Miroslav Koubek, menjawab tantangan meloloskan Rep. Ceko ke Piala Dunia 2026 melalui play-off. Foto: TVRI/Grafis/Jovi Arnanda
TVRINews - Praha, Republik Ceko
Miroslav Koubek datang, Rep. Ceko tuntaskan dahaga selama dua dekade.
Republik Ceko kembali ke Piala Dunia untuk pertama kali dalam dua dasawarsa. Keberhasilan itu tak lepas dari penanganan Miroslav Koubek dalam tempo lumayan singkat.
Rep. Ceko memenangi dua pertandingan terakhir di kualifikasi Piala Dunia 2026 pada November lalu. Namun, tim berjulukan Repre ini harus melakoni play-off empat bulan kemudian karena hanya finis sebagai runner-up Grup L kualifikasi, cukup jauh di bawah Kroasia.
Pada Desember, Federasi sepak bola Ceko, FACR, memutuskan untuk mencantumkan nama Miroslav Koubek sebagai pelatih baru. Ikatan sementara pelatih interim Jaroslav Kostl diputus.
Koubek mesti membenahi tim yang tampak limbung bahkan sebelum Ivan Hasek, yang digantikan Kostl, hengkang. Dua laga play-off menjadi ujian pertama, dan boleh jadi terberat selama karier, buat Koubek.
CV Lokal
Penunjukan Koubek akan mudah memunculkan keheranan mengingat rekam jejaknya tidak terlalu impresif. Mantan kiper yang kini berusia 74 tahun itu terbilang tidak pernah menukangi tim-tim besar di luar Ceko.
Selain itu, masa kepelatihan Koubek di sebuah tim tergolong singkat. Hanya klub pertamanya, Kladno, yang ia pegang selama lima tahun. Selebihnya, deretan tim, semuanya klub kecuali Ceko U-19, hanya ia tangani tidak lebih dari tiga tahun.
Di Kladno, nama Koubek mulai menyita perhatian lokal. Eks kiper Kladno ini membawa klub tersebut menjuarai divisi 2 Liga Ceko pada 2005/2006. Kladno tampil di divisi 1 untuk pertama kali sejak 1970. Catatan apik mantan pemain Sparta Praha ini adalah gelar liga dan Piala Super Ceko 2015 untuk Viktoria Plzen.
Di usia yang tidak lagi muda, bahkan pada 2023 sempat menjadi pelatih tertua di Liga Ceko, Koubek dipercaya menukangi Timnas Ceko yang mesti mewujudkan impian ke Piala Dunia 2026 melalui play-off. Manajer timnas, Pavel Nedved, menyatakan bahwa Koubek adalah pilihan pertama meski sempat terbetik kabar bahwa FACR mendekati sosok-sosok lain seperti Slaven Bilic (Kroasia).
Tugas pertama Koubek adalah mendamaikan tim dengan para pendukung. Setelah menghadapi Gibraltar, para pemain disorot karena menolak berterima kasih kepada para fan yang datang. Salah satu akibat dari kritik itu adalah mundurnya Kostl.
"Tim ini bukan sedang kacau. Tidak ada masalah fundamental di antara para pemain. Kami tahu anak-anak melakukan kesalahan dan bersikap buruk di hadapan para pendukung, tapi kami harus melupakannya. Ini adalah anak-anak muda yang tidak selalu menilai secara tepat konsekuensi dari tindakan mereka. Maka, kami meminta para suporter untuk memaafkan kami. Kami harus mengembalikan semangat," ucap Koubek dikutip dari eurofotbal.cz.
Disiplin tapi Lentur Juga
Tugas sangat berat bagi Koubek tak ayal dua laga pada pengujung Maret. Tomas Soucek dkk. mesti memanfaatkan status sebagai tuan rumah play-off Eropa Jalur D.
Kegugupan sempat menyergap Ceko di semifinal yang diadakan di Fortuna Arena. Rep. Irlandia unggul dua gol sampai menit ke-23. Namun, Patrik Schick dan Ladislav Krejci bisa memastikan hasil imbang sampai 120 menit. Repre dapat menjaga ketenangan untuk unggul dalam adu penalti.
Jalan hampir serupa terlihat lima hari berselang, 31 Maret. Menjamu Denmark di Stadion Letna, Ceko tertinggal lebih dulu. Pavel Sulc menyamakan skor, dan Krejci sempat membalikkan kedudukan saat perpanjangan waktu sebelum disamakan lawan. Ceko lagi-lagi mampu menjaga ketenangan dalam adu penalti untuk bisa kembali ke Piala Dunia setelah 20 tahun absen.
"Ruang untuk berkembang dalam kerangka berpikir," ujar Koubek mengenai prioritasnya bersama Ceko dalam interviu dengan situs FIFA.
"Secara profesional, saya menempatkan banyak tekanan pada organisasi permainan yang baik dan aspek-aspek teknis. Itulah yang saya usahakan sejak awal. Mereka melihat sendiri bahwa ketenangan mental sudah ada dan kami dapat menunjukkannya. Ini jelas merupakan penguatan besar bagi pekerjaan kami di masa depan," lanjut Koubek.
Secara teknis, Koubek telah memperlihatkan kapasitasnya meracik taktik. Penekanan sang pelatih gaek pada kedisiplinan dan kekompakan terbukti mampu memberikan kesuksesan di saat yang tepat. Niatnya menghadirkan identitas pada tim Repre tidak lantas menghilangkan kelenturan taktis tergantung lawan yang dihadapi.
Pilihan Koubek pada formasi 3-4-3 memberikan kemapanan sekaligus fleksibilitas tersebut. Dua penyerang pengapit di depan bisa berada di belakang ujung tombak untuk menambah koneksi dengan lini tengah. Perubahan tersebut terlihat di dua laga play-off.
Ceko sudah tiba di putaran final. Tim yang juga berjulukan Narod'ak (bermakna Timnas) ini tergabung di Grup A bersama tuan rumah Meksiko, Korea Selatan, dan Afrika Selatan.
Penanganan Koubek berpotensi menghadirkan kejutan seperti halnya di play-off lalu. Perpaduan semangat dan kedisiplinan sangat mungkin mengirim Narod'ak ke fase gugur. Para suporter tentu berharap muncul lagi generasi yang bisa bersanding dengan nama-nama seperti Nedved, Patrik Berger, Karel Poborsky, Petr Cech, Tomas Rosicky, Jan Koller, Milan Baros, Vladimir Smicer, Marek Jankulovski, dan lain-lain.