TVRINews - Jakarta

"Sebentuk kehidupan asing (alien)", begitu David Bowie memandang internet dalam sebuah wawancara dengan BBC pada 1999. Seniman tarik suara yang nyentrik itu menilai internet bukan alat atau sistem penyampaian belaka, tapi forma yang akan merevolusi masyarakat, konten, dan relasi antarmanusia (saat itu ia masih menilai antara seniman dan audiensnya). 

Menurut hemat Bowie, dampak jaringan digital pada masyarakat bakal "mendebarkan sekaligus mengerikan". Kayak cenayang, sosok yang dikenal sebagai "bunglon cadas" dan aktor itu meramal internet dengan distribusi digitalnya akan meremukkan medium tradisional dan melucuti hierarki lawas sekaligus menjebol penghalang antara produsen dan konsumen. Bowie memprediksi pula bahwa masyarakat akan beranjak dari kultur kebenaran massa yang terpadu menjadi jagat pilihan yang terbagi-bagi dan subkultur-subkultur ceruk (niche).

David Bowie meninggal pada awal 2016, sangat mungkin setelah melihat ramalan-ramalannya soal dunia digital cukup terbukti. 

Di rentang setelah berlaku bak dukun dan mangkatnya, David Bowie memperlihatkan kaitan menarik dengan sepak bola, teristimewa Piala Dunia. Walau lahir di London, dan disebut pernah memperkuat tim sekolahnya, Bowie nyaris tidak pernah menunjukkan perhatian pada sepak bola selama berkarier di dunia bisnis pertunjukan. Namun, saat Piala Dunia 2002, Bowie terlihat antusias mengikuti turnamen dengan nobar di pub New York. 

Relasi publiknya, Alan Edwards, mengisahkan ketertarikan (terlambat) David Bowie pada bola. Dalam tempo singkat, Bowie menyerap hobi barunya dengan pemahaman menawan. "Ia melihat sepak bola seperti berada di teater, dengan segala dramanya. Hampir kayak Shakespeare," tutur Edwards kepada The Telegraph.

Tidak ada rujukan mengenai kelanjutan ketertarikan Bowie pada football setelah turnamen di mana gol sepak bebas Ronaldinho ke gawang David Seaman menyingkirkan Inggris di perempat final itu. Mungkin juga Bowie melihat sepak bola semakin tidak lagi menarik, apalagi ketika semakin direcoki internet.

Perkembangan internet, terutama media sosial, selanjutnya memang pesat dan sulit dibendung. Sepak bola tidak lepas dari jerat kuat dunia maya. Jangan dikata seerat apa cengkeraman itu pada Piala Dunia.

Jerman 2006 menjadi Piala Dunia pertama yang memunculkan interaksi daring via internet. Menurut ABC, fan global mulai menggunakan jejaring sosial daring periode awal seperti MySpace, Facebook yang baru diluncurkan, dan blog sederhana untuk membagikan pengalaman dan pandangan, membangun komunitas daring, dan membahas pertandingan.

Afrika Selatan 2010 menjadi Piala Dunia pertama yang diwarnai dengan konsumsi Twitter dan Facebook. Reaksi selebritas secara langsung mulai merebak dan cepat menyebar seperti ketenaran vuvuzela

Namun, Brasil 2014 yang disebut-sebut sebagai "Piala Dunia Media Sosial" Pertama. Publikasi arus utama dan komentator melabeli Piala Dunia 2014 sebagai "ajang penting medsos" seiring semakin lekatnya masyarakat dunia dengan medsos tersebut. Bintang seperti Neymar menyiarkan secara langsung perkembangan kompetisi. Sejak Brasil 2014 sampai sekarang, medsos menjadi bagian tak terpisahkan dari Piala Dunia.


Lengser dari Takhta

Salah satu megabintang sepak bola merasakan efek mendunianya internet. Pada taraf tertentu, kemasyhurannya turut dibesarkan internet. 

Lionel Messi mereguk banyak gelar di level klub bersama Barcelona. Kesuksesan itu tidak serta-merta menular saat ia berseragam Argentina. 

Meski disebut sebagai salah satu bakat terbaik yang pernah lahir, Messi merasakan kegagalan bersama Albiceleste. Kekalahan di final Piala Dunia 2014 tentu merupakan yang paling menyakitkan. 

Empat tahun lalu di Qatar, mungkin hanya segelintir orang yang enggak ingin Lionel Messi mengangkat trofi emas simbol keberhasilan tertinggi dalam sepak bola. Dunia kemudian turut bergembira atas peran besarnya dalam gelar ketiga Argentina di Piala Dunia. 

Namun, seperti yang sudah lazim di dunia maya, muncul wacana bahwa FIFA membela Argentina dan Messi untuk bisa juara di Qatar 2022. Wacana tandingan pun bermunculan. Langkah Argentina tidak mudah, termasuk menyodorkan trigol Kylian Mbappe di final sebagai bukti pendukung. 

Apa pun, dengan keberhasilan di Piala Dunia 2022, status Messi melangit. Eks pemain PSG itu dianggap sejajar dengan legenda Piala Dunia seperti Diego Maradona.

Empat tahun kemudian di Amerika Utara, anggapan FIFA masih menganakemaskan Messi dkk. terus berkembang sampai sebelum semifinal. Mesir yang paling keras dan gusar setelah Argentina membalikkan ketertinggalan dua gol di perdelapan final. Messi lalu mempertontonkan kemahiran dan pengaruh besarnya dalam permainan global ini dengan dua assist yang menumbangkan Inggris di semifinal. Umpan Messi dengan kaki lemahnya, kanan, yang disambut sundulan Lautaro Martinez, menjadi bahan pembahasan sampai sebelum final di New York-New Jersey.

Argentina berkesempatan mempertahankan gelar, tapi melewatkannya secara buruk. Bukan hanya mesti melihat Spanyol tampil dominan, sang juara bertahan gagal melepaskan sebuah tembakan ke gawang pun selama 90 menit dan hanya dua buah saat perpanjangan waktu. Upaya mereka dipersulit dengan kartu merah yang didapat Enzo Fernandez.

Namun, pemandangan, hasil pantauan melekat panoptikon, setelah Spanyol memastikan gelar dunia kedua merekalah yang mengundang badai opini di dunia maya. Beberapa pemain Argentina, terutama Leandro Paredes dan Nahuel Molina, dan salah satu staf pelatih, Roberto Ayala, tertangkap kamera bersikap agresif terhadap pemain Spanyol. 

Kubu pemenang dipuji karena tidak terpancing lebih jauh. Spanyol bahkan membuat lorong pemain sebagai penghormatan saat skuad Argentina melangkah untuk pengalungan medali perak. Maka, kubu Argentina, kecuali Jose Manuel Alberto "Flaco" Lopez, segera mendapatkan sorotan lagi saat memilih untuk membelakangi perayaan Spanyol dengan trofi. 

Bisa ditebak, Argentina dicerca lagi sebagai pihak kalahan yang getir. Pahit. Tidak cukup berbesar hati untuk menerima kekalahan. Yang lebih menyengat adalah bumbu ini: rasisme dan sentimen anti-Israel. 

Sorotan terhadap Messi lebih pedas lagi dan tentu terfokus yang tak lain sebagai konsekuensi dari ketenarannya. Dari aksi yang tampak tidak fair saat berusaha membuat wasit mengeluarkan Marc Cucurella dengan dalih menutup mulut di sekitaran kartu merah Fernandez, Messi dihujat karena bergeming melihat pertengkaran di depan matanya usai laga. Pemain terbaik empat tahun lalu itu juga membelakangi Spanyol saat pengangkatan trofi.

Empat tahun sebelumnya, Messi dipuja karena menyamai Diego Maradona. Kini, semuanya luntur. Dari segala arah ia dicerca. 

Secepat itu takhta runtuh. Sekejam itu kenyataan terutama akibat dahsyatnya, dengan arti yang rada condong ke negatif, pengaruh dunia maya.


Algoritma Sikap Negatif

Tirai turnamen akbar sejagat sudah ditutup. Akan tetapi, badai ke arah Argentina dan penyelamatnya kayaknya belum akan reda dalam waktu dekat, apalagi ketika penghujat mendengar wacana duel final ulang atau mencoret Albiceleste dari Piala Dunia.

Arsitek Argentina, Lionel Scaloni, sudah mengakui keunggulan Spanyol seraya menepis dugaan teori konspirasi yang beredar sama liarnya dengan sorotan terhadap Messi cs. Tak pelak, internet pula yang menggelar banyak pemandangan yang membuat sebagian pendukung yang merasa melihat beberapa ketidaklaziman yang tampak berat buat Argentina, dari pemilihan wasit dari Eropa, Slavko Vincic (Slovenia), sampai pidato Messi di lorong stadion yang berbeda dengan empat tahun silam.

Wakil Amerika Selatan itu pada akhirnya tidak bisa mengabaikan "perhatian" besar pada mereka. Mengamini Scaloni, Presiden AFA (Federasi Bola Argentina), Claudio Tapia, menyatakan bahwa Spanyol layak keluar sebagai juara. La Furia Roja menang segalanya di laga pamungkas itu.

"Kami tidak bisa melewati Spanyol. Kami tidak dapat memukul Spanyol. Mereka superior, menang secara fair, dan kita harus mengakuinya. Dalam olahraga, kita mesti belajar menerima kekalahan dengan keanggunan yang sama dengan ketika merayakan kemenangan," tutur Tapia, yang disebar juga melalui media sosial.

Pernyataan jantan kubu Albiceleste itu tidak beredar luas, kalah kuat dari arus sikap anti-Argentina. Konon memang begitu cara kerja dunia maya: mendorong apa yang lebih ramai, tak peduli keras, kasar, kejam, atau keji, yang berarti lebih disukai. Algoritma informasi saat ini disebut seperti itu, tapi kondisi sesungguhnya boleh jadi lebih gawat. Yang disebarkan luas oleh internet adalah kenegatifan mereka yang menggunakannya. Demikianlah hemat penulis, bahwa penggunalah yang semestinya disorot alih-alih hanya "menyalahkan" internet. Merekalah yang lebih senang mengedarkan atau bahkan menghasilkan tulisan-tulisan negatif, dan "kebetulan" internet adalah media yang tepat untuk niat tersebut. Di dunia maya, pengguna bisa anonim sehingga tidak perlu terlalu mengkhawatirkan risiko dan imbasnya. Atas nama engagement seperti likes dan comments, semuanya menjadi sah-sah saja.


Nalar dan Nurani

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menentukan standar perilaku pemakai internet, apalagi membela Argentina. Mungkin sekadar pengingat ringan akan bahaya berat pascakebenaran, yang rasa-rasanya tak lain dari anak kandung pascamodernitas. Bila melihat perkembangan setelah final di New York-New Jersey, sepak bola terlihat bukan menjadi bukti semata, tapi malah dapat hanyut dan tenggelam dalam pengaruh mengerikan masa post-truth ini, masa di mana opini beredar liar, mendesakkan kebenaran subjektif yang, repotnya, masif bin massal. 

Istilah post-truth diperkenalkan Steven Tesich pada 1992 dalam esai di majalah The Nation. Dalam refleksinya atas skandal Watergate dan Perang Teluk itu, penulis Serbia-Amerika tersebut menilai bahwa setiap orang dapat secara bebas menentukan keinginan untuk hidup di dunia pascakebenaran, di mana kebenaran objektif kalah dari fiksi yang melenakan. Istilah itu semakin mengglobal sejak 2016, didorong referendum Brexit dan pemilu AS, sampai-sampai Oxford Languages menjadikannya Kata Tahun Ini pada 2016 tersebut.

Dosen STF Driyarkara, J. Sudarminta, memberi gambaran menawan mengenai post-truth ini. Menurutnya, era pascakebenaran ditandai dengan metafora "kecepatan jari" untuk menggambarkan fenomena jari yang lebih cepat daripada nalar dan nurani di media sosial. Jari merespons dan membagikan ulang konten berdasarkan sentimen, keterkejutan, atau bias, bukan karena kebenaran faktual. Maka, kecepatan jari itu lantas memicu penyebaran hoaks dan misinformasi secara masif sebelum informasi tersebut sempat diverifikasi. Budaya gulir (scroll) dan membagikan (share) secara instan membuat orang berhenti meluangkan waktu untuk memeriksa sumber. Subjektivitas menggeser objektivitas: fakta objektif ditolak ditolak atau diganti dengan narasi emosional yang lebih menarik bagi pengguna internet.

Romo Sudarminta menawarkan solusi untuk menghindari gejala kuat pascakebenaran itu dengan refleksi etika dan epistemologi. Untuk melawan fenomena kecepatan jari, pengguna mesti menyelaraskan kembali nalar dan nurani. Cara pertama adalah jeda reflektif: mengerem kecepatan jari, tidak langsung membagikan informasi yang baru dibaca sebelum meneliti validitas sumber. Berikutnya adalah dengan berpikir kritis menggunakan akal budi untuk mengevaluasi informasi apakah masuk akal, faktual, atau sekadar sensasi. Ketiga adalah dengan memegang etika komunikasi, yaitu dengan mengingat tanggung jawab moral sebelum menyebarkan konten agar tidak merugikan orang lain atau memecah belah masyarakat.

Tidak mudah, ya, betapapun positif? Apalagi untuk penggemar bola yang kebanyakan tidak terlalu memedulikan tim lain selain tim favoritnya.