Stephen Eustaquio, pahlawan kemenangan Kanada atas Afrika Selatan di 32 besar Piala Dunia 2026. Foto: TVRI/Grafis/Dede Mauladi
TVRINews - Los Angeles, Amerika Serikat
Stephen Eustaquio berperan besar dari awal sampai akhir laga Kanada mengalahkan Afrika Selatan di 32 besar.
Kanada menjadi tim pertama yang menjejakkan kaki di perdelapan final. Keberhasilan itu tak lepas dari peran Stephen Eustaquio sampai puncaknya saat injury time laga 32 besar melawan Afrika Selatan di Los Angeles Stadium.
Stephen Eustaquio tampil penuh di laga pada Ahad (28/6/2026) ini. Pelatih Kanada, Jesse March, menugaskan pemain berusia 29 tahun itu memimpin skuad berjulukan Les Rouges atau Si Merah itu kepada Eustaquio.
Tanggung jawab Stephen Eustaquio memimpin pasukan Kanada berlangsung sampai menit ke-75. Ban kapten berpindah ke lengan Alphonso Davies, kapten pertama Kanada.
Meski begitu, Stephen Eustaquio melanjutkan peran menggalang lapangan tengah Kanada, terutama di sisi ofensif, sampai akhir laga. Statistiknya, per Flashscore, mengesankan.
Di laga ini, Eustaquio membuat 5 operan kunci, 5 operan ke dalam kotak yang selalu akurat, dan menciptakan 2 peluang bagus. Torehan bisa diteruskan dengan akurasi umpan sebesar 71 persen hasil 5 dari 7 umpan yang menemui target. Akurasi operannya secara keseluruhan tercatat 90 persen.
Kiprah menawan pemain yang sempat memperkuat Portugal U-21 ini berujung pada gol tunggal menit kedua injury time yang merupakan buah dari visi bagusnya. Gelandang yang pernah bermain untuk sejumlah klub di Portugal itu mendapatkan bola di depan kotak penalti Afsel. Setelah mencoba mengendalikan bola, Eustaquio menggeber si kulit bundar dengan tembakan setengah voli. Kiper Afsel yang tampil apik, Ronwen Williams, tak bisa menahan bola yang kemudian bersarang di pojok kanan gawangnya.
"Kami bekerja keras untuk meraih kemenangan ini. Kami sungguh ingin memberikan kemenangan ini untuk semua warga Kanada. Kami tetap yakin dan terus menekan. Gol yang luar biasa, tapi ketika menembak, saya merasa setiap orang menembak bersama saya. Setiap pemain memberikan sedikit kekuatan pada tembakan itu, dan bola bisa bersarang di gawang. Jadi, saya sangat bahagia," ucap Eustaquio dikutip dari situs FIFA.
Di 16 besar, tim yang juga berjulukan The Maple Leaf itu akan bertemu pemenang partai Belanda vs Maroko. Gelandang yang cukup mengakrabi atmosfer Los Angeles karena saat ini tercatat sebagai pemain klub Los Angeles FC pinjaman dari Porto itu segera melayangkan fokus ke perdelapan final tersebut.
"Kami akan mencoba membuat Maroko atau Belanda melihat dan merasakan permainan kami. Mereka akan mendapatkan pertarungan terkeras di Piala Dunia ini. Saya pikir kami telah melakukan pekerjaan luar biasa, jadi laga pekan depan akan luar biasa pula," sebut Stephen Eustaquio.