Arab Saudi secara mengejutkan mengalahkan Argentina yang unggul lebih dulu di fase grup Piala Dunia 2022. Foto: TVRI/Grafis/Jovi Arnanda
TVRINews - Zurich, Swis
Parade kejutan bagian kedua, dari petaka di stadion raksasa sampai pukulan yang membangunkan raksasa.
Nantikan kejutan dari Piala Dunia 2026 atau yang selanjutnya. Turnamen ini senantiasa menjanjikan hasil-hasil mencengangkan seperti di edisi-edisi sebelumnya.
Setelah delapan laga pertama yang mengagetkan karena hasil tak terduga alias di luar perkiraan banyak orang, bagian kedua menyajikan delapan lagi laga serupa. Di daftar kedua ini, terdapat dua final (satu sebenarnya, karena yang satu lagi bukan final secara resmi). Satu laga beririsan dengan petaka yang dialami tuan rumah.
Hadir pula kejutan masif yang dihasilkan tim-tim Asia yang seringnya hanya pelengkap penderita. Namun, satu kubu bisa membalikkan kekalahan mengejutkan menjadi gelar di akhir turnamen.
Tak berlama-lama, silakan menyimak bagian kedua partai-partai yang mengagetkan jagat, disarikan dari beberapa sumber.
Brasil 1-2 Uruguai (1950)
Format kompetisi Piala Dunia 1950 tidak menggelar final, tapi partai ini menjadi penentuan juara. Brasil favorit karena faktor tuan rumah dan kemampuan teknisnya. Selecao mengurung Uruguai di daerahnya sendiri sepanjang paruh pertama, tapi tidak bisa membuka skor.
Dua menit setelah jeda antarbabak, Friaca akhirnya bisa membawa Brasil memimpin. Namun, Uruguai dapat memanfaatkan kelengahan dan tekanan pada Brasil. Juan Schiaffino membalas pada menit ke-66. Petaka buat tuan rumah akhirnya hadir pada menit ke-79 melalui gol Alcides Ghiggia. Petaka legendaris di Maracana ini disebut Maracanazo.
Jerman Barat 3-2 Hungaria (1954)
Hungaria diunggulkan karena langkah gagah di laga-laga sebelumnya, termasuk menggebuk Jerman Barat 7-3 di ronde pertama. Namun, keputusan setengah berjudi yang dilakukan pelatih Jerbar, Sepp Herberger, untuk menurunkan cadangan di pertemuan pertama itu berbuah manis di final Piala Dunia 1954 ini. Mighty Magyar tidak mengetahui kekuatan inti Jerbar.
Di bawah hujan lebat, "cuaca Fritz Walter", Die Mannschaft menghasilkan "Wunder of Berne", "Keajaiban Bern". Ferenc Puskas dan Zoltan Czibor membawa Hungaria unggul dengan 2 gol sampai menit kedelapan. Namun, Maximilian Morlock memperkecil jarak dua menit berselang, diikuti gol Helmut Rahn (18'). Rahn menuntaskan kejutan Jerbar untuk gelar pertama mereka dengan gol di menit ke-84.
Pertemuan Jerman Barat vs Jerman Timur di Piala Dunia 1974
Foto: TVRI - Jovi Arnanda
Jerman Timur 1-0 Jerman Barat (1974)
Ini pertemuan pertama dan terakhir dua Jerman. Di kandangnya, Jerman Barat mengincar gelar kedua mereka. Turnamen di rumah "saudara" merupakan yang pertama bagi Jerman Timur. Bagi tamu yang merupakan negara komunis, partai ini menjadi perjuangan kelas.
Menyusul hasil imbang laga lain antara Australia dan Cili beberapa jam sebelumnya, dua Jerman dipastikan lolos ke fase berikutnya. Akan tetapi, Jerbar, yang berniat menang, kecolongan. Jurgen Sparwasser mengejutkan publik Volksparkstadion di Hamburg (sementara hanya ada sekitar 1.500 suporter dari timur) dengan gol di menit ke-77.
Spanyol 2-3 Nigeria (1998)
Spanyol memiliki skuad menjanjikan berisi nama-nama seperti Fernando Hierro, Luis Enrique, dan Raul Gonzalez. Nigeria melakoni Piala Dunia kedua mereka. Meski mengesankan di AS 1994, Elang Super diperkirakan takkan merepotkan La Roja.
Partai pembukaan grup ini memperlihatkan lagi kepayahan Spanyol di putaran final. Walau dua kali unggul lewat Hierro dan Raul, Spanyol kebobolan tiga gol, masing-masing gol Mutiu Adepoju, gol bunuh diri Andoni Zubizarreta, dan ditutup gol Sunday Oliseh pada menit ke-78.
Hasil ini berkontribusi besar pada keberhasilan Nigeria lolos ke 16 besar lagi. Sebaliknya, La Roja lagi-lagi gagal lolos dari fase grup.
Spanyol 1-5 Belanda (2014)
Berstatus juara bertahan, Spanyol kehilangan tajinya di laga pembuka Grup B di Brasil 2014 ini kendati unggul lebih dulu lewat penalti Xabi Alonso (27'). Semenit sebelum turun minum, Robin van Persie membuat gol balasan dengan sundulan sambil terbang untuk memulai pembalasan kekalahan di final empat tahun sebelumnya
Petaka buat La Roja terhampar di babak kedua. Van Persie menambah satu gol lagi (72'), diikuti Arjen Robben yang juga mengukir dua gol (53' dan 80') plus sebuah dari Stefan de Vrij (64').
Kekalahan 1-5 menjadi margin terlebar bagi juara bertahan dalam sejarah Piala Dunia. Juga bagi Spanyol, kekalahan ini terbesar kedua setelah 1-6 dari Brasil pada 1950.
Hasil buruk ini berandil besar pula terhadap kegagalan La Roja lolos dari fase grup. Drama laga ini ditambah dengan cacian publik tuan rumah terhadap Diego Costa yang merupakan pemain kelahiran Brasil.
Kekalahan 1-7 dari Jerman jadi yang terbesar dialami Brasil sejak hampir seabad silam.
Foto: TVRI/Grafis/Dede Mauladi
Brasil 1-7 Jerman (2014)
Estadio Mineirao di Belo Horizonte menjadi saksi bisu kemasygulan Brasil di kandangnya sendiri. Mineirazo, tidak kalah pahir daripada Maracanazo pada 1950. Absensi Thiago Silva di belakang dan Neymar di sektor depan membuat Brasil tampil nyaris tanpa gigi.
Jerman tancap gas, dengan hasil tujuh gol bersarang di gawang Julio Cesar. Pemain pengganti, Andre Schurrle, bahkan bisa mencetak dua gol. Gol Oscar pada menit ke-89 menjadi hiburan kecil, tapi tidak cukup untuk menghindarkan Selecao dari kekalahan dengan selisih gol terbesar menyamai catatan 0-6 dari Uruguai pada 1920. Kemenangan terbesar Die Mannschaft di semifinal ini juga sekaligus memberikan kekalahan pertama bagi Brasil di kandang setelah deret 62 laga tak terkalahkan sejak 1975.
Korea Selatan 2-1 Italia (2002)
Kendati berlaku sebagai tuan rumah, Korea Selatan tidak dijagokan di laga 16 Besar pertama mereka di Piala Dunia ini. Italia diisi banyak jagoan Serie A yang sedang bagus-bagusnya. Tak disangka-sangka, Korsel bisa mematahkan sang favorit.
Christian Vieri mencetak gol pembuka pada menit ke-18. Seol Ki-hyeon menyamakan skor saat waktu normal tersisa dua menit. Ahn Jung-hwan menjadi penentu keberhasilan Korsel dengan gol emas di perpanjangan waktu (117'). Laga ini diwarnai dengan kartu merah kontroversial yang diberikan Byron Moreno kepada Francesco Totti.
Argentina 1-2 Arab Saudi (2022)
Argentina merupakan salah satu unggulan di Qatar 2022, tepatnya favorit kedua setelah Brasil. Arab Saudi juga merasakan tekanan di partai perdana di Grup C ini setelah dua wakil Asia lainnya, tuan rumah Qatar dan Iran, sudah keok.
Kapten Lionel Messi membawa Albiceleste memimpin dengan gol dari titik putih (10'). Saudi menggebrak di awal paruh kedua lewat gol-gol Saleh Al-Shehri (48') dan Salem Al-Dawsari (53'). Determinasi Al-Akhdar atau Si Hijau dalam bertahan membuat Argentina frustrasi dan akhirnya gagal membalas.