TVRINews - Sydney, Australia

Perjalanan Graham Arnold membawa Timnas Irak lolos ke Piala Dunia 2026 tidak mudah. Banyak kendala yang harus dilaluinya.

Graham Arnold menjadi pahlawan sepak bola Irak setelah sukses membawa tim nasional lolos ke Piala Dunia 2026. Sudah 40 tahun lamanya para penggemar menantikan momen seperti ini.

Kemenangan atas Bolivia di play-off interkonfederasi memastikan Timnas Irak lolos ke Grup I Piala Dunia 2026. Mereka akan bersaing dengan Prancis, Norwegia, dan Senegal yang sudah lebih dulu dipastikan ada di sana.

Graham Arnold bercerita momen apa saja yang dilalui sejak mengundurkan diri sebagai pelatih Timnas Australia hingga akhirnya menerima tawaran dari Irak dan lolos ke Piala Dunia. Berikut petikan wawancaranya dengan Fox Sports Australia:

Apakah Anda percaya dengan apa yang baru saja terjadi?

Saya masih belum bisa mencerna ini. Jujur saja, ini bukan sekadar malam yang gila. Ini adalah bulan yang gila bagi semua orang yang terlibat. Jelas kami sangat bangga dengan apa yang telah kami lakukan, apa yang telah kami capai, dan apa yang ada di hadapan kami.

Anda memutuskan mundur sebagai pelatih Australia, kemudian menerima tawaran dari Iran. Bagaimana Anda membangun diri Anda agar siap menjalani tugas sebagai pelatih lagi?

Setelah 7 atau 8 bulan tanpa bekerja membuat saya agak mulai gila di rumah. Tidak ada sepak bola, pekerjaan, dan tujuan apa pun untuk dicapai dalam waktu itu. Ketika tawaran dari Irak datang dan saya mengambilnya, orang-orang menganggap saya telah mengambil pekerjaan tersulit di dunia sepak bola.

Saya suka tantangan. Saya mungkin tidak akan menerimanya jika bukan karena fakta bahwa mereka belum lolos kualifikasi selama 40 tahun.

Ada dua momen yang membuat saya bertanya-tanya mengapa Irak belum berhasil lolos dari kualifikasi Piala Dunia. Yang pertama di Olimpiade 2004 Athena, saat mereka mengalahkan kami di perempat final. Berikutnya ketika saya melatih di Piala Asia 2007 dan mereka mengalahkan kami 3-1.

Mereka memiliki kualitas, mereka memiliki pemain yang bagus, tapi mengapa mereka tidak lolos kualifikasi? Saya tahu sedang menghadapi tantangan yang besar, tetapi saya menikmati 99 persen di antaranya.

Anda dikenal sebagai sosok yang sangat mencintai sepak bola Australia dan selalu berupaya meningkatkannya dalam beberapa dekade terakhir. Apakah aneh rasanya ketika menangani tim nasional lain?

Jujur saja, sebelum kami bermain melawan Korea Selatan di Basra, saya memikul tanggung jawab untuk negara lain rasanya sangat berbeda. Saya telah mengambil alih negara yang berbeda dan saya harus memiliki semangat untuk negara itu seperti untuk Australia.

Itulah mengapa saya memilih tinggal di Baghdad selama delapan bulan karena saya benar-benar perlu memahami budaya dan bagaimana orang-orangnya karena jika tidak, Anda tidak akan mengetahuinya dan tidak akan pernah mendapatkan yang terbaik dari orang-orang.

Saya pergi ke sana dengan pola pikir untuk lolos kualifikasi pertama kalinya dalam 40 tahun. Itu jelas merupakan tantangan besar, tetapi di sisi lain sepak bola adalah olahraga nomor satu di Irak. Ini sudah seperti agama mereka juga.

Bagaimana Anda menggambarkan perjalanan di kualifikasi?

Pertandingan pertama saya sebagai pelatih adalah melawan Korea Selatan dan kalah 0-2. Para pemain sebenarnya bermain sangat baik. Kemudian kami menang 1-0 atas Yordania, tapi kami tetap kalah dengan selisih satu poin.

Selanjutnya kami harus memainkan ronde keempat di Arab Saudi. Itu sangat sulit dan benar-benar salah. Qatar dan Arab Saudi ditunjuk sebagai tuan rumah padahal peringkat kami lebih tinggi dari mereka. Awalnya disampaikan tim dengan peringkat tertinggi akan menjadi tuan rumah.

Kami menang 1-0 melawan Indonesia, sementara Arab Saudi menang 3-2 saat menghadapi Indonesia. Ketika kami melawan Arab Saudi hasilnya 0-0, dan mereka berhak lolos karena mencetak lebih banyak gol. Saya memahami para pemain begitu patah hati dengan hasil tersebut.

Selanjutnya kami bermain imbang 1-1 melawan Uni Emirat Arab di Abu Dhabi dan menang 2-1 di Basra. Itu adalah pencapaian yang besar.

Anda sempat meminta pertandingan play-off ditunda karena alasan persiapan tim terganggu. Ceritakan kepada kami apa saja yang terjadi selama itu?

Awalnya kami diberikan penerbangan menggunakan pesawat sewaan oleh Perdana Menteri Irak. Semua anggota tim akan datang ke Baghdad dan langsung ke Monterey. Itu akan menghemat waktu sekitar 15 jam. Dengan agenda itu kami memiliki rencana untuk pergi ke Houston terlebih dulu menjalani pemusatan latihan dan menggelar uji coba.

Tapi karena terjadi perang, wilayah udara Irak ditutup. Penerbangan sewaan dibatalkan. Perbatasan ditutup yang membuat banyak anggota tim tidak bisa keluar. Saya menghubungi FIFA dan bertanya apakah mungkin untuk menunda pertandingan.

Untungnya FIFA membantu dengan penerbangan sewaan dari Yordania. Mereka membawa pemain dengan bus ke Yordania yang perjalanannya memakan waktu 24 jam. Para pemain sempat terjebak di hotel karena rudal mendarat tidak jauh dari tempat mereka. Situasi itu membuat saya harus membatalkan agenda di Houston, tapi untungnya sudah menyiapkan rencana lain.

Anda menjadi orang Australia pertama yang membawa dua tim nasional berbeda ke Piala Dunia. Apakah itu membuat Anda bangga?

Saat ini saya masih dalam proses mencerna semuanya, tapi saya masih ingin mendapatkan yang ketiga dan keempat. Saya harus mengejar rekor Guus Hiddink, dan itu sudah saya katakan kepadanya.

Irak ada di Grup I bersama Prancis, Norwegia, dan Senegal. Para pemain akan menghadapi Kylian Mbappe, Erling Haaland, dan Sadio Mane. Apa yang akan Anda sampaikan kepada tim?

Saya sudah sampaikan ini. Memang bagus telah lolos kualifikasi, tapi kita belum melakukan apa pun. Jangan merayakan dan berpikir semuanya sudah berakhir. Ini baru permulaan. Di Australia orang menyebut ini adalah grup neraka, tapi kami anggap ini grup penuh kegembiraan.

Para pemain saya belum pernah berada di lapangan dengan pemain-pemain level seperti itu. Jadi, suatu kehormatan besar bisa turun ke lapangan bersama para pemain itu. Mari kita percaya pada diri sendiri bahwa kita bisa melakukan sesuatu yang istimewa.