Cristiano Ronaldo dinilai bisa menyulitkan Portugal di Piala Dunia 2026, dibanding dengan Lionel Messi bersama Argentina. Foto: TVRI/Grafis/Yusuf
TVRINews - New York, Amerika Serikat
Transisi kepemimpinan menjadi kunci agar talenta muda di kedua skuad bisa berkembang maksimal secara efektif.
Argentina dan Portugal menyadari betul bahwa mereka tetap bisa meraih kesuksesan di Piala Dunia 2026 tanpa kehadiran Lionel Messi maupun Cristiano Ronaldo. Meski sang juara bertahan dianggap mampu mengatasi absennya Messi, rival Selecao das Quinas justru diprediksi kesulitan untuk menepikan Ronaldo pada turnamen nanti.
Pandangan tersebut disampaikan oleh pengamat sepak bola Eropa, Andy Brassell, yang telah menimbang peluang kedua negara untuk beranjak dari bayang-bayang dua megabintang tersebut. Perhelatan Piala Dunia mendatang akan menjadi panggung terakhir bagi Messi dan Ronaldo untuk bersaing membela negara masing-masing.
Messi telah mengukuhkan posisinya dalam sejarah empat tahun lalu saat memimpin Argentina meraih kejayaan di Qatar dengan memikul beban seluruh tim di pundaknya. Di sisi lain, Ronaldo berharap dapat meniru pencapaian itu bersama Portugal dalam kesempatan terakhirnya sebelum memutuskan untuk gantung sepatu.
Namun, mengingat Messi dan Ronaldo kini masing-masing telah berusia 38 dan 41 tahun serta bermain di luar liga-liga top dunia, mungkin sudah saatnya bagi mereka untuk memberikan jalan ke generasi baru. Brassell berpendapat ada kemungkinan nyata bahwa kedua negara tersebut pada akhirnya akan mengurangi intensitas penggunaan jasa para pemain terbaik mereka musim panas ini.
"Mereka berdua tahu bahwa mereka dapat menurunkan tim yang sangat bagus, efektif, dan cair, tanpa pemain paling terkenal yang pernah mereka miliki," kata Brassell dikutip dari talkSPORT.
"Saya pikir dibutuhkan kecerdasan dan keberanian untuk memainkan Ronaldo dan Messi dengan cara yang tepat agar bisa mendapatkan hasil maksimal dari mereka, sekaligus memaksimalkan potensi tim. Saya tidak sedang mengatakan bahwa orang-orang ini telah menjadi penghambat, itu salah, tetapi saya rasa perlu ada kepekaan dan kecerdasan dalam cara Anda menggunakan mereka, terutama jika kondisi cuaca nanti terasa sangat berat," Brassell melanjutkan.
Brassell juga memberikan penilaian mengenai negara mana yang menurutnya paling mampu bertahan tanpa ikon mereka, dan hasilnya membawa kabar baik untuk Argentina. Ia menilai La Albiceleste belakangan ini telah menunjukkan lebih nyaman bermain tanpa Messi dibandingkan ketergantungan Portugal terhadap Ronaldo.
"Tidak bisa dipungkiri bahwa ada unsur politik dalam kedua kasus tersebut, tetapi Anda bisa melihat Lionel Scaloni telah mendapatkan haknya karena dia telah memenangkan Piala Dunia, jadi itu sangat penting. Saya rasa masalah dengan Messi adalah Rodrigo De Paul tidak dalam performa luar biasa, padahal dialah yang memungkinkan Messi bergerak dengan menjadi 'pengawalnya', sehingga ada perasaan bahwa mereka berdua adalah satu paket," ucapnya.
"Menurut saya, hal itu tidak akan berhasil bagi Argentina di Piala Dunia kali ini karena mereka juga masih mempertahankan pemain tua lainnya seperti Nicolas Otamendi. Namun, setidaknya perdebatan itu akan berkurang, terutama dalam budaya sepak bola Argentina, jika terdapat koneksi antara Thiago Almada dan Julian Alvarez di Atletico Madrid... jika keduanya bisa menyatu di level klub, itu akan menjadi keuntungan besar bagi Argentina," ia menambahkan.
Terkait masa depan Portugal tanpa Ronaldo, Brassell beranggapan pelatih Roberto Martinez justru telah memperkeruh suasana yang ada. Ia merasa Martinez telah membuat situasi terkait penanganan eks Real Madrid tersebut menjadi jauh lebih sulit daripada yang seharusnya terjadi.
"Saya rasa, jika dia meninggalkannya dalam beberapa kesempatan selama Euro atau kampanye kualifikasi—di mana memang bagus dia memecahkan semua rekor ini, tapi dia benar-benar tidak punya hal lain untuk dibuktikan—maka itu akan membuatnya sedikit lebih mudah untuk melangkah maju ke depan," ungkapnya.
Akibat tidak melakukan transisi untuk mengeluarkan Ronaldo dari susunan pemain utama secara bertahap, Martinez seolah tersudut untuk terus memainkannya di setiap pertandingan demi kepentingan skuad. Brassell menegaskan bahwa membangun tim yang hanya berpusat pada satu sosok bukanlah cara yang tepat bagi perkembangan strategi Martinez saat ini.
"Seharusnya bukan seperti itu cara Martinez membangun tim. Jika Anda kembali ke Piala Dunia terakhir dan pertandingan melawan Swis saat Ronaldo tidak terlibat, itu adalah gambaran yang cukup menarik tentang bagaimana seharusnya Portugal bermain," tuturnya.
"Lalu jika kita melihat ke babak kualifikasi sekarang, dalam kemenangan 9-1 atas Armenia di mana dia tidak terlibat, mereka benar-benar tampil luar biasa. Kadang-kadang terasa—dan ini tanpa rasa tidak hormat terhadap kariernya yang luar biasa—bahwa Martinez tiba di saat masyarakat Portugal akan mengerti jika dia menepikan Ronaldo, namun untuk alasan tertentu dia merasa tidak bisa melakukannya, seperti yang kita lihat di Euro 2024."
"Faktanya adalah, tim tidak seharusnya lagi bermain demi dia, melainkan benar-benar menjadi tim milik Bruno Fernandes karena dialah pemimpin yang sesungguhnya. Namun, Portugal memiliki bakat untuk menjadi juara dan saya pikir baik mereka maupun Argentina memiliki keputusan besar yang harus segera diambil."