TVRINews - Los Angeles, Amerika Serikat

Tersingkir secara dramatis dengan gol injury time, Bafana Bafana bisa pulang dengan kepala tegak. 

Ronwen Williams memimpin Afsel dari bawah mistar. Untuk sekian lama sampai menjelang waktu normal babak berakhir, Williams masih merupakan kiper tersibuk, tapi gawangnya belum kebobolan.

Sebelum laga, Ronwen Williams telah membukukan 14 penyelamatan. Angka itu masih cukup jauh dari kiper Curacao, Eloy Room, yang menghasilkan 21 penyelamatan. Namun, Curacao tidak tampil di fase gugur. 

Torehan 14 penyelamatan itu menempatkan Ronwen Williams di peringkat keenam. Dari enam besar itu, hanya kiper Afsel itu dan kiper Paraguai, Orlando Gill, yang berlanjut ke 32 besar.

Ronwen Williams telah terbiasa dengan tekanan. Bafana Bafana tampil gugup dan buruk di laga pembukaan menghadapi Meksiko. Namun, Afsel bisa menjadi runner-up Grup A. Dengan tekanan tersebut, tak berlebihan bila menyebut Ronwen Williams sebagai salah satu kapten terbaik Bafana Bafana.

Sang kiper telah membuktikan diri di level klub. Penjaga gawang kelahiran Gqeberha itu memimpin Mamelodi Sundowns ke gelar Liga Champion Afrika 2025/26. Trofi itu yang kedua bagi klub itu untuk menuntaskan paceklik selama 10 tahun. Di level timnas, eks binaan Tottenham Hotspur ini membawa Afsel finis di peringkat ketiga Piala Afrika 2023.

Kerja Keras dan Janji Broos

Di Los Angeles Stadium pada Ahad, Ronwen Williams membuat total lima penyelamatan. Yang paling mengesankan adalah kala ia menangkal tembakan Tanitoluwa Oluwaseyi di dalam kotak penalti meneruskan sodoran daerah di pertengahan babak kedua. 

Jika saja pertahanan Afrika Selatan meneruskan ketangguhan mereka sampai akhir paruh kedua, jalan cerita bisa berakhir pada kesuksesan wakil Afrika itu. Bila sampai harus ditentukan dengan adu penalti, Ronwen Williams boleh jadi akan melanjutkan kiprah mantapnya di bawah mistar gawang Afsel. 

Sejumlah pihak berpendapat Afrika Selatan perlu mempertimbangkan adu penalti mengingat ketangguhan Ronwen Williams di bawah mistar. Afsel boleh jadi menyukai ide itu sehingga terkesan memperlambat tempo permainan hingga sering menahan bola dan menggulirkan bola secara perlahan di daerah pertahanan sendiri.

Apapun, Williams merasa perjalanan skuad Afsel sudah memberikan kegembiraan dan kebanggaan bagi seluruh Negeri Nelson Mandela. Untuk pertama kali dalam sejarah Piala Dunia, Afsel tampil di fase gugur turnamen empat tahunan ini.

Sang kiper berusia 34 tahun melepaskan pujian untuk Hugo Broos. Sosok yang mencetak sejarah, di usia 74 tahun 79 hari, sebagai pelatih tertua di fase gugur Piala Dunia. Pemegang rekor sebelumnya adalah Oscar Tabarez, berusia 71 tahun kala membawa Uruguai lolos sampai perempat final Piala Dunia 2018.

"Kami bekerja keras untuk bisa tampil di Piala Dunia. Partisipasi ini tidak datang begitu saja. Butuh pengorbanan selama bertahun-tahun untuk kami bisa terus maju dan tetap yakin," ucap Ronwen Williams seperti dikutip dari Daily Maverick.

"Saya ingat ketika pelatih Broos mulai melatih dan menjanjikan kami akan berada di Piala Dunia 2026. Dan kami tidak ingin mengecewakannya. Kami bekerja sangat keras sebagai sebuah tim. Kami melihat apa arti kelolosan ke Piala Dunia bagi rakyat Afrika Selatan. Kini kami menginspirasi seluruh negeri," kiper bernama lengkap Ronwen Hayden Williams ini melanjutkan.