TVRINews - Jakarta

Thomas Tuchel akan memimpin tim nasional Inggris berjuang memperebutkan gelar juara Piala Dunia 2026.

Karier kepelatihan Thomas Tuchel sangat tidak biasa. Pensiun sebagai pemain di usia 25 tahun karena cedera lutut kronis, ia sempat meninggalkan sepak bola dan fokus sekolah bisnis sekaligus bekerja sebagai bartender.

Adalah Ralf Rangnick yang kemudian mengubah kehidupan Tuchel. Ia melihat Tuchel memiliki pemahaman taktik luar biasa dan menyarankannya tetap berada di sepak bola sebagai pelatih.

Rangnick yang kini menangani tim nasional Austria secara aktif memberi dukungan kepada Tuchel dan membantunya mendapatkan peran sebagai pelatih tim muda VfB Stuttgart pada tahun 2000. Di sana ia membuktikan diri sebagai peramu taktik yang baik hingga memenangi Bundesliga U-19 2004/2005.

Pria kelahiran Krumbach, Jerman tersebut sempat melanjutkan perjalanan sebagai pelatih di tim usia muda di FC Augsburg pada tahun 2005. Dua tahun kemudian, ia dipromosikan untuk menangani tim cadangan klub tersebut.

Keputusan manajemen untuk mempromosikannya bukan karena lulus lisensi kepelatihan UEFA Pro, melainkan kegilaannya terhadap detail sepak bola. Andreas Rettig, Direktur Olahraga Mainz 05 ketika Tuchel melatih tim U-19 memberikan gambaran bagaimana sikap pria yang selalu menuntut 100 persen dari tim tersebut.

"Setiap latihan harus sempurna. Ia memainkan pertandingan di kepalanya sendiri. Ia membutuhkan segalanya berjalan sesuai rencana, terutama disiplin taktik, di mana para pemain berdiri, ke mana mereka harus pergi," kata Rettig, dikutip dari The Guardian.

Cara Tuchel menangani tim cadangan Augsburg membuat beberapa klub papan atas Jerman tertarik merekrutnya. Mainz 05 yang kemudian berhasil membujuknya bergabung untuk membesut tim U-19 pada tahun 2008.

Emosi yang Meledak-ledak

Setelah berhasil membawa Mainz 05 U-19 menjuarai Bundesliga U-19, Thomas Tuchel dipercaya menggantikan Jorn Andersen untuk menangani tim utama. Inilah awal mula perjalanannya di kompetisi kasta tertinggi Jerman.

Berada di kompetisi profesional membuat Tuchel semakin mendapat sorotan. Pada momen inilah sosoknya sebagai pelatih perfeksionis terungkap. Ia tak segan meluapkan kemarahan bahkan ketika ada pemain yang gagal mengikuti instruksi dalam sesi latihan.

Petinggi Mainz 05, Christian Heidel, menyebut emosi Tuchel yang meledak-ledak menjadi penyebab hubungannya dengan orang lain selalu berjalan sulit. Ia sering berkonfrontasi dengan wasit, pelatih lawan, hingga manajemen klub.

Sifat perfeksionis itu terus terbawa sepanjang kariernya. Bahkan ketika melatih Paris Saint-Germain (PSG), Tuchel beberapa kali terlibat ketegangan dengan manajemen klub.

Puncak ketegangan terjadi ketika Tuchel berselisih dengan Direktur Olahraga PSG, Leonardo, soal kebijakan transfer. Akibatnya, pria yang sebelumnya menangani Borussia Dortmund itu dipecat.

"Penting bagi Thomas untuk terlibat dalam semua pengambilan keputusan. Ia bukan tipe pelatih yang bisa Anda beri 10 hingga 12 pemain dan berkata, 'Gunakan saja mereka'," tutur Heidel.

Di Tengah Keraguan

Deretan gelar juara yang diraih Thomas Tuchel bersama Borussia Dortmund, Paris Saint-Germain, Chelsea, hingga Bayern Munchen tak lantas membuatnya mendapat kepercayaan penuh ketika ditunjuk menangani Inggris pada Januari 2025 lalu.

Pengalaman Tuchel dinilai belum cukup untuk menangani Inggris yang penuh tekanan. Apalagi di Piala Dunia 2026, mereka dituntut dapat keluar sebagai juara untuk mengakhiri penantian 60 tahun.

Ujian awal Tuchel bersama Inggris adalah kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Eropa. Tiga kemenangan beruntun mereka dapatkan atas Albania, Latvia, dan Andora. Rentetan kemenangan itu terganggu dengan kekalahan 1-3 saat beruji coba melawan Senegal.

Banyak kritik datang kepada Tuchel setelah kekalahan dari Senegal. Akan tetapi, ia mematahkannya dengan lima kemenangan beruntun di kualifikasi dan sekali saat uji coba dengan Wales.

Sayangnya, di saat banyak dukungan diberikan kepadanya, Tuchel tak mampu membuat Inggris tampil baik di dua uji coba Maret lalu. Setelah imbang melawan Urugai, Harry Kane dan kawan-kawan kalah dari Jepang.

Media massa di Inggris ramai-ramai mengkritik Tuchel. The Telegraph bahkan menyebut sang juru taktik telah merampas jiwa Inggris. Eksperimen yang ia lakukan kepada tim berisiko memberi hasil buruk di Piala Dunia 2026.

Kritik yang datang tampaknya tak membuat Tuchel goyah. Itu terbukti dari pengumuman skuad yang dilakukan pada Jumat (22/5/2026). Ia tak segan mencoret pemain berpengalaman seperti Harry Maguire, Trent Alexander-Arnold, Phil Foden, dan Cole Palmer.

Banyak orang yang menganggap Tuchel berjudi dengan pilihannya untuk skuad Piala Dunia 2026. Akan tetapi, ia punya pembelaan atas keputusan tersebut dan yakin dapat memberi hasil terbaik.

"Saya dapat meyakinkan setiap penggemar di negara ini bahwa kami memiliki 26 pemain yang 100 persen berkomitmen di kamp pelatihan bersama kami, yang mengetahui peran mereka, yang siap menjalankan peran mereka, di dalam dan di luar lapangan, yang siap dan berkomitmen pada gagasan semangat tim dan sikap tidak egois," tegasnya.

Biodata

Nama: Thomas Tuchel

Kelahiran: Krumbach (Jerman), 29 Agustus 1973

Karier Pemain

Stuttgart Kickers (1992-1994)

Ulm 1846 (1995-1998)

Karier Pelatih

FC Augsburg II (2007-2008)

Mainz 05 (2009-2014)

Borussia Dortmund (2015-2017)

Paris Saint-Germain (2018-2020)

Chelsea (2021-2022)

Bayern Munchen (2023-2024)

Inggris (2025-sekarang)

Prestasi

Borussia Dortmund

DFB-Pokal: 2016/2017

Paris Saint-Germain

Ligue 1: 2018/2019, 2019/2020

Coupe de Franc: 2019/2020

Coupe de la Ligue: 2019/2020

Trophee des Champoins: 2018, 2019

Chelsea

Liga Champions: 2020/2021

Piala Super UEFA: 2021

Piala Dunia Antarklub: 2021

Bayern Munchen

Bundesliga: 2022/2023