TVRINews - Boston, Amerika Serikat

Pandangan anggota dewan Kota Boston, Edward Flynn, berbanding terbalik dengan pelaku ekonomi yang melihat momentum ini sebagai kesempatan emas meraup miliaran dolar.

Seorang anggota dewan kota Boston memicu kontroversi usai menyatakan penolakannya terhadap rencana perayaan besar para suporter Timnas Skotlandia, jelang laga pembuka Piala Dunia 2026 melawan Haiti 13 Juni mendatang. 

Pernyataan tersebut muncul di tengah antusiasme banyak pihak yang melihat kehadiran ribuan fans sebagai peluang ekonomi luar biasa bagi kota tersebut.

Edward Flynn, yang dikenal vokal dalam isu lingkungan dan keamanan komunitas, secara tegas menyatakan bahwa dirinya tidak ingin melihat para suporter berpesta dan mengonsumsi alkohol di wilayah tempat tinggalnya. 

Ia juga menolak rencana pawai suporter berkostum khas Skotlandia yang akan melintasi kawasan tertentu di Boston. Dalam sebuah rapat yang turut dihadiri pelaku bisnis dan warga, Flynn menegaskan bahwa dirinya memiliki tanggung jawab menjaga keamanan lingkungan. 

“Saya tidak ingin melihat orang-orang berbaris melewati lingkungan saya sambil minum alkohol dan melakukan aktivitas lainnya,” kata Flynn, dikutip dari The Sun, Senin (6/4/2026).

Ia juga menambahkan bahwa sikapnya konsisten, bahkan terhadap warga lokal sekalipun. “Saya konsisten dalam hal ini. Saya juga menegur tetangga saya sendiri di South Boston saat Parade Hari St. Patrick, saya tidak menyukainya,” ujarnya.

Selain itu, Flynn mengungkapkan kekhawatirannya terhadap potensi kerusakan fasilitas publik, khususnya taman yang direncanakan menjadi titik awal pawai.

“Saya tidak menginginkan itu terjadi di Medal of Honor Park. Saya sudah terlalu keras memperjuangkan pendanaan untuk taman-taman ini. Sekarang kondisinya bagus, dan saya khawatir akan rusak hanya karena sebuah pesta,” Flynn menegaskan.

Namun, pandangan Flynn berbanding terbalik dengan banyak pejabat dan pelaku ekonomi yang melihat momentum ini sebagai kesempatan emas. Rapat tersebut dipimpin oleh Ruthzee Louijeune, perwakilan terpilih keturunan Haiti-Amerika, yang menyampaikan optimisme besar terhadap dampak ekonomi dari kedatangan suporter internasional.

“Kita memiliki peluang ekonomi yang luar biasa, saya pikir lebih dari satu miliar dolar Amerika akan mengalir ke kota kita. Ini akan sangat luar biasa,” kata Louijeune.

Sebagai bagian dari persiapan, pihak penyelenggara bahkan tengah merancang aplikasi khusus dan kanal WhatsApp untuk membantu para suporter selama berada di Boston.

Meski demikian, Flynn tetap menekankan bahwa keselamatan publik tidak boleh dikorbankan. “Saya menyambut pariwisata, tetapi tidak boleh mengorbankan waktu untuk merespons keselamatan publik atau menghambat transportasi warga menuju rumah sakit dalam keadaan darurat. Ini adalah hal-hal penting,” ujarnya.

Sementara itu, komunitas suporter Skotlandia menanggapi kekhawatiran tersebut dengan santai. Hamish Husband, tokoh senior Tartan Army (julukan suporter Skotlandia) dari wilayah barat Skotlandia, menilai bahwa reputasi fans Skotlandia justru sangat positif.

“Kami disambut dengan baik pada Piala Eropa 2024 di Jerman, memberikan kontribusi ekonomi sekaligus hiburan yang menyenangkan. Wali Kota Munchen, Cologne, dan Stuttgart bahkan merayakan kehadiran kami,” kata Husband.

“Kami menantikan warga Boston bertemu dengan, mungkin, fans terbaik di dunia,” ia menambahkan.

Pendapat serupa juga disampaikan oleh Jason Waddleton, pemilik satu-satunya pub Skotlandia di Boston, The Haven. “Saya memahami kekhawatiran Flynn, tapi penting untuk diingat bahwa Tartan Army memiliki reputasi bukan hanya karena semangatnya, tetapi juga rasa hormat, kemurahan hati, dan humor yang baik,” kata Waddleton.

Sementara itu, Neil Doherty, Direktur Hubungan Pemerintahan Amerika Serikat untuk FIFA World Cup Boston 2026, menekankan bahwa pawai suporter merupakan bagian penting dari budaya sepak bola internasional.

“Kami sangat antusias untuk memfasilitasi hal ini dan memastikan semuanya berjalan aman dan sukses. Saya yakin kota ini akan mampu menjawab tantangan tersebut,” ujarnya.

Perdebatan ini mencerminkan dilema klasik antara menjaga ketertiban kota dan memanfaatkan peluang ekonomi dari ajang olahraga terbesar di dunia.