Bek Legendaris Timnas Brasil di Piala Dunia 1982 dan 1986, Socrates. Foto: TVRI/Grafis/Yusuf
TVRINews - Rio de Janeiro, Brasil
Meski bergelar dokter, Socrates adalah perokok berat dan pemabuk. Ia juga melakukan perlawanan politik terhadap rezim militer Brasil lewat gerakan “Democracia Corinthiana.”
Socrates Brasileiro Sampaio de Souza Vieira de Oliveira bukanlah sekadar legenda sepak bola Brasil. Ia adalah paradoks hidup: seorang kapten Timnas Brasil yang anti-atlet, dokter bersertifikat yang memilih lapangan hijau, dan seorang intelektual yang melawan rezim militer dari dalam stadion.
Lahir pada 19 Februari 1954 di Belem, Brasil, ia bahkan sudah membawa beban pemikiran besar sejak kecil. Ayahnya menamainya berdasarkan filsuf Yunani kuno, Socrates, dan membesarkannya di rumah penuh buku politik.
Namun masa kecilnya berubah drastis saat kudeta militer Brasil 1964 terjadi. Di usia 10 tahun, ia menyaksikan ayahnya membakar seluruh koleksi buku tersebut, seakan menjadi sebuah simbol ketakutan di bawah rezim militer negara itu.
Alih-alih menjauh dari dunia intelektual, Socrates justru makin tenggelam di dalamnya. Ia kuliah kedokteran sambil bermain sepak bola profesional, dua dunia yang jarang bertemu.
Klubnya bahkan memberinya syarat yang tidak lazim: tidak perlu latihan, cukup datang saat pertandingan. Ia pun lulus sebagai dokter pada 1977, namun memilih sepak bola karena, seperti yang ia yakini, “dunia kedokteran bisa menunggu.”
Bahkan dengan kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol yang tidak sedikit, pria berpostur 193 cm itu menyebut dirinya sebagai “anti-atlet.” Namun ironi itu justru membuatnya makin ikonik. Ia menjadi kapten Timnas Brasil dan simbol kebebasan di lapangan.
Puncak pengaruhnya bukan hanya terjadi di tim nasional, melainkan juga di klub Sport Club Corinthians Paulista. Di sana, ia memimpin gerakan yang dikenal sebagai “Democracia Corinthiana.”
Tiap orang dalam klub dari pemain bintang, pelatih, hingga petugas laundry memiliki satu suara yang sama untuk menentukan keputusan tim, termasuk susunan pemain.
Lebih dari sekadar eksperimen olahraga, ini adalah perlawanan politik. Mereka mengenakan slogan di jersei dan ikut serta dalam demonstrasi besar, termasuk aksi yang dihadiri lebih dari dua juta orang yang menuntut pemilu bebas di Brasil.
Kemudian pada panggung sepak bola dunia, Socrates memimpin skuad Selecao di Piala Dunia 1982 Spanyol, tim yang hingga kini sering disebut sebagai salah satu yang terbaik sepanjang masa.
Namun, keindahan permainan mereka harus berakhir pahit. Hanya butuh hasil imbang melawan Italia, tetapi Paolo Rossi mencetak hat-trick. Brasil kalah 2-3 di fase grup kedua itu sehingga gagal ke semifinal, dan mimpi juara pun runtuh.
Kemudian pada Piala Dunia 1986 di Meksiko, meski fisiknya sudah tidak seprima tahun 1982, Socrates tetap menjadi andalan di lini tengah. Ia mencetak 2 gol di turnamen ini (melawan Spanyol di fase grup dan Polandia di babak 16 besar).
Sayangnya, Brasil tersingkir secara dramatis oleh Prancis melalui adu penalti setelah bermain imbang 1-1 hingga babak perpanjangan waktu. Tragisnya, Socrates menjadi salah satu pemain yang gagal mengeksekusi penalti dalam drama adu penalti tersebut. Tendangan khasnya yang tanpa awalan berhasil ditepis oleh kiper Prancis, Joel Bats.
Merokok dan Minum Bir Sebelum Berlaga
Bahkan setelah masa jayanya, kisah Socrates tetap tidak biasa. Pada 2004, di usia 50 tahun, ia tampil sebagai pemain pengganti untuk klub divisi rendah liga Inggris, Garforth Town AFC.
Saat pemanasan sebelum laga, Socrates menenggak dua botol bir Budweiser dan menghisap tiga batang rokok. Ia bermain selama 12 menit melawan Tadcaster Albion dan menolak bayaran dari klubnya.
Namun bagian paling menggetarkan dari kisahnya adalah bagaimana ia berbicara tentang kematian. Ia pernah berkata: "Saya ingin meninggal pada hari Minggu ketika Corinthians memenangkan trofi."
Dan seolah takdir mengikuti kata-katanya. Pada 4 Desember 2011, Corinthians memastikan gelar liga. Di hari Minggu yang sama, pukul 04.30 pagi, Socrates dinyatakan meninggal dunia dalam usia 57 tahun.
Socrates adalah seorang dokter yang mampu memahami tubuh manusia, tetapi tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri. Seorang pemain yang melampaui sepak bola, menjadikannya alat perjuangan, pemikiran, dan kebebasan.
Dalam hidupnya, Socrates tidak hanya bermain. Ia berpikir, melawan, dan pada akhirnya, menulis takdirnya sendiri.