TVRINews - El Dabaa, Mesir

Suporter menunjukkan kebanggaannya atas capaian Mesir di Piala Dunia 2026.

Ribuan suporter memadati lokasi penyambutan skuad Mesir saat kembali ke tanah air dari Piala Dunia 2026 pada Jumat (10/7/2026) waktu setempat. Langkah tim berjuluk The Pharaohs itu terhenti di babak 16 besar usai kalah 2-3 dari Argentina.

Para suporter yang berkumpul di bandara El Alamein melambaikan foto Mohamed Salah, dan berbagai spanduk yang bertuliskan kebanggaan akan capaian tim di Piala Dunia 2026.

Sepanjang berpartisipasi di Piala Dunia, Mesir untuk kali pertama berhasil memetik kemenangan. Mereka juga bisa merasakan lolos ke babak gugur.

Capaian tersebut membuat suporter bangga. Presiden Mesir, Abdel Fattah El-Sissi, dijadwalkan menerima tim asuhan Hossam Hassan pada Sabtu (11/7/2026) waktu setempat.

Orang nomor satu di Mesir tersebut sebelumnya mengucapkan terima kasih atas perjuangan Mohamed Salah dan kawan-kawan di Piala Dunia 2026. Ia berharap capaian ini menjadi inspirasi generasi penerus.

Suasana emosional memuncak di Mesir pada hari pertandingan melawan Argentina. Masyarakat berkumpul di kedai kopi, rumah-rumah, dan alun-alun untuk menyaksikan pertandingan.

Mereka semua akhirnya harus menelan kecewa. Mesir yang sempat unggul dua gol terlebih dulu harus menerima kenyataaan kalah 2-3 dari Argentina. Laga tersebut meninggalkan kontroversi karena beberapa keputusan wasit.

Federasi Sepak Bola Mesir (EFA), sangat tidak puas dengan kinerja wasit dalam pertandingan melawan Argentina, terutama keputusan yang terkait dengan video assistant referee (VAR).

"Membela hak dan kepentingan tim nasional Mesir bukanlah hal yang dapat diabaikan, diremehkan, atau dianggap sebagai hal sekunder," demikian pernyataan EFA, dikutip dari AP.

Kepala Wasit FIFA, Pierluigi Collina, merespons pernyataan EFA. Ia mengatakan perdebatan mengenai keputusan wasit adalah bagian alami dari sepak bola, namun harus dilakukan dengan dasar yang kuat.

Collina khawatir sikap EFA tersebut dapat berdampak negatif kepada wasit dan keluarganya. Hal seperti ini sudah pernah terjadi dan tidak boleh terulang.

"Tidak ada yang bisa mempertanyakan integritas para petugas pertandingan Piala Dunia.  Ketika ini terjadi, hal itu dapat memicu reaksi yang mengarah pada ancaman terhadap mereka dan keluarga mereka. Ini tidak benar," ujarnya.