TVRINews – Jakarta, Indonesia

Mantan asisten pelatih Timnas Indonesia U-19 Mahruzar Nasution mengungkapkan efek besar siaran Piala Dunia buat anak-anak pencinta sepak bola

Piala Dunia FIFA 2026 di Amerika Serikat (AS), Kanada, dan Meksiko, akan dimulai kurang dari tiga pekan lagi (tepatnya 11 Juni). Di Indonesia, seluruh 104 pertandingan dari 48 tim yang turun di Piala Dunia edisi ke-23 bisa disaksikan di stasiun televisi milik pemerintah, TVRI. 

Untuk menyambut gelaran Piala Dunia 2026, Jumat (22/05/2026) lalu, TVRI menggelar acara Coaching Clinic Bola Gembira di lapangan mini soccer kantor pusat LPP TVRI di Senayan, Jakarta. 

Coaching Clinic Bola Gembira yang dilanjutkan dengan fun match 2x10 menit tersebut diikuti lima sekolah sepak bola (SSB) di wilayah Jakarta dan sekitarnya, yakni SSB Persema Marunda, Bimba AIUEO Soccer School, SSB Putri JP Jakarta, SSB T. Eleven, dan SSB BSSB (Bukan Sekadar Sepak Bola).      

Mahruzar Nasution, mantan asisten pelatih Tim Nasional Indonesia U-19, dipercaya untuk memimpin coaching clinic tersebut. Menurut Mahruzar, siaran langsung sepak bola bergengsi dan berkualitas seperti Piala Dunia memiliki pengaruh besar buat anak-anak, khususnya mereka yang menyukai sepak bola.

“Efeknya sangat besar ya, bukan hanya menonton. Anda dan saya pasti mengharapkan anak-anak kita ini bisa menuju ke Piala Dunia di masa depan,” ujar pria yang kini sibuk sebagai Technical Director Asiana Soccer School itu.

“Terutama, beberapa waktu lalu kan kakak-kakaknya sudah menjalani itu, Piala Dunia U-17 (2023 saat menjadi tuan rumah dan 2025 di Qatar). 

“Mungkin dari anak-anak ini bisa jadi ada yang muncul. Tapi syaratnya, mereka harus mau berlatih keras dan disiplin sehingga levelnya lebih meningkat lagi untuk menuju ke Piala Dunia.” 

Untuk mendapatkan pesepak bola potensial memang tidak mudah. Banyak pemain yang bagus di usia muda, namun tidak berkembang saat masuk level yang lebih tinggi, utamanya senior. 

“Sistemnya memang harus dibenahi bersama-sama, terutama di grassroots dan usia mudanya. Ini PR buat kita semua,” kata pria yang menjadi asisten pelatih Timnas Indonesia U-19 pada 2017 dan 2019 itu. 

“Ada tiga hal yang harus dibenahi, yakni pelatih, pemain, kompetisi. Ketiganya memang inti dari sepak bola yang wajib diperbaiki. 

“Apalagi jika berbicara tim nasional, tentunya di grassroots dan usia mudanya dibuat kompetisi yang lebih kompetitif lagi sehingga kualitas pemain meningkat.”

Pria yang membantu pelatih Fakhri Husaini membawa Timnas Indonesia U-19 memenangi grup di kualifikasi untuk lolos langsung ke Piala AFC U-19 2020 itu juga menyebut salah satu kompetisi usia muda yang sudah berjalan saat ini. 

PSSI selaku induk organisasi sepak bola di Indonesia saat ini memiliki berbagai jenjang kompetisi terstruktur, mulai dari tingkat akar rumput hingga profesional. Elite Pro Academy (EPA) untuk akademi klub profesional dan Piala Soeratin untuk pembinaan pemain muda secara nasional.  

EPA dikhususkan bagi akademi dan klub yang berlaga di kompetisi profesional (Liga 1 dan Liga 2). Kompetisi EPA ini terbagi dalam beberapa kelompok usia, yakni EPA Liga 1 U-16, EPA Liga 1 U-18, dan EPA Super League U-20 (sebelumnya dikenal sebagai EPA Liga 1 U-20). 

“Kalau di Indonesia sekarang ini, ya EPA,” tutur Mahruzar saat ditanya contoh kompetisi usia muda bagus di tanah air. 

“Namun, EPA juga masih perlu dibenahi lagi bagaimana supaya lebih kompetitif. Ini harus melibatkan peran para pemilik klub dalam melakukan pembibitan, terutama klub-klub yang bermain di liga.” 

Jagokan Brasil di Piala Dunia 2026

Sebagai pencinta sepak bola, Mahruzar dipastikan bakal menyaksikan pertandingan-pertandingan Piala Dunia 2026 yang akan ditayangkan TVRI. Ia pun dengan yakin menyebut nama Brasil sebagai tim favoritnya untuk merebut gelar. 

“Saya menjagokan Brasil juara kali ini. Alasannya karena memiliki deretan pemain berkualitas,” tutur Mahruzar.

Semua tahu, Brasil adalah negara dengan jumlah gelar Piala Dunia terbanyak, lima (1958, 1962, 1970, 1994, 2002). Namun, mereka terakhir mengangkatnya 24 tahun lalu di Korea dan Jepang.

Timnas Brasil saat ini ditangani pelatih asal Italia, Carlo Ancelotti. Menariknya, selama ini tidak ada negara yang memenangi Piala Dunia bersama pelatih asing. 

“Ah, itu kan mitos saja. Yang penting itu bagaimana kinerja seorang pelatih. Mau siapapun dia, yang terpenting adalah kinerja dia. Kalau dia lebih detail di dalam menangani tim itu, dia akan pasti lebih sukses,” ucap Mahruzar.