Bola resmi Piala Dunia 2026, Adidas Trionda. Foto: TVRI/Grafis/Jovi Arnanda
TVRINews - Washington, Amerika Serikat
Selain desain empat panel yang revolusioner, bola ini dilengkapi cip bertenaga AI untuk membantu wasit mengambil keputusan lebih akurat.
Evolusi bola resmi Piala Dunia garapan Adidas selalu menjadi sorotan setiap empat tahun sekali. Namun, perubahan yang diusung bukan sekadar soal estetika warna maupun simbol negara tuan rumah.
Di balik desain visualnya, terdapat rekayasa teknis yang terus bertransformasi secara radikal. Sebuah fenomena yang dipelajari secara mendalam oleh profesor fisika tamu dari University of Puget Sound, yang juga pakar fisika olahraga, John Goff.
Goff memandang turnamen akbar empat tahunan ini sebagai laboratorium raksasa yang menyediakan objek penelitian unik bagi dunia saintifik. Baginya, setiap peluncuran bola baru merupakan kesempatan langka untuk menguji kembali hukum-hukum aerodinamika dalam skala kompetisi elite yang paling bergaya.
"Keindahan Piala Dunia adalah setiap empat tahun sekali, kita bisa melakukan eksperimen fisika baru dalam dinamika fluida dan aerodinamika," kata Goff kepada The Seattle Times.
Penilaian Goff kehadiran teknologi baru di bola Piala Dunia selalu memberikan tantangan berbeda, baik bagi para peneliti maupun pemain yang akan menggunakannya di lapangan. "Ada bola yang benar-benar baru untuk dimainkan."
Goff bersama tim insinyurnya di Jepang telah mempelajari setiap bola Piala Dunia sejak edisi Jabulani di Afrika Selatan 2010. Fokus utama diteliti pada bagaimana bola tersebut terasa dan bergerak saat ditendang oleh para pemain terbaik dunia.
"Piala Dunia adalah turnamen terpenting dalam olahraga terpopuler di dunia, dan Anda tentu tidak ingin peralatan paling penting dalam turnamen itu berperilaku dengan cara yang tidak biasa bagi para pemain. Pemain di level elite pasti akan menyadari perubahan halus tersebut," ucapnya.
Bola Piala Dunia 2026 yang diberi nama Trionda. Awalan "Tri" adalah melambangkan tiga negara tuan rumah, Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, akan tampil sangat berbeda dari bola-bola sebelumnya karena beberapa alasan teknis.
Bola ini tidak hanya menampilkan lambang tiga negara seperti daun maple untuk Kanada, elang Aztec untuk Meksiko, dan bintang lima sudut untuk AS, tetapi juga memiliki jumlah panel paling sedikit, yaitu hanya empat panel. Adidas telah melakukan lompatan jauh dari bola hitam-putih tradisional yang biasanya terdiri dari 32 panel.
Desain empat panel ini memberikan hasil yang menarik bagi Goff dan timnya yang telah menganalisis Trionda sejak diluncurkan ke pasar musim gugur lalu. Pengurangan jumlah panel ini kemungkinan besar akan memberikan dampak yang sangat nyata bagi para pemain saat turnamen berlangsung musim panas nanti.
"Saat ini, tampaknya jika seorang pemain menendang bola ini dibandingkan dengan Al-Rihla pada 2022, Telstar 2018, atau bahkan Brazuca 2014, pada tendangan jarak jauh, saya rasa mereka akan menyadari bahwa (Trionda) tidak akan melaju sejauh biasanya," ungkap Goff.
Tim insinyurnya menguji berbagai orientasi Trionda di terowongan angin besar milik University of Tsukuba di Jepang. Pengujian ini membutuhkan beberapa bola karena setiap sampel harus dilubangi bagian belakangnya dengan batang logam guna mengukur lintasan tanpa putaran dari sisi depan.
"Mereka melakukan rekayasa olahraga. Mereka bukan fisikawan, jadi mereka melakukan pengujian terowongan angin," kata Goff mengenai pembagian tugas timnya.
"Mereka mengirimkan datanya kepada saya, lalu saya melakukan pemrosesan serta analisis dan berbicara tentang fisika dari apa yang saya lihat di data tersebut. Trionda melanjutkan proses evolusi bola sepak ini," Goff menambahkan.
Goff menjelaskan bahwa dengan hanya menggunakan empat panel, pihak produsen harus memastikan permukaan bola tidak terlalu licin. Langkah ini agar arah terbang bola saat di udara tetap bisa diprediksi oleh para pemain.
"Dengan hanya empat panel, mereka harus memastikan bahwa bola itu tidak terlalu mulus. Dari pengujian kami, bola tersebut tampak sedikit lebih kasar dibandingkan pendahulu-pendahulunya," ujarnya.
Trionda juga memiliki tiga alur dalam pada setiap panelnya yang sengaja dirancang untuk memberikan daya cengkeram tambahan. Menurut laporan CBS Sports, desain ini bertujuan agar bola tetap nyaman dimainkan di berbagai kondisi iklim kota-kota tuan rumah yang beragam di Amerika Utara.
Daya cengkeram tambahan berarti permukaan yang lebih kasar, dan faktor inilah yang sangat memengaruhi lintasan terbang bola di udara. Goff berpendapat bahwa meski jarak tempuhnya berkurang, stabilitas bola saat melayang di udara justru mengalami peningkatan yang signifikan.
"Bola ini tidak akan memiliki ketidakstabilan, goyangan, dan perubahan kecil pada hambatan udaranya saat terbang, tetapi konsekuensinya, dengan membuatnya sedikit lebih kasar, tendangan jarak jauh berkecepatan tinggi akan berkurang jaraknya beberapa yard karena hambatan udara yang sedikit lebih tinggi," tuturnya.
"Ini mungkin merupakan pertukaran yang menguntungkan. Para pemain akan jauh lebih mampu menilai apakah hal itu baik atau buruk. Maksud saya, bagi saya, itu mungkin akan membuat perbedaan yang nyata bagi para pemain di level elite."
"Penggemar mungkin tidak menyadarinya, tetapi saya penasaran apakah para pemain merasakannya. Saya penasaran melihat apa yang terjadi saat penjaga gawang menendangnya ke tengah lapangan. Apakah mereka akan menyadari, 'Oh, saya biasanya bisa mencapai 50 yard, tapi sekarang sepertinya hanya sampai 45 yard.'"
Pesepak bola elite hampir selalu memberikan efek putaran pada bola untuk menambah jarak tempuh dan waktu melayang di udara. Teknik ini akan meredam efek kekasaran permukaan Trionda yang sebelumnya diuji dalam kondisi tidak berputar di dalam terowongan angin.
"Apa yang sering mereka lakukan adalah menendang bola dengan putaran balik. Ada Efek Magnus, begitu kami menyebutnya, di mana udara terhempas ke bawah dan bola mendapat sedikit gaya angkat saat terbang karena putaran, jadi mereka akan menendangnya dengan backspin, dan itu akan menghilangkan beberapa efek kecil yang terjadi saat bola tidak berputar."
Sebuah cip bertenaga kecerdasan buatan (AI) ditanamkan di sisi bola untuk menyediakan data waktu nyata bagi wasit guna memastikan pengambilan keputusan yang lebih cepat dan akurat. Teknologi ini diharapkan dapat meminimalisir kontroversi dalam pertandingan-pertandingan besar.
Tim nasional peserta akan menggunakan Trionda dalam sesi latihan untuk menyesuaikan diri dengan karakteristik unik bola ini sebelum turnamen dimulai pada 11 Juni mendatang. Adaptasi awal sangat krusial agar para pemain tidak kaget dengan perubahan gaya tarik udara pada bola tersebut.