Ilustrasi Piala Dunia 2026. Foto: TVRI/Grafis/Yusuf
TVRINews - Manitoba, Kanada
Sebanyak 16 stadion tuan rumah di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada dengan kondisi iklim yang sangat berbeda menjadi tantangan tersendiri bagi para ahli rumput.
Ketika miliaran penggemar sepak bola di seluruh dunia menyaksikan Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada, 11 Juni-19 Juli, mereka sebenarnya juga akan melihat hasil dari sebuah misi besar yang jarang mendapat sorotan. Yakni, proyek pengembangan rumput stadion kelas dunia.
Para ilmuwan, petani benih, dan spesialis turf bekerja keras memastikan setiap stadion memiliki permukaan terbaik untuk pertandingan terbesar di dunia.
Dari Meksiko hingga Kanada, 16 stadion tuan rumah dengan kondisi iklim yang sangat berbeda menjadi tantangan tersendiri bagi para ahli rumput.
Tujuan mereka sederhana namun krusial: menciptakan lapangan hidup yang mampu bertahan dari tendangan, tackle, injakan puluhan pemain, hingga panas terik musim panas di wilayah Amerika Utara, tempat pertandingan Piala Dunia 2026.
“Taruhannya sangat besar dan tidak ada ruang untuk kesalahan. Kami benar-benar tidak ingin mengalami kegagalan apa pun,” kata petani rumput khusus, Bert Bos, dikutip dari Reuters, Kamis (4/6/2026).
Keluarga Bos bertanggung jawab menyediakan rumput untuk stadion Piala Dunia di Vancouver, Kanada, yang akan menggelar tujuh pertandingan mulai 13 Juni 2026.
Teknologi Terdepan di Balik Rumput Kelas Dunia
Semangat yang sama juga dimiliki Leah Brilman, doktor ilmu rumput yang kini menjabat sebagai manajer senior pengembangan turfgrass di perusahaan benih rumput global DLF.
Brilman mengaku bangga dapat menyediakan benih ryegrass dan jenis rumput lainnya untuk stadion Piala Dunia di Vancouver dan Mexico City. Namun di atas segalanya, ia ingin memastikan semua berjalan sempurna ketika puluhan pemain mulai menginjak dan merusak permukaan lapangan selama pertandingan.
“Prosesnya jauh lebih rumit daripada yang dibayangkan banyak orang,” ujar Brilman, yang telah terlibat dalam penyediaan rumput untuk stadion Piala Dunia sejak edisi 2010 di Afrika Selatan.
Jenis rumput yang digunakan berbeda-beda tergantung lokasi stadion. Kota-kota dengan suhu sangat panas menggunakan campuran rumput berbasis bermudagrass yang lebih tahan terhadap cuaca ekstrem.
Sementara itu, kota beriklim lebih sejuk seperti Vancouver dan Mexico City menggunakan campuran ryegrass yang tumbuh optimal dalam kondisi dingin.
Rumput Khusus Butuh Petani Khusus
“Ini membuat saya merasa rendah hati,” kata Lorne Boundy, petani benih rumput dari Manitoba, Kanada. Boundy bangga karena benih ryegrass yang berasal dari komunitas pertaniannya akan menjadi bagian dari lapangan Piala Dunia.
Varietas rumput yang digunakan saat ini merupakan hasil penelitian akademis dan komersial selama puluhan tahun. Pengembangannya melibatkan berbagai lahan penelitian di seluruh dunia serta kerja sama intensif dengan FIFA, yang menetapkan standar kualitas dan telah menginvestasikan jutaan dolar untuk pengembangan rumput khusus sepak bola.
“Kami menghabiskan banyak waktu dan investasi untuk ini,” kata Brilman. “Setiap generasi kami terus meningkatkan apa yang sudah ada.”
Karena itu, rumput yang digunakan pada Piala Dunia sebelumnya belum tentu digunakan lagi saat ini. Program pemuliaan tanaman terus menghasilkan varietas yang lebih kuat menghadapi penyakit dan gulma, sekaligus membutuhkan lebih sedikit air dan pupuk.
Industri benih rumput sendiri tergolong kecil. Boundy memperkirakan hanya ada beberapa ratus petani di provinsinya yang memproduksi benih untuk lapangan golf, taman bermain, taman kota, hingga jutaan halaman rumah di Amerika Utara.
Selain Manitoba, terdapat komunitas petani benih rumput lain di wilayah seperti Lembah Willamette di Oregon dan kawasan barat daya Amerika Serikat yang menghasilkan varietas sesuai kondisi wilayah masing-masing.
Setelah dipanen, benih-benih tersebut dibersihkan, dikemas, dan didistribusikan kepada pelanggan, termasuk pemerintah kota, pengelola taman, hingga produsen rumput gulung.
Akar Menyamping dan "Kaki Palsu"
Bos mengaku menikmati tantangan menghasilkan rumput yang unik untuk kebutuhan Piala Dunia. Rumput yang ia tanam tumbuh di atas lapisan plastik, memiliki akar yang berkembang ke arah samping, dan tumbuh melalui lapisan kain menyerupai jaring.
“Penyedia teknologi dari Australia mendampingi kami sepanjang proses,” ujar Bos.
Standar yang diterapkan pun sangat ketat. Dalam rentang tiga meter, misalnya, perbedaan ketinggian permukaan lapangan hanya boleh sekitar lima milimeter. “Semua memiliki toleransi yang sangat ketat,” katanya.
Pengujian dilakukan sepanjang proses produksi. Salah satunya menggunakan alat yang disebut “kaki palsu”, yang menekan permukaan rumput untuk mensimulasikan pergerakan cepat seorang pesepak bola.
Brilman menegaskan bahwa rumput untuk sepak bola tidak bisa disamakan dengan rumput yang digunakan dalam sepak bola Amerika atau rugby. “Mereka adalah pemain dengan ukuran tubuh yang berbeda,” ujarnya.
Menurut Brilman, pola kerusakan lapangan dalam sepak bola juga berbeda. Area di depan gawang biasanya menjadi bagian yang paling cepat rusak akibat aktivitas pemain yang sangat tinggi.
“Anda harus terus menaburkan benih baru di area tersebut sepanjang waktu,” katanya.
Tantangan lain pada Piala Dunia 2026 adalah sejumlah stadion harus memasang lapangan rumput alami di atas permukaan rumput sintetis yang sebelumnya telah terpasang permanen.
Berharap Tak Ada yang Memperhatikan Rumput
Menariknya, tujuan akhir para ahli rumput ini justru agar tidak ada yang membicarakan rumput sama sekali.
Semua pihak ingin menghindari terulangnya insiden Super Bowl 2023, ketika banyak pemain mengeluhkan kondisi lapangan yang licin sehingga menjadi salah satu cerita paling diingat dari pertandingan tersebut.
Bagi Tom Rinn, manajer pemrosesan dan distribusi DLF, ada kebanggaan tersendiri mengetahui benih yang diproses perusahaannya akan menjadi bagian dari panggung terbesar sepak bola dunia.
Ia membayangkan duduk bersama teman-temannya menyaksikan pertandingan Piala Dunia sambil menikmati minuman dingin.
“Saya tidak sabar duduk menonton pertandingan bersama teman-teman dan bisa berkata, ‘Itu rumput kami. Yang itu di sana. Rumput itu pernah melewati tempat kami’,” ujar Rinn.