Charles De Ketelaere bisa menjadi pemain kunci Belgia di Piala Dunia 2026. Foto: TVRI/Grafis/Jovi Arnanda
TVRINews - Brussel, Belgia
Transformasi taktis Belgia kini berpusat pada dinamisme, meninggalkan ketergantungan pada individu bintang masa lalu.
Runtuhnya ‘Generasi Emas’ memicu perombakan besar yang memang dibutuhkan tim nasional Belgia. Meski beberapa pemain senior masih bertahan, gelombang talenta baru siap memimpin Belgia memasuki era anyar termasuk bintang Atalanta, Charles De Ketelaere.
De Ketelaere pertama kali mencuri perhatian pada musim 2019/20 saat melakoni debut di Liga Champions sebagai pemain pengganti saat Club Brugge menghadapi Paris Saint-Germain (PSG). Ia kemudian membantu klub tersebut meraih gelar juara liga tiga musim berturut-turut sebelum merampungkan kepindahan senilai 35 juta euro atau sekitar Rp595 miliar ke AC Milan pada Agustus 2022.
Sayangnya, De Ketelaere gagal memenuhi ekspektasi di AC Milan setelah hanya mencatatkan sembilan kali menjadi starter di liga. Atalanta menawarkan jalan keluar pada musim panas berikutnya dan sejak saat itu ia tidak pernah menoleh ke belakang.
Peran krusial dimainkan De Ketelaere saat Atalanta menjuarai Liga Europa 2023/24 dan kini telah menjadi pilar penting di skuad Belgia. Melihat situasi tersebut menarik untuk mengulas mengapa pemain berusia 25 tahun ini bisa menjadi pembeda bagi negaranya dalam Piala Dunia 2026 yang digelar 11 Juni hingga 19 Juli mendatang.
Setelah meninggalkan Club Brugge, De Ketelaere gagal memaksakan diri dalam sistem AC Milan yang menuntut hasil instan sehingga kepercayaan dirinya menurun drastis. Masa-masa mengecewakan di Rossoneri sempat memicu keraguan apakah ia mampu bersaing di level tertinggi, namun kepindahannya ke Atalanta pada 2023 berhasil membuktikan bahwa para peragu itu salah.
Sistem taktis Atalanta mengutamakan pergerakan cepat, fleksibilitas, dan pertukaran posisi yang sangat sesuai dengan atribut permainan De Ketelaere. Mantan pelatih Gian Piero Gasperini membantu ia menemukan bentuk permainan terbaiknya dan tren positif tersebut terus berlanjut di bawah arahan Raffaele Palladino.
Meskipun produktivitas gol dan asisnya sedikit menurun musim ini, De Ketelaere meyakini kontribusinya terhadap performa tim secara keseluruhan justru jauh lebih meningkat. Oleh karena itu, ia merasa kondisinya baik-baik saja dengan penurunan statistik individualnya.
"Saya mungkin mencetak gol sedikit lebih sedikit dari musim lalu, tetapi saya benar-benar merasa bermain jauh lebih baik," ungkap De Ketelaere dalam sebuah kesempatan.
"Kedengarannya mungkin kontradiktif, tetapi saya merasa jauh lebih penting bagi tim saat ini. Saya tetap tidak menyesali kepindahan dari Club Brugge ke Milan meski mungkin saat itu saya seharusnya punya kepercayaan diri lebih besar," De Ketelaere menambahkan.
Gaya bermain Atalanta diakuinya sangat membantu proses perkembangan kariernya hingga saat ini. "Saya pikir kualitas saya paling menonjol dalam formasi 3-4-3 atau 3-5-2, dan saya sangat bahagia di Atalanta karena terkadang Anda harus menghargai apa yang Anda miliki."
Belgia berpeluang besar memetik keuntungan dari kebangkitan De Ketelaere musim panas ini karena mampu menghadirkan kontrol sekaligus aspek kejutan dalam struktur serangan. The Red Devils saat ini sengaja diubah dari hierarki lama yang mendefinisikan masa kejayaan mereka demi menerapkan gaya main yang lebih dinamis.
Keberhasilan meraih posisi ketiga di Piala Dunia 2018 Rusia sempat menciptakan tolok ukur tinggi yang gagal disamai oleh skuad Belgia berikutnya di turnamen besar. Kegagalan di fase grup empat tahun kemudian di Qatar menjadi puncak kekecewaan yang mempercepat pensiunnya sebagian besar anggota generasi tersebut.
Pelatih Rudi Garcia merespons hal ini dengan mengubah identitas taktis yang lebih mengutamakan kecepatan transisi dan memberikan kebebasan bagi para pemain kreatif dalam fase menyerang. Kelolosan ke Piala Dunia 2026 membuktikan efektivitas perubahan tersebut setelah Belgia memuncaki grup mereka dengan rekor tak terkalahkan.
Kevin De Bruyne tetap menjadi pengatur serangan sementara Jeremy Doku menyuntikkan kecepatan di sisi sayap. Para pemain baru pun telah beradaptasi dengan mulus ke dalam sistem yang dirancang untuk memaksimalkan kerja sama tim.
Peran De Ketelaere berbeda dari para pendahulunya karena mampu meningkatkan kualitas penciptaan peluang sekaligus memberikan soliditas saat tim berada di bawah tekanan. Kemampuannya menciptakan ruang dan menyambung alur serangan membuatnya menjadi sosok sentral dalam tim yang kini mengutamakan kolektivitas daripada sekadar kebintangan individu.
Pertandingan Grup G Piala Dunia 2026 melawan Mesir, Iran, dan Selandia Baru akan menuntut disiplin taktis yang sangat tinggi. Belgia harus mendominasi sejak awal dan mengonversi penguasaan bola menjadi gol, dengan mengandalkan performa De Ketelaere akan menentukan apakah generasi baru ini bisa menjadi penantang gelar yang sesungguhnya.