Lionel Messi pantas menjadi Pemain Terbaik (Player of the Match) pertandingan 16 besar Piala Dunia 2026 antara Argentina melawan Mesir. Foto: TVRI/Grafis/Dede Mauladi
TVRINews - Kansas City, Amerika Serikat
Kini, 12 tahun kemudian, situasinya telah banyak berubah. Menurut Messi, lawan-lawan semakin berat, termasuk Swis.
Argentina akan kembali berhadapan dengan Swis di babak perempat final Piala Dunia 2026. Pertemuan yang berlangsung pada Sabtu (11/7/2026) waktu setempat bukan sekadar laga perebutan tiket ke semifinal, tetapi juga menghidupkan kembali kenangan duel sengit kedua tim di Piala Dunia 2014 Brasil.
Argentina harus bekerja keras untuk menyingkirkan Swis di babak 16 besar pada 12 tahun lalu. Saat itu, pertandingan di Sao Paulo berlangsung tanpa gol selama 117 menit sebelum Angel Di Maria mencetak gol penentu di babak tambahan waktu setelah menerima umpan Lionel Messi. Kemenangan tipis 1-0 tersebut mengantarkan Albiceleste melaju ke perempat final.
Kini, situasinya telah banyak berubah. Argentina datang ke perempat final sebagai juara bertahan setelah menjuarai Piala Dunia 2022 di Qatar. Selain itu, mereka juga pernah menjadi finalis pada edisi 2014.
Sementara itu, Swis akhirnya berhasil mengakhiri penantian panjang dengan mencapai babak perempat final Piala Dunia untuk pertama kalinya sejak 1954.
Lionel Messi masih ingat betul laga 12 tahun lalu, dan kini ia makin menyadari bahwa lawan-lawan semakin berat, termasuk Swis. Meskipun, sang kapten kembali menunjukkan kualitasnya ketika membawa Argentina bangkit secara dramatis untuk mengalahkan Mesir 3-2 pada babak 16 besar.
Argentina sempat tertinggal 0-2 hingga menit ke-79 sebelum berhasil mencetak tiga gol dalam 11 menit terakhir pertandingan untuk memastikan tempat di perempat final.
"Kami kembali harus menderita, tetapi beginilah Piala Dunia. Setiap pertandingan berjalan seperti ini. Tim-tim ini tidak pernah menyerah dan terus berusaha sampai akhir," kata Messi, dikutip dari Reuters.
Swis di sisi lain juga datang dengan kepercayaan diri tinggi. Tim asuhan Murat Yakin memastikan langkah ke delapan besar setelah mengalahkan Kolombia melalui adu penalti usai bermain imbang tanpa gol selama 120 menit.
Pertandingan nanti juga akan menjadi reuni bagi tiga pemain yang masih tersisa dari pertemuan kedua tim pada 2014, yakni Lionel Messi, kapten Swis Granit Xhaka, dan bek Ricardo Rodriguez.
Xhaka mengaku senang masih memiliki kesempatan menghadapi Messi di panggung terbesar sepak bola dunia.
"Merupakan sebuah kehormatan bisa berada di era yang sama dengannya. Kami pernah melawannya saat kalah pada 2014 di Brasil. Kami tahu kualitas yang dia miliki, tetapi bukan hanya dia, seluruh tim Argentina juga sangat kuat," ujar Xhaka.
Hal senada disampaikan Ricardo Rodriguez. Bek berusia 33 tahun itu menilai Argentina tetap menjadi salah satu favorit juara karena kualitas pemain yang mereka miliki.
"Argentina adalah tim yang hebat. Mereka memiliki pemain-pemain yang sangat kuat dan pelatih yang bagus. Kami tahu bagaimana cara mereka bermain. Dan mereka juga memiliki yang terbaik, yaitu Messi," kata Rodriguez.
Swis Tidak Mau Hanya Bertahan
Meski demikian, Swis tidak ingin hanya mengandalkan permainan bertahan seperti yang selama ini melekat pada mereka. Murat Yakin berharap gelandang kreatif Johan Manzambi dapat pulih dari cedera lutut sehingga bisa kembali memperkuat tim setelah absen saat menghadapi Kolombia.
Yakin juga menilai penampilan Argentina pada dua laga terakhir menunjukkan bahwa sang juara bertahan bukanlah tim yang tanpa celah. Sebelum bangkit mengalahkan Mesir, Argentina juga sempat mengalami kesulitan ketika menghadapi Tanjung Hijau.
"Kami akan menghadapi juara bertahan dan itu merupakan kesempatan yang sangat istimewa. Pada saat yang sama, kami menyadari bahwa Argentina bukan tim yang tidak bisa dikalahkan. Saya rasa pertandingan ini akan sangat menarik dari sisi taktik," ujar Yakin.
Sementara itu, pelatih Argentina Lionel Scaloni diperkirakan tetap mempertahankan sebagian besar susunan pemain yang tampil saat mengalahkan Mesir. Meski begitu, ia menegaskan bahwa Swis bukan lawan yang bisa dipandang sebelah mata.
Menurut Scaloni, Swis memiliki tradisi yang kuat di Piala Dunia dan diperkuat banyak pemain berkualitas sehingga Argentina harus kembali menampilkan performa terbaik jika ingin mempertahankan peluang mempertahankan gelar juara.