Walau cuma lolos dari play-off zona Eropa melibas perlawanan Kosovo, Turki terlihat mempunyai beberapa kelebihan yang perlu diwaspadai lawan. Tak semantap di Piala Dunia 1998, tapi kiprah tim racikan Vincenzo Montella ini layak dinanti. Di sisi lain, kestabilan jadi tantangan besar buat Si Sabit-Bintang.

Di Grup E kualifikasi Eropa, performa Turki tidak terlampau buruk. Mereka terpeleset kala menjamu Spanyol dan bisa menahan imbang juara Eropa tersebut di rumahnya. Maka, kepastian Turki meraih jatah ke Piala Dunia 2026 yang hanya lewat play-off mengatasi tim termuda yang terdaftar sebagai anggota FIFA tersebut seperti menegaskan pandangan umum mengenai kekurangan di segi kemantapan tim.

Skuad beralias Al-Yildizlilar ini pun semakin dianggap sebagai salah satu tim yang paling tidak stabil, apalagi setelah lama absen dari turnamen empat tahunan ini.  Akan tetapi, Turki berpotensi berbicara banyak mengingat Piala Dunia sering mengganjar tim-tim yang susah ditebak.

Anak-anak muda yang berani sekaligus berambisi merupakan aset yang sangat berharga buat Vincenzo Montella di Amerika Utara nanti. Pemain-pemain muda  itu sudah dapat menyertakan kemampuan mumpuni, seperti yang diperlihatkan Arda Guler dan Kenan Yildiz.

Di Piala Dunia 2026 nanti, Turki berkesempatan memanfaatkan pula basis kuat pendukung mereka di kota-kota tuan rumah. Faktor suporter dapat menjadi pemacu besar buat Si Sabit-Bintang untuk membalikkan perkiraan.