TVRINews - London, Inggris

Tragisnya, Piala Dunia 1990 bukan hanya yang pertama bagi Paul Gascoigne, tapi juga yang terakhir, dan tetap menjadi puncak dari kariernya yang penuh gejolak.

Jatuhnya air mata Paul "Gazza" Gascoigne menjadi salah satu momen paling ikonik dari Piala Dunia 1990 di Italia. Selain penampilannya yang memukau, momen emosional itu juga menjadikannya pahlawan sekaligus nama besar yang dikenal luas, saat Timnas Inggris menutup turnamen dengan fenomena yang disebut “Gazzamania”.

“Ketika semuanya berjalan baik dan saya merasa itu akan segera berakhir, saya menjadi takut, sangat takut. Saya tidak bisa menahan tangis malam itu,” kata Gascoigne mengenang momen menyakitkan itu, dikutip dari FIFA.com.

Fenomena tersebut mencerminkan perubahan, baik dalam sepak bola maupun dalam masyarakat. Sebuah artikel di surat kabar Inggris The Independent bahkan menulis: “Sebelum Paul Gascoigne, pernahkah seseorang menjadi pahlawan nasional dan calon jutawan hanya karena menangis? Luar biasa. Menangislah dan dunia akan menangis bersamamu.”

Tangisan itu dipicu oleh kartu kuning pada menit ke-98 dalam laga semifinal epik Inggris melawan Jerman Barat di Turin, yang akhirnya berujung kekalahan lewat adu penalti. Gascoigne, pemain termuda Inggris di turnamen tersebut sekaligus bintang utama tim, langsung menyadari arti dari kartu kuning itu. 

Setelah sebelumnya sudah mendapat kartu saat babak 16 besar karena melanggar pemain Belgia, Enzo Scifo, ia dipastikan tidak akan bisa tampil di final jika Inggris lolos karena akumulasi kartu kuning.

“Sejak kecil bermain di klub junior, tiap malam saya bermimpi bermain di Piala Dunia. Saya mewujudkan mimpi itu di Italia. Ketika saya mendapat kartu kuning itu, saya tahu semuanya telah berakhir,” ujarnya.

Pelatih Inggris saat itu, Bobby Robson, merasakan kesedihan yang sama. “Hati saya serasa jatuh ke kaki karena saya langsung sadar itu adalah akhir turnamen bagi Paul Gascoigne," kata Robson.

"Dan itu adalah tragedi bagi dia, saya, tim, negara, dan seluruh dunia sepak bola karena dia begitu hebat, dan tampil luar biasa di pertandingan itu. Makin besar pertandingan, makin baik permainannya,” ia menambahkan.

Saat air mata Gazza terus mengalir usai kekalahan Inggris melalui adu penalti, Robson mencoba menghiburnya. “Jangan khawatir,” katanya. “Kamu adalah salah satu pemain terbaik di turnamen ini. Hidupmu masih panjang dan ini baru Piala Dunia pertamamu.”

Saat itu Gascoigne baru berusia 23 tahun dan masa depan terlihat sangat cerah. Robson seharusnya benar. Namun tragisnya, Italia 1990 bukan hanya Piala Dunia pertama Gazza, tetapi juga yang terakhir, dan tetap menjadi puncak dari kariernya yang penuh gejolak.

“Saya tidak pernah mendapat kesempatan bermain di Piala Dunia lagi,” ujar Gazza, menyesal. “Itu adalah masa terbaik bagi saya dan saya tidak ingin itu berakhir. Saya benar-benar berpikir kami akan memenangkan Piala Dunia saat itu. Sulit untuk mengenangnya, karena Anda akan berpikir, ‘Itulah masa-masa indah itu’,” kata Gascoigne.