Ilustrasi Kota Houston Foto: Grafis Jovi Arnanda
TVRINews - Houston, Amerika Serikat
Selain infrastruktur, komitmen Houston terhadap investasi jangka panjang seperti ruang hijau dan pendidikan menjadi nilai plus.
Kurang dari dua bulan menjelang dimulainya Piala Dunia 2026, delegasi FIFA mengunjungi Houston untuk memberikan pengarahan final mengenai persiapan. Otoritas sepak bola dunia itu menyatakan bahwa kota ini merupakan salah satu kandidat tuan rumah paling unggul dibandingkan kota penyelenggara lainnya.
Chief Operating Officer (COO) Piala Dunia, Heimo Schirgi, memberikan penilaian yang sangat tinggi. Ia merasa senang melihat Houston yang sudah siap untuk menggelar Piala Dunia 2026 yang dimulai 11 Juni hingga 19 Juli mendatang.
Schirgi menyebut keberhasilan ini bukan sesuatu yang terjadi secara tiba-tiba. Ia mengatakan merupakan hasil dari proses panjang yang telah dibangun bersama otoritas lokal selama bertahun-tahun.
"Houston, menurut saya, adalah salah satu stadion yang paling siap, tetapi juga kota untuk memainkan Piala Dunia," kata Schirgi saat memuji kesiapan infrastruktur setempat dikutip Houston Public Media.
"Kami telah bekerja sama selama bertahun-tahun, dan saya pikir kita melihat buah dari semua kerja keras kita di sini hari ini," Schirgi melanjutkan dengan penuh optimisme.
Bersama Amy Hopfinger selaku Chief Strategy and Planning Officer turnamen, Schirgi melakukan rangkaian pertemuan dengan para pemangku kepentingan utama di Houston. Mereka berdiskusi dengan Wali Kota John Whitmire, anggota Pengadilan Komisaris Harris County, pejabat NRG Park, hingga jajaran otoritas transportasi terkait persiapan final.
Berbicara secara langsung di hadapan pengadilan komisaris, Schirgi kembali melontarkan pernyataan yang mempertegas posisi Houston di mata FIFA saat ini. Ia memastikan seluruh elemen kota telah berada di jalur yang benar dan siap untuk Piala Dunia 2026.
"Piala Dunia akan datang. Ini adalah platform raksasa untuk apa pun yang Anda inginkan. Ini sudah ada di sini. Dan saya pikir kalian telah memaksimalkan kesempatan tersebut," ucapnya.
Terkait kondisi fisik stadion, Schirgi menyoroti satu hal teknis terakhir yang sedang dalam proses penyelesaian oleh pihak pengelola. Kini yang masih kurang di stadion tersebut adalah rumput lapangan yang dalam waktu dekat bakal selesai dikerjakan.
Proses pemasangan rumput tersebut akan dilakukan setelah FIFA mengambil alih kendali penuh atas operasional stadion mulai awal bulan depan. Maka dari itu untuk sekarang pihak pengelola sedang mempercepat pengerjaan tempat tersebut.
Hopfinger turut memberikan pujian khusus terhadap rekam jejak Houston yang sudah sangat berpengalaman dalam menyelenggarakan berbagai kegiatan berskala masif. Ia meyakini Houston memiliki mentalitas dan kapabilitas yang kuat dalam menangani tekanan serta kebutuhan logistik acara internasional sebesar Piala Dunia.
"Houston tahu acara besar. Houston melakukan acara besar. Ada banyak kepastian jika menyangkut Houston," ujar Hopfinger mengenai keandalan sistem operasional di kota tersebut.
"Ini bukan seperti menciptakan kembali roda bagi Houston. Ini tentang mengambil apa yang sudah ada dan memastikannya siap untuk Piala Dunia," Hopfinger menambahkan.
Selain persiapan fisik, aspek atmosfer internasional juga menjadi perhatian khusus guna menyambut jutaan penggemar sepak bola dari seluruh penjuru dunia. "Menambahkan nuansa internasional ke dalamnya, menambahkan nuansa Piala Dunia ke dalamnya," ungkap Hopfinger mengenai detail kecil yang akan menyempurnakan pengalaman para suporter nantinya.
Namun, persiapan ini sempat dibayangi isu kontroversial terkait regulasi kepolisian mengenai imigrasi yang memicu ketegangan antara pemerintah kota dan pemimpin negara bagian. CEO Komite Tuan Rumah, Chris Canetti, menanggapi situasi ini dengan menyatakan diskusi tersebut berada di luar kendali pihak penyelenggara.
Canetti mengaku adanya ketidakpastian namun tetap menaruh harapan besar agar permasalahan tersebut dapat segera menemukan titik temu yang menguntungkan semua pihak. "Sangat disayangkan, diskusi itu berada di luar kendali kami, tetapi semoga semuanya berakhir dengan cara yang benar bagi kota ini," tuturnya.
Setiap kota tuan rumah diwajibkan oleh FIFA untuk menyerahkan rencana hak asasi manusia yang mencakup pencegahan perdagangan orang, masalah ketenagakerjaan, hingga diskriminasi. Terkait hal tersebut, Hopfinger memberikan kebebasan bagi setiap kota untuk memublikasikan dokumen rencana tersebut secara terbuka kepada masyarakat luas.
"Kami menyerahkannya kepada kota-kota untuk menampilkannya, untuk memasangnya," ujar Hopfinger menanggapi kebijakan transparansi yang diambil oleh pemerintah kota Houston tersebut.
"Houston menjadikan hak asasi manusia sebagai bagian dari penawaran mereka sejak awal, serta upaya komite tuan rumah mereka sejak dini," Hopfinger memberikan pengakuan.
Selain infrastruktur olahraga, delegasi FIFA memuji upaya Houston dalam melakukan penggalangan dana untuk investasi jangka panjang bagi kesejahteraan masyarakat kota. Investasi tersebut mencakup pembaruan jalur pejalan kaki, inisiatif transportasi massal, pendidikan, hingga pengembangan ruang terbuka hijau yang akan menjadi warisan berharga selepas Piala Dunia 2026.
Terakhir, Schirgi memberikan pujian atas rencana transportasi dari METRO Harris County yang dinilai sangat bijaksana dan mampu memenuhi kebutuhan mobilitas penggemar mancanegara. "Kami selalu menekankan pentingnya menyediakan transportasi umum, karena penggemar yang berkunjung tidak memiliki sarana transportasi untuk sampai ke stadion dengan cara lain," tegas Schirgi.
Rencana integrasi transportasi publik ini dianggap sebagai solusi paling efektif untuk mencegah terjadinya kemacetan parah di sekitar lokasi pertandingan utama nantinya. "Dan menurut saya, setiap penyelenggara acara berkepentingan untuk mencoba meminimalkan kemacetan di sekitar lokasi, dan upaya kolaboratif ini akan memberikan dampak yang besar," tutup Schirgi.