Presiden FIFA, Gianni Infantino mengumumkan secara resmi akan ada pertunjukan saat jeda babak pertama di laga final Piala Dunia 2026. Foto: TVRI/Grafis/Jovi Arnanda
TVRINews - Zurich, Swiss
Gianni Infantino menyebut para pengkritik Piala Dunia 2026 terlalu fokus mencari kesalahan sehingga gagal melihat sisi positif turnamen.
Presiden FIFA, Gianni Infantino, melontarkan kritik keras kepada pihak-pihak yang selama ini menyoroti penyelenggaraan Piala Dunia 2026.
Dalam surat terbuka yang dipublikasikan pada Senin (27/7/2026), Infantino menuduh para pengkritik telah menyebarkan kebencian dan narasi palsu, sekaligus mengabaikan keberhasilan turnamen yang menurutnya menjadi simbol persatuan, keamanan, dan inklusi.
Piala Dunia 2026 yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko berakhir dengan Spanyol keluar sebagai juara. Meski demikian, turnamen tersebut tidak lepas dari berbagai kontroversi, mulai dari persoalan visa, keputusan wasit, hingga kebijakan disipliner FIFA yang menuai perdebatan.
Dalam suratnya, Infantino menilai jutaan penggemar sepak bola di seluruh dunia telah menikmati pesta sepak bola tanpa gangguan berarti. Ia menyebut para pengkritik terlalu fokus mencari kesalahan sehingga gagal melihat sisi positif turnamen.
"Kalian begitu dipenuhi kebencian dan kritik sehingga melewatkan semuanya," demikian tulis Infantino dalam pembukaan pernyataan tersebut. Ia juga menegaskan bahwa FIFA bekerja keras di balik layar untuk memastikan turnamen berjalan lancar.
"Kepada mereka yang berada di balik pena dan kertas, di balik layar komputer menyebarkan kebencian dan rumor palsu, saya ingin mengatakan bahwa sementara kalian hanya duduk di belakang, kami di FIFA berada di garis depan, bekerja keras menyelenggarakan dan menghadirkan pertunjukan terbaik di dunia."
Infantino kemudian mengeklaim bahwa Piala Dunia 2026 berlangsung dengan tingkat keamanan yang sangat tinggi.
"Kami tidak mengalami kekerasan, tidak ada insiden, keamanan 100 persen terjamin, yang ada hanya kegembiraan dan kebahagiaan."
Meski demikian, sepanjang turnamen FIFA memang menghadapi sejumlah kritik. Salah satu yang paling banyak dibahas adalah kebijakan visa Amerika Serikat yang berdampak pada pendukung, ofisial, hingga beberapa individu dari negara tertentu. Selain itu, keikutsertaan tim-tim dari kawasan yang tengah dilanda konflik atau krisis kemanusiaan juga menjadi perhatian publik.
Kasus Folarin Balogun dan Wasit

Folarin Balogun, striker Timnas Amerika Serikat.
Foto: TVRI/Grafis/Jovi Arnanda
Kontroversi lainnya muncul dalam penanganan kasus disipliner penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun. FIFA memutuskan menangguhkan hukuman larangan bermain satu pertandingan yang seharusnya otomatis berlaku setelah kartu merah yang diterimanya saat menghadapi Bosnia dan Herzegovina. Keputusan tersebut menjadi sorotan karena diambil setelah adanya intervensi Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Selain itu, keputusan-keputusan wasit dalam pertandingan Argentina melawan Mesir juga memicu perdebatan luas di kalangan suporter maupun pengamat sepak bola.
Walaupun tidak menyinggung kasus tertentu secara langsung, Infantino mengatakan bahwa kesalahan wasit maupun perubahan keputusan disipliner merupakan hal yang lazim terjadi di berbagai kompetisi sepak bola dunia.
"Kemungkinan adanya kesalahan pemberian kartu merah atau kuning, ataupun keputusan selanjutnya untuk tidak menjatuhkan larangan bermain kepada pemain dalam situasi tertentu, adalah hal yang rutin dan diterima luas di beberapa liga terbesar dunia."
Ia bahkan mempertanyakan mengapa negara-negara yang menerapkan praktik serupa justru menjadi pihak yang paling vokal mengkritik FIFA. "Sangat menarik bahwa negara-negara yang menerapkan praktik seperti itu justru menjadi pihak yang mengkritiknya."
Kontroversi Visa

Timnas Iran bersiap untuk tampil di Piala Dunia 2026
Foto: TVRI/Grafis/Dede Mauladi
Dalam surat tersebut, Infantino juga menyoroti bagaimana sepak bola mampu melampaui persoalan politik dan krisis internasional. Ia mencontohkan Iran yang tetap dapat mengikuti turnamen meski hubungan negaranya dengan Amerika Serikat sedang memanas.
"Iran memasuki Amerika Serikat tanpa insiden maupun konflik. Tim Iran menerima visa untuk masuk karena sepak bola adalah tentang perdamaian. Ini bukan tentang politik."
Infantino juga menyinggung negara-negara yang menghadapi tantangan kesehatan maupun krisis domestik, seperti Haiti dan Republik Demokratik Kongo, yang tetap diberi kesempatan tampil di Piala Dunia.
"Negara-negara yang menghadapi masalah kesehatan serius atau tantangan lainnya tetap diberikan visa." Ia menambahkan bahwa kehadiran Haiti di panggung dunia seharusnya mendapat apresiasi, bukan justru menjadi sasaran kritik.
"Ketika sepak bola membawa Haiti kepada dunia, sebuah negara yang mungkin tidak dapat atau tidak ingin dikunjungi banyak orang, mungkin sudah saatnya kalian meletakkan pena dan keyboard, lalu menunjukkan rasa hormat kepada tim-tim yang telah bermain."
Melalui surat terbuka tersebut, Infantino menegaskan bahwa FIFA tetap memandang Piala Dunia 2026 sebagai ajang yang berhasil menyatukan berbagai negara dengan latar belakang politik, keamanan, dan kesehatan yang berbeda.
Di tengah berbagai kontroversi yang menyertai turnamen, ia menilai warisan terbesar Piala Dunia tetaplah kemampuannya menghadirkan kebersamaan bagi jutaan orang di seluruh dunia.