torehan tersebut mengukuhkan posisinya sebagai pencetak gol internasional terbanyak sepanjang sejarah sepak bola hingga saat ini.

Piala Dunia 2026 merupakan kesempatan terakhir bagi Ronaldo untuk menyamai pencapaian rival abadinya, Lionel Messi, yang merengkuh trofi pada 2022. Turnamen ini akan menjadi panggung penutup bagi perjalanan karier internasionalnya yang luar biasa.

Di Piala Dunia 2026, Portugal tergabung dalam Grup K bersama Kolombia, Republik Demokratik Kongo, dan Uzbekistan. Jalur menuju babak gugur terlihat cukup terbuka lebar bagi pasukan Roberto Martinez tersebut.

Kendati demikian, performa Ronaldo sudah tidak segarang edisi-edisi sebelumnya dan sempat absen membela Portugal sejak tahun lalu. Terakhir kali ia tampil adalah saat menerima kartu merah dalam laga kualifikasi melawan Republik Irlandia pada November silam.

Ronaldo juga melewatkan serangkaian laga persahabatan melawan Meksiko dan Amerika Serikat pada Maret lalu akibat masalah kebugaran. Ia harus menepi sejenak dari lapangan hijau guna menjalani proses pemulihan cedera hamstring pada kaki kanannya.

Sebelum dihantam cedera, penyerang Al-Nassr tersebut sebenarnya sempat menunjukkan tajinya dengan mencetak gol di final UEFA Nations League melawan Spanyol dan Jerman. Ronaldo juga sukses mengoleksi lima gol sepanjang babak kualifikasi Piala Dunia untuk membantu kelolosan Portugal.

Tren negatif justru terlihat dalam dua turnamen besar terakhir di mana ketajamannya merosot drastis secara mengejutkan. Ronaldo gagal mencetak satu pun gol di Euro 2024 dan hanya mampu menyarangkan satu gol lewat titik putih saat melawan Gana di Piala Dunia 2022 Qatar.

Dalam program Trans Europe Express, Lars Sivertsen membedah dilema apakah Ronaldo masih layak masuk dalam daftar sebelas pemain pertama. Ia menyoroti perbedaan signifikan antara kontribusi gol dan peran taktis pemain di lapangan modern.

"Sangat sulit untuk mengabaikan rekor golnya di babak kualifikasi. Sulit juga melupakan performanya di final Nations League saat mencetak gol melawan Spanyol dan Jerman, jadi tidak akurat jika dikatakan dia hanya bisa mencetak gol melawan tim lemah," kata Sivertsen.

"Namun, kita pernah membahas hal ini terkait Vinicius Jr dan Kylian Mbappe di Real Madrid. Jika Anda memiliki pemain yang tidak bekerja keras saat kehilangan bola, pemain tersebut harus benar-benar luar biasa untuk membenarkan kehadirannya di tim."

"Pemain tersebut harus menjadi penentu kemenangan yang dapat diandalkan, seseorang yang mengubah gaya permainan secara total, serta meningkatkan peluang kemenangan Anda secara drastis. Fakta bahwa dia gagal mencetak gol di Euro 2024 dan hanya mencetak satu gol di Qatar memberikan indikasi kuat bahwa masanya di level elite telah berlalu."

"Saya rasa mungkin saja dia akan mencetak gol melawan Republik Demokratik Kongo atau Uzbekistan, tetapi ketika mencapai babak gugur dan menghadapi lawan yang lebih kuat, Anda butuh sepuluh pemain luar yang bekerja keras. Tidak realistis mengharapkan dia melakukan pressing di usianya sekarang, saya tidak yakin dia akan menjadi kekuatan bagi tim."

Meskipun kehadiran Ronaldo tetap menjadi motivasi besar bagi ruang ganti, peran sebagai pemain pengganti dianggap lebih masuk akal. Strategi ini dinilai mampu memaksimalkan sisa energinya tanpa mengganggu keseimbangan transisi permainan tim.

Padahal, secara statistik Ronaldo masih mampu mengungguli rekan-rekan setimnya dan keluar sebagai pencetak gol terbanyak di ajang UEFA Nations League. Kontribusi nyatanya tersebut menjadi faktor kunci yang membawa Portugal mengangkat trofi juara ajang itu.

Trofi Piala Dunia kini menjadi satu-satunya gelar bergengsi yang belum pernah dirasakan oleh Ronaldo. Koleksi gelar internasionalnya sejauh ini baru mencakup trofi Euro 2016 yang diraih dengan dramatis di Prancis.

Di sisi lain, generasi baru talenta Portugal mulai menunjukkan taji dengan performa gemilang di liga-liga top Eropa. Nama-nama seperti Rafael Leao dan Francisco Conceicao kini tengah berada dalam bentuk permainan terbaiknya di Serie A.

Kedalaman skuad Portugal di sektor penyerangan juga makin menakutkan dengan hadirnya pemain-pemain berkualitas tinggi lainnya. Roberto Martinez memiliki opsi melimpah seperti Pedro Neto dari Chelsea dan ujung tombak PSG, Goncalo Ramos.

Joao Felix yang bermain bersama Ronaldo di Al-Nassr juga menjadi alternatif menjanjikan bagi lini depan Portugal musim ini. Felix mencatatkan 16 gol di Liga Pro Saudi, sementara Ronaldo yang meraih enam Ballon d'Or telah membukukan 24 gol.