TVRINews - London, Inggris

Serial Twenty Twenty Six yang tayang di BBC menggambarkan persiapan turnamen mirip Piala Dunia 2026. Dengan 48 tim dan 16 kota tuan rumah, kompleksitas organisasi jadi sumber komedi utama.

Serial mockumentary (film yang dibuat seperti dokumenter tapi sebenarnya fiksi dan digunakan untuk komedi atau satir) terbaru berjudul Twenty Twenty Six resmi tayang di BBC pada April 2026. Serial ini menghadirkan kembali karakter ikonik Ian Fletcher yang diperankan oleh Hugh Bonneville. Setelah sukses lewat Twenty Twelve dan W1A, Fletcher kini kembali dengan peran baru sebagai Director of Integrity dalam sebuah turnamen sepak bola global berskala besar.

Serial ini secara satir menggambarkan persiapan turnamen yang sangat mirip dengan Piala Dunia 2026 yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Dengan 48 tim dan 16 kota tuan rumah, kompleksitas organisasi menjadi sumber komedi utama. Fletcher, seperti biasa, tampil tenang namun sering kali tidak menyadari kekacauan di sekitarnya.

Dalam salah satu pernyataannya, Fletcher mengungkapkan, “Saya sangat senang dengan peluang bergabung bersama tim pengawas di Miami untuk acara unik ini. Dan dalam peran integritas, ini adalah kesempatan langka untuk menetapkan tujuan sendiri lalu mencapainya di panggung global,” katanya dikutip dari BBC.

Dalam cerita, Fletcher memimpin tim yang penuh karakter eksentrik. Berbagai masalah muncul, mulai dari isu lingkungan, suhu ekstrem, hingga kebijakan aneh yang tidak kunjung terselesaikan. Gaya komunikasi yang canggung dan birokrasi yang berbelit membuat situasi semakin kacau, menghadirkan humor khas mockumentary Inggris.

Selain Bonneville, Hugh Skinner kembali sebagai Will Humphries, asisten pribadi Fletcher yang kikuk. Kehadiran karakter baru seperti Alexis Michalik, Chelsey Crisp, dan Paulo Costanzo menambah warna dalam dinamika tim yang penuh benturan budaya dan kepribadian.

Kreator serial, John Morton, menegaskan bahwa Twenty Twenty Six bukan sekadar cerita tentang sepak bola. Ia mengatakan, “Ini tentang mencoba mengatur sesuatu—bisa saja pesta desa atau pertemuan besar—dan melihat bagaimana semuanya bisa berjalan tidak sesuai rencana.” Dengan latar turnamen global, skala kekacauan pun menjadi jauh lebih besar dan kompleks.

Sementara itu, Bonneville mengakui tantangan besar saat membintangi serial ini. “Ini adalah pengalaman televisi paling menyakitkan yang pernah saya jalani,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa dialog dalam serial ini sangat sulit karena penuh jeda dan susunan kalimat yang tidak biasa. “Perbedaan antara ‘ya, tapi’ dan ‘tapi, ya’ itu sangat berarti,” ia menambahkan.

Serial ini juga menyentuh isu-isu seperti perubahan iklim, tekanan politik, dan dinamika media sosial, meski tetap dikemas ringan. Morton menyebut pendekatannya sebagai tidak terlalu gelap, melainkan “lebih bernuansa,” sehingga tetap menghibur tanpa kehilangan relevansi.

Dengan gaya mockumentary yang tajam dan penuh kejanggalan realistis, Twenty Twenty Six menawarkan komedi satir cerdas tentang dunia kerja modern dan tantangan mengelola acara global, menjadikannya tontonan yang segar sekaligus menggelitik.