Tim nasional sepak bola Belgia. (TVRI/Grafis/Dede Mauladi) Foto: TVRI/Grafis/Dede Mauladi
TVRINews – Seattle, Amerika Serikat
Para pemain terakhir dari generasi emas Belgia siap berbaur dengan bintang-bintang masa depan di Piala Dunia FIFA 2026.
Generasi emas mungkin merupakan era yang memudar dalam sepak bola Belgia. Akan tetapi, tim nasional negara tersebut masih bergantung pada beberapa pemain yang tersisa dari skuad Golden Generation kendati usianya sudah tidak muda lagi.
Beraksi antara tahun 2014 sampai 2022, materi pemain generasi emas Belgia disebut-sebut sebagai salah satu yang paling hebat dan berbakat dalam sejarah sepak bola modern.
Namun, kendati sering menduduki peringkat pertama dunia (FIFA), pencapaian terbaik generasi emas Belgia hanya peringkat ketiga (medali perunggu) Piala Dunia 2018. Sementara empat tahun lalu di Qatar, De Rode Duivels – julukan Timnas Belgia – tersingkir di fase grup.
Setelah hasil memalukan di Piala Dunia 2022 itu, generasi emas bisa dibilang bubar. Para pemain seperti Eden Hazard, Dries Mertens, Nacer Chadli, Vincent Kompany, dan Jan Vertonghen telah pensiun.
Kini, dari generasi emas tinggal Kevin De Bruyne, Romelu Lukaku, Axel Witsel, Thomas Meunier, dan Thibaut Courtois masih dipercaya masuk Timnas Belgia namun sudah berada di pengujung karier.
Pelatih Timnas Belgia Rudi Garcia masih akan berusaha menampilkan kiper Courtois, De Bruyne pemain nomor 10, dan Romelu Lukaku sebagai striker. Namun, demi membangun identitas yang benar-benar kohesif, Garcia tidak akan bergantung kepada para bintang tua ini.
Garcia bakal memadukannya dengan generasi talenta Belgia berikutnya seperti Jeremy Doku dan Charles De Ketelaere dalam formasi 4-2-3-1, daripada terlalu bergantung pada penampilan terakhir dari para veteran yang sejauh ini gagal memenuhi ekspektasi tinggi mereka.
Melihat rekor dan statistik selama ditangani Garcia, rasanya tidak mustahil Belgia bakal melangkah lebih jauh dibanding pencapaian terbaik mereka di Piala Dunia (perunggu pada 2018). Lantas, faktor apa saja yang membuat Belgia diprediksi bakal lebih baik di Piala Dunia 2026 ini?
Kekuatan dan Kedalaman Skuad Belgia
Inti kekuatan Timnas Belgia saat ini ada di lini serang dan tengah lapangan, jika dilihat dari kualitas pemain yang dimiliki. Namun, bukan berarti sektor pertahanan Setan Merah lemah.
Di bawah mistar, Garcia mungkin masih akan percaya pada kemampuan Courtois. Dengan postur setinggi 2 meter, kiper Real Madrid ini masih menjadi salah satu penjaga gawang dengan refleks dan blok paling tangguh.
Kiper kedua akan ditempati Senne Lammens yang baru berusia 23 tahun. Ia kini tengah menikmati masa-masa keemasan di musim penuh pertamanya bersama Manchester United.
Barisan bek menjadi sektor yang benar-benar baru. Setelah era Kompany, Vertonghen, dan Toby Alderweireld berakhir, kini Belgia mengandalkan tiga bek muda: Zeno Debast (22), Koni De Winter (23), dan Arthur Theate (26).
Ketiganya, dan khususnya Debast (Sporting CP) dan De Winter (AC Milan), memiliki kemampuan yang dibutuhkan oleh seorang bek tengah modern. Piala Dunia akan menunjukkan apakah mereka juga memiliki ketangguhan seperti para pendahulu mereka.
Karena De Bruyne dan Witsel yang kini sudah melewati usia 30 tahun, Youri Tielemans (Aston Villa) akan menjadi wajah lini tengah Belgia sebagai gelandang tengah dan juga kapten tim. Bersamanya, rekan satu klubnya, Amadou Onana, membentuk fondasi yang kuat.
Penyerang sayap Manchester City, Jeremy Lukaku, kemungkinan akan menjadi jantung serangan Belgia. Biasa bermain di kiri, Doku menunjukkan sekilas kemampuan mencetak golnya menjelang akhir musim 2025-2026, dan Piala Dunia bisa menjadi platform ideal untuk benar-benar menunjukkan potensi tersebut.
Talenta-talenta lain seperti Charles De Ketelaere (Atalanta BC), Matias Fernandez-Pardo (LOSC Lille), Alexis Saelemaekers (AC Milan), dan Leandro Trossard (Arsenal) juga patut diperhatikan.
Terakhir, kualitas bintang senior mereka tidak dapat diabaikan. De Bruyne dan Lukaku masih bisa menjadi penentu pertandingan, meskipun mereka mungkin tidak bermain selama 90 menit penuh.
Lukaku mungkin bisa turun namun kurang begitu fit. Kendati berpotensi tidak diperkuat striker raksasa tersebut, lini depan Belgia bukan berarti langsung bermasalah.
De Ketelaere yang telah mencetak tiga gol dan tiga assist di bawah asuhan Garcia, terkadang beroperasi sebagai false nine. Sementara, Doku yang sedang dalam performa terbaik di Man City dan Trossard yang baru memenangi gelar Liga Primer Inggris dan finalis Liga Champions Eropa, juga diperkirakan akan menjadi starter.
Kelemahan De Rode Duivels
Pertahanan yang kebobolan lima gol saat kualifikasi melawan Wales – satu-satunya tim yang mampu menjebol Belgia lebih dari dua gol kendati tetap kalah 3-4 (tandang) dan 2-4 (kandang) – telah melemah akibat cedera yang dialami Debast.
Sang bek tengah mengalami cedera otot paha dan kaki kanan saat latihan pada pertengahan Mei lalu. Di Piala Dunia nanti, ia diperkirakan baru bisa dimainkan pada pertandingan ketiga Belgia, saat melawan Selandia Baru pada 27 Juni di Vancouver, Kanada.
Dalam uji coba melawan Kroasia pada 2 Juni lalu (menang 2-0), Garcia untuk pertama kalinya menurunkan lima bek dengan skema awal 3-5-2.
Theate menjadi bek tengah didampingi Nathan Ngoy (LOSC Lille) di kiri dan Onana diminta bermain sebagai bek kanan. Sementara, Maxim De Cuyper (Brighton) bermain sebagai wing-back di kiri sedangkan Saelemaekers di kanan. Nicolas Raskin (Rangers) membantu pertahanan sebagai gelandang bertahan.
Di babak kedua, barulah Garcia menurunkan empat bek murni lainnya, yakni Brandon Mechele (Brugge), De Winter, Meunier, dan Joaquin Seys (Brugge) untuk melapis Theate. Komposisi tersebut cukup untuk menahan serangan Kroasia hingga peluit akhir.
Mengapa Belgia Sangat Mungkin Melaju Lebih Jauh
Aspek lain yang bisa menguntungkan Belgia adalah undian Piala Dunia FIFA 2026 mereka. Berada di Grup G, Belgia akan menghadapi Mesir, Iran, dan Selandia Baru - negara-negara yang mampu dilampaui, meskipun skuad mereka tidak sekuat edisi sebelumnya. Belgia akan menjalani laga pertama dengan melawan Mesir di Seattle, Amerika Serikat (AS) pada 15 Juni waktu setempat.
Dengan merebut posisi teratas di Grup G berarti Belgia kemungkinan akan menghadapi tim peringkat ketiga dari grup lain (A/E/H/I/J) di babak 32 besar.
Kemudian, mengingat susunan undiannya, pemenang Grup D (yang terdiri dari AS, Turki, Paraguai, Australia) – yang diprediksi mampu mengalahkan peringkat ketiga grup lain (B/E/F/I/J), kemungkinan akan menjadi lawan Belgia di babak 16 besar.
Kendati diperkirakan bakal mulai menemui lawan berat di babak 16 besar, di atas kertas jika semua faktor mendukung, Belgia tetap akan menjadi favorit melaju ke perempat final.
Jika kemungkinan itu terjadi, lolos ke perempat final sudah akan menjadikan pencapaian terbaik ketiga Belgia di Piala Dunia, setelah semifinalis (peringkat keempat) pada 1986 dan posisi ketiga pada 2018.