Tanjung Hijau (Cabo Verde) hanya butuh 41 tahun sejak merdeka untuk menembus turnamen olahraga terbesar sejagat, putaran final Piala Dunia FIFA. Tim nasional sepak bola Tanjung Hijau pertama kali mengikuti kualifikasi Piala Dunia untuk gelaran di Argentina pada 1978.
Itu artinya, hanya setelah beberapa tahun merdeka, negara pulau di tengah Samudra Atlantik, lepas pantai Afrika Barat, itu sudah langsung mencoba peruntungannya. Upaya keras Tanjung Hijau akhirnya membuahkan hasil dengan lolos untuk pertama kalinya ke Piala Dunia, pada tahun ini.
Konsistensi dan mentalitas kompetitif merupakan komponen kunci keberhasilan Tanjung Hijau dalam kualifikasi zona Afrika (CAF) untuk Piala Dunia 2026, yang membuahkan hasil dari proyek jangka panjang.
Hebatnya, di kualifikasi CAF Blue Sharks – julukan timnas Tanjung Hijau – langsung lolos ke Piala Dunia 2026 di putaran pertama setelah memuncaki Grup D. Mereka berhasil memaksa tim sarat pengalaman Kamerun untuk finis di posisi kedua grup hingga lanjut ke putaran kedua (dan gagal lolos).
Mengandalkan pemain-pemain seperti kapten Ryan Mendes, kiper Vozinha, dan bek Roberto Lopes, pelatih Pedro Leitao Brito – yang lebih akrab disapa Bubista – membuat Tanjung Hijau dikenal sulit dikalahkan karena struktur posisi yang kuat dan sistem pertahanan wilayah yang kompak.
Pendekatan menyerang mereka langsung dan cepat, membongkar lini pertahanan lawan dengan umpan-umpan vertikal yang cepat untuk memanfaatkan kecepatan di sisi sayap.
Tergabung di Grup H bersama Spanyol, Arab Saudi, dan Uruguai, Tanjung Hijau diperkirakan mampu membuat kejutan di fase awal Piala Dunia 2026 nanti.