Pelatih Yordania, Jamal Sellami. Foto: TVRI/Grafis/Yusuf
TVRINews - Dallas, Amerika Serikat
Sellami menyebut Piala Dunia 2026 menjadi fondasi penting untuk meningkatkan standar kualitas fisik dan taktis skuad Yordania.
Pelatih tim nasional Yordania, Jamal Sellami, menegaskan anak asuhannya memetik pelajaran yang sangat berharga dari pengalaman debut di panggung Piala Dunia 2026. Meski harus angkat koper lebih awal setelah menelan tiga kekalahan beruntun di fase grup, ia tetap mengapresiasi daya juang pasukannya.
Pada laga pemungkas Grup J, Yordania merasa kekuatan sang juara bertahan, Argentina. The Chivalrous dikalahkan dengan skor 1-3 di Dallas Stadium, Minggu (28/6/2026) pagi WIB.
Yordania sejatinya tampil kompetitif dengan selalu berhasil mencetak gol pada setiap pertandingan, namun faktor minimnya jam terbang internasional membuat mereka kerap melakukan kesalahan sendiri. Evaluasi mendalam mengenai detail-detail kecil di atas lapangan hijau dipastikan menjadi catatan paling krusial bagi perkembangan para pemain ke depan.
“Hal terpenting yang bisa kami bawa pulang adalah para pemain telah mengalami secara langsung apa yang telah mereka latih selama bertahun-tahun ini. Mereka akan menjadi lebih baik karena pengalaman tersebut,” kata Sellami usai pertandingan dikutip dari Reuters.
Sellami juga mengungkapkan terus memotivasi para penggawa Yordania untuk segera membenahi kualitas fisik serta atribut taktis individu selepas turnamen ini berakhir. Menghadapi negara-negara raksasa dengan intensitas permainan tinggi di level dunia diakui menuntut standar kebugaran yang jauh lebih prima.
“Saya selalu mengatakan kepada para pemain untuk mengembangkan diri mereka dan meningkatkan kebugaran, karena mereka akan menghadapi tim-tim level tinggi yang membutuhkan tingkat kebugaran yang lebih tinggi. Kami telah bekerja keras untuk meningkatkan keterampilan mereka, dan kini mereka akan jauh lebih siap untuk menghadapi kompetisi seperti ini di masa depan,” ucap pria berusia 55 tahun tersebut.
Arsitek taktik asal Maroko itu menilai kelengahan dalam mengantisipasi skema serangan balik cepat menjadi momok utama yang membuat lini belakang timnya rapuh. Ia mengingatkan kontestan sekelas Argentina yang merupakan juara bertahan tidak akan pernah menyia-nyiakan celah sekecil apa pun untuk dikonversi menjadi gol.
“Mereka bermain dalam tiga pertandingan dan mampu mencetak gol di setiap laga tersebut. Namun, kesalahan-kesalahan kecil dibayar sangat mahal dan karena hal inilah kami kebobolan banyak gol. Ketika Anda menghadapi juara dunia, kesalahan akan merugikan Anda,” tuturnya.
Kendati gagal melaju ke babak 32 besar, Sellami menggarisbawahi satu catatan positif karena anak asuhnya menjadi satu-satunya tim yang berhasil membobol gawang Argentina di fase grup. Hal tersebut membuktikan strategi ofensif yang diterapkannya sempat berjalan dengan sangat baik dan merepotkan barisan pertahanan lawan.
“Argentina adalah salah satu tim terkuat dan memiliki pemain-pemain yang luar biasa. Kami adalah satu-satunya tim yang mampu mencetak gol ke gawang mereka (di fase grup). Kami tahu bagaimana cara bermain melawan mereka,” ujarnya.
Petualangan perdana di ajang sepak bola paling bergengsi antarnegara ini dipandang sebagai fondasi awal yang sangat kokoh untuk membangun generasi baru tim nasional Yordania. Dari awal target utama mereka memang berfokus pada proses adaptasi dan penyerapan ilmu bertanding.
“Kami tersingkir dari kompetisi ini tetapi bangga dengan apa yang telah kami capai sebagai pengalaman pertama. Kami datang ke sini dengan keinginan untuk mengambil pelajaran sebanyak mungkin, dan kami telah melakukan hal itu,” ungkapnya.