Piala Dunia 2026 bukan ajang bergengsi terakhir yang dimainkan Granit Xhaka bersama Swis. Foto: TVRI/Grafis/Jovi Arnanda
TVRINews - Bern, Swis
Xhaka, yang memegang rekor 144 penampilan, dipastikan tetap menjadi pilar utama Swis dalam gelaran Piala Dunia mendatang.
Musim 2025/26 menandai kembalinya Sunderland ke kasta tertinggi Liga Primer Inggris untuk pertama kalinya sejak 2016/17. Di bawah arahan Regis Le Bris, The Black Cats secara senyap telah membangun kekuatan yang patut diperhitungkan di Stadion of Light.
Sunderland tercatat berhasil memenangkan tiga dari lima pertandingan terakhir dengan produktivitas gol yang cukup baik. Pertahanan mereka pun tampil sangat solid dengan hanya kebobolan tiga gol, yang berarti mereka mencatatkan rata-rata kebobolan hanya 0,6 gol per laga.
Tren positif tersebut mencakup kemenangan tipis namun berharga 2-1 dalam derbi melawan Newcastle United pada 22 Maret silam. Selain itu, kemenangan 1-0 atas Tottenham Hotspur pada 12 April lalu semakin menebalkan rasa percaya diri publik Wearside.
Di pusat kebangkitan ini, ada sosok kapten, Granit Xhaka yang tampaknya sama sekali belum berniat menurunkan level permainan atau hengkang ke klub lain. Pemain Swis tersebut bergabung dengan Sunderland pada 30 Juli 2025 lewat kontrak berdurasi tiga tahun dengan biaya transfer senilai £13 juta atau sekitar Rp260 miliar.
Performa apiknya dengan cepat menjadi buah bibir di luar Wearside hingga memicu ketertarikan klub besar Eropa. Meskipun Juventus dikabarkan sempat menghubungi perwakilannya pada November lalu, raksasa Serie A tersebut akhirnya menyadari bahwa pemain berusia 33 tahun itu berkomitmen penuh untuk tetap bertahan.
Pelatih Timnas Swis, Murat Yakin, baru-baru ini turut menanggapi rumor mengenai masa depan Xhaka di kancah internasional. Yakin menegaskan tidak membayangkan anak asuhnya itu akan pensiun selama kondisi fisiknya tetap bugar.
Yakin juga mengonfirmasi Xhaka masih berencana membela Swis jauh setelah Piala Dunia 2026 berakhir. Menurutnya, sang pemain hanya perlu menjaga kebugaran dan ketajaman untuk terus bersaing di level tertinggi.
“Tidak, sama sekali tidak. Saya tidak bisa membayangkannya. Selama kebugarannya seperti ini, dia akan bermain selama mungkin,” ungkap Yakin kepada Blue Win.
Xhaka merupakan pemegang rekor penampilan terbanyak sepanjang sejarah Swis. Sejak debut pada 2011, ia telah mengoleksi 144 laga dan tampil dalam 12 pertandingan di tiga edisi Piala Dunia yang berbeda.
Setelah sempat absen membela Sunderland dalam lima laga beruntun akibat cedera pergelangan kaki, Xhaka kembali merumput saat Swis melawan Jerman pada Maret lalu. Ia kemudian tampil penuh selama 90 menit saat membungkam Tottenham Hotspur, sekaligus menepis segala keraguan mengenai kondisi fisiknya.
Tentu ada kekhawatiran mengandalkan Xhaka yang harus membagi fokus antara klub dan negara adalah sebuah perjudian. Situasi ini cukup beralasan, apalagi Yakin sempat mengaku anak asuhnya tersebut merasakan beban jadwal yang sangat berat sebelum laga persahabatan melawan Norwegia.
Namun, realitanya Sunderland mendapatkan keuntungan besar dengan memiliki pemain sekaliber Xhaka di dalam skuad. Pengalamannya sangat krusial bagi ambisi Swis di Piala Dunia musim panas ini, yang digelar di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada.
Motivasi besar Xhaka memimpin klub dan negaranya di turnamen besar menciptakan energi positif bagi rekan-rekan setimnya di ruang ganti. Dukungan publik dari Yakin mengenai kebugaran Xhaka juga menjadi sinyal pendukung Sunderland bahwa sang gelandang tidak akan bermain setengah hati.
Selama Le Bris mampu mengelola menit bermainnya dengan cermat di sisa musim ini, Sunderland dipastikan memiliki salah satu gelandang paling berpengalaman di Eropa. Xhaka saat ini sedang berada di puncak performanya dan sama sekali belum menunjukkan tanda-tanda akan meredup termasuk sehabis Piala Dunia 2026.