Kiper Timnas Spanyol dan Barcelona, Joan Garcia. Foto: TVRI/Grafis/Dede Mauladi
TVRINews - Tennessee, Amerika Serikat
Garcia menegaskan siap memberikan kontribusi terbaiknya bagi La Roja meskipun harus memulai laga dari bangku cadangan.
Joan Garcia, memilih tetap tenang menghadapi cuaca panas yang menyengat di Chattanooga, Tennessee, selama masa persiapan tim nasional Spanyol. Penjaga gawang berusia 25 tahun itu sukses mengunci posisi nomor satu di bawah mistar Barcelona asuhan Hansi Flick sepanjang musim 2025/26.
Namun, situasinya berubah drastis ketika Garcia bergabung dengan skuad Spanyol di bawah komando pelatih Luis de la Fuente. Pada level internasional, penjaga gawang Athletic Bilbao, Unai Simon, lebih banyak difavoritkan para pengamat untuk turun sebagai pilihan utama.
Kondisi ini membuat Garcia mulai dibanding-bandingkan dengan sosok kiper legendaris Barcelona lainnya, Victor Valdes. Valdes sangat dikenal dalam sejarah sepak bola Spanyol karena rela menjadi pelapis Iker Casillas selama era keemasan La Roja.
Meskipun lebih banyak menghabiskan waktu di bangku cadangan, dedikasi tinggi Valdes membuatnya tetap dihormati sebagai bagian penting dari skuad juara dunia. Garcia pun tidak menampik mengagumi pencapaian seniornya tersebut di level klub maupun tim nasional Spanyol.
“Saya berharap bisa meraih pencapaian yang sama seperti dia, dia memenangkan segalanya,” kata Garcia dalam wawancara terbaru dengan Diario SPORT.
“Saya sangat senang berada di sini dan tidak sabar untuk menikmati perjalanan demi melangkah sejauh mungkin,” Garcia menambahkan.
Kesempatan Garcia masuk ke dalam skuad Piala Dunia 2026 sebenarnya terbuka melalui jalan yang terbilang tragis bagi rekan seklubnya di Barcelona. Kiper utama Jerman, Marc-Andre ter Stegen, mengalami cedera lutut parah yang memaksanya absen total dari turnamen akbar ini.
Garcia mengaku situasi darurat tersebut bukan cara yang diinginkannya untuk menembus persaingan skuad Spanyol. Secara blak-blakan, mantan pemain Espanyol ini menggambarkan kepedihan atas cedera yang menimpa Ter Stegen.
Kini, Garcia juga harus berhadapan dengan kritik publik setelah sempat tampil kurang meyakinkan dalam laga uji coba terbaru melawan Irak. Dalam pertandingan pemanasan tersebut, ia gagal mengantisipasi tembakan tidak terduga lawan yang membuat gawang Spanyol kebobolan.
Hanya saja, Garcia memilih untuk tidak berlarut-larut dalam penyesalan mendalam yang justru bisa merusak fokusnya di sesi latihan. Baginya, ketangguhan mental seorang penjaga gawang diuji dari cara mereka bangkit setelah melakukan kesalahan di lapangan.
“Aan menjadi sebuah kesalahan besar jika saya terlalu banyak memikirkannya atau menyalahkan diri sendiri karena hal itu,” tuturnya.
Di saat Garcia fokus bersaing bersama Unai Simon dan kiper Arsenal, David Raya, manajemen Barcelona justru dilaporkan mulai berburu kiper baru. Nama penjaga gawang Real Sociedad, Alex Remiro, gencar dirumorkan akan direkrut meskipun dicoret dari skuad Spanyol kali ini.
Garcia tidak merasa terganggu dengan rumor transfer yang berpotensi mengancam posisi utamanya di level klub tersebut. Ia tetap memberikan penilaian yang sangat objektif dan memuji kualitas yang dimiliki oleh rekan sejawatnya di kompetisi LaLiga itu.
“Dia adalah penjaga gawang yang hebat, saya selalu mengatakannya, dia adalah salah satu yang paling saya sukai di LaLiga,” ucapnya.
Saat ini, seluruh pikiran Garcia tercurah sepenuhnya untuk membantu kampanye Spanyol di Piala Dunia 2026. Ekspektasi tinggi dari publik menjadi motivasi tambahan bagi seluruh elemen tim untuk membawa pulang trofi juara.
Kondisi internal Spanyol pun makin kondusif setelah penyerang muda berbakat, Lamine Yamal, perlahan mulai kembali bergabung dalam sesi latihan. Garcia membagikan kabar positif terkait kesiapan fisik rekan setimnya itu menjelang pertandingan pertama Grup H melawan Tanjung Hijau, Senin (15/6/2026) malam WIB.
“Dia akan siap untuk pertandingan debut,” ujar Garcia meyakinkan kondisi kebugaran Yamal.
Selain itu, Garcia menegaskan siap mengemban tanggung jawab apa pun di dalam tim, termasuk jika harus menjadi penonton dari pinggir lapangan. Baginya, kepentingan kolektif dan keharmonisan ruang ganti jauh lebih penting daripada ego pribadi untuk menjadi starter.
“Hanya satu penjaga gawang yang bisa bermain. Siapa pun yang mendapat kesempatan bermain harus memberikan segalanya, dan sisanya harus memberikan dukungan penuh dari luar,” tuturnya.