TVRINews - Washington D.C., Amerika Serikat

Sepak bola Amerika Serikat tidak jelas pada 1994, saat mereka menjadi tuan rumah Piala Dunia untuk pertama kali.

Pada 1994 itu, AS tidak memiliki liga profesional. Tim nasional mereka diisi eks pemain kampus, pemain profesional yang berdomisili di luar negeri, dan pemain semipro.

"Menuju Piala Dunia 1994, US Organizing Committee mencemaskan penjualan tiket," ucap eks Presiden Federasi Sepak Bola AS, Sunil Gulati, dalam wawancara dengan Al-Jazeera

Di akhir turnamen, kekhawatiran itu tidak terbukti. USA 1994 mencetak kesuksesan dengan rekor 3,5 juta penonton atau rata-rata 68.991 per pertandingan. 

The Yanks yang dibesut Bora Milutinovic lolos dari fase grup untuk pertama kali sejak 1930. Mereka hanya kalah tipis dari Brasil yang akhirnya tampil sebagai juara.

Ajang itu menanamkan benih bagi liga profesional yang disyaratkan FIFA, yakni Major League Soccer. Dengan demikian, sepak bola di Negeri Paman Sam disebut beranjak dari pinggiran, bahkan bisa disebut sudah berada di arus utama.

Timnas AS mencapai peringkat ke-16 di daftar ranking FIFA, posisi yang tergolong oke. MLS berkembang di luar perkiraan.

Gulati berkata bahwa tidak ada yang meramal pada 1994 bahwa MLS akan menjadi liga 30 tim, dengan 22 stadion khusus untuk sepak bola dan mencatat rata-rata 20 ribu penonton. "Tidak dalam mimpi terliar kami," ucapnya.

Lanskapnya, menurut Gulati, kini sudah berubah drastis. Saat ini, US Soccer Federation beranggotakan 127 tim profesional, yang terdiri dari 102 tim pria dan 25 wanita.

"Hal yang paling mudah dilihat adalah perkembangan liga profesional, MLS, dan liga wanita NWSL. Saat itu kami tidak memiliki liga divisi 1. Sekarang ada USL Divisi 2 dan 3. Jumlah tim meningkat secara dramatis," lanjut Gulati.

"Sebanyak 18 dari 50 tim dengan nilai pasar tertinggi ada di MLS. Itu statistik yang luar biasa. Tim wanita di Columbus baru terjual seharga 205 juta dolar. Ketertarikan komersial pada sepak bola dan liganya mencatat titik tertinggi sepanjang masa," katanya lagi.


Berkat Visi Havelange

Lesatan sepak bola AS berutang kepada visi Joao Havelange. Saat menjabat Presiden FIFA, pria Brasil itu menuntut Piala Dunia 1994 digelar di AS dan liga profesional dibentuk di Negeri Paman Sam.

Desakan itu tidak mudah dilaksanakan. Sepak bola memang dimainkan di AS sejak akhir abad ke-19, dan Piala Amerika diadakan sejak 1884. Namun, pada beberapa dekade berikutnya, sejumlah liga kolaps. North America Soccer League (NASL) gulung tikar pada 1984. Masa depan sepak bola di AS tampak tidak cerah, sebelum Havelange dan FIFA turun tangan.

"Sudah sejak lama FIFA melihat bahwa olahraga yang tumbuh secara internasional ini harus sukses di AS," ucap Farrukh Quraishi, seorang pejabat daerah di Tampa, Florida, kepada Al-Jazeera. Quraishi pernah bermain di NASL. "Bagi saya, murni tinggal tunggu waktu saja. Olahraga ini merupakan pasar besar dan basah. Sekarang, pemilik klub MLS juga pemilik tim NFL," Quraishi melanjutkan.

Akar rumput sepak bola AS dijaga oleh partisipasi amatir dan anak muda selama bertahun-tahun. Pada awal 1990-an, pegiat sepak bola di AS di berbagai level diperkirakan 18 juta orang. Tanpa liga divisi tinggi, pemain-pemain berbakat tidak mendapatkan saluran, peliputan minim oleh media, dan memerosotkan daya tarik di mata penggemar.

Piala Dunia 1994 datang. Dua tahun kemudian, MLS mulai digelar.

Stadion-stadion untuk sepak bola mulai berdiri sejak 1999. Columbus Crew Stadium menjadi stadion khusus sepak bola sejak Mark's Stadium di Fall River, Massachusetts, pada 1922. Kini, Columbus tengah merampungkan stadion kedua mereka, ScottsMiracle-Gro Field. Sebanyak 22 tim MLS bertanding di stadion sendiri.

Sepak bola akhirnya menjadi bagian dari lanskap olahraga Amerika Serikat. Banyak orang kini terlihat di jalanan mengenakan jersei yang dipakai Lionel Messi di Inter Miami. "Itu menjadi bagian dari arus utama," tutur Gulati, walau taraf ketenaran sepak bola masih kalah dari olahraga lain. "Tidak sebesar yang lain dalam hal level jumlah penonton, tapi sudah ada peliputan global," lanjutnya.


Guillermo Hoyos (foto kanan) dan Lionel Messi di Inter Miami, tampak keduanya bersama saat masih di Barcelona.

Foto: TVRI/Grafis/Dede Mauladi


Belum Raja

Kekurangan masih terasa dalam sepak bola AS. Eric Wynalda, yang mencetak 34 gol dari 106 kap di Timnas AS, menilai bahwa sistem saat ini belum akan mengangkat AS dari kesemenjanaan. Terdapat jutaan anak muda yang bermain, tapi ambisi mereka tertahan akibat kecilnya peran pemain AS dalam tim MLS.

Kebanyakan pemain lokal diganjar gaji tahunan minimum sebesar 80.622 dolar AS. Menurut Asosiasi Pemain MLS, hanya dua pemain lokal tahun lalu yang masuk daftar 40 pemain dengan gaji tertinggi. Mereka adalah penyerang Austin FC, Brandon Vazquez (di posisi ke-24 dengan bayaran 3,55 juta dolar) dan bek Nashville SC, Walker Zimmerman (3,45 juta dolar, peringkat ke-27).

"Lihat pertumbuhan MLS dan Anda bisa bilang bahwa soccer terlihat profesional dan besar. Banyak orang melihat dari kacamata berbeda karena olahraga ini sudah diakui. Namun, fasilitas tidak menciptakan kemampuan. Kami perlu lebih berfokus pada atmosfer persaingan untuk mengembangkan pemain. Kami berkata kepada mereka bahwa kemenangan bukan yang utama dan lalu heran mengapa mereka tidak menang. Kami kehilangan mentalitas kompetitif itu," ujar Wynalda.

Mantan penyerang yang kini berprofesi sebagai pelatih dan komentator itu menyarankan MLS untuk memberlakukan promosi dan degradasi.

"Kalau datang ke tim yang tidak akan pernah terdegradasi, karena punya banyak uang, Anda tidak pernah belajar untuk bertarung menghindari degradasi, bagaimana mengalahkan 11 pemain penuh amarah karena asap dapur mereka terancam," tutup Wynalda.

Model waralaba MLS telah menciptakan kubu kaya, dengan tim-tim dinilai tinggi oleh majalah Forbes, seperti Los Angeles FC di angka 1,25 miliar dolar AS. Akan tetapi, kualitas permainan tidak lantas ikut menanjak.

Tim MLS cenderung lesu di kompetisi antarklub Concacaf. Terakhir kali, Seattle Sounders bisa juara kontinental pada 2022, memutus paceklik selama 22 tahun setelah gelar DC United pada 1998 dan LA Galaxy pada 2000.

"Ada hal-hal yang kita sepakati dan tidak sepakati, di dalam maupun luar lapangan. Namun, MLS sukses. Saya rasa tidak ada yang mendebatnya," kata eks pemain The Yanks lainnya, Alexi Lalas. 

Mantan bek yang kini jadi pandit Fox Sports itu menekankan kembali bahwa sepak bola AS dan MLS sekarang tak lepas dari efek Piala Dunia 1994. 

"Kini sepak bola sudah merupakan dunia yang berbeda, untuk akhirnya diterima, tidak usah dihargai, untuk apa yang telah dilakukan. Kita tahu soccer masih belum menjadi raja di AS, tapi, akuilah, olahraga ini adalah bagian dari kehidupan harian dan jelas bagian dari lanskap generasi ini," ucap Lalas lagi.

Lalas meramal AS akan kembali merasakan pengaruh positif sebagai tuan rumah. Perempat final merupakan target yang masuk akal bagi Lalas. 

Khusus untuk penyelenggaraan, AS menatap kesuksesan lagi. Menuju Piala Dunia 2026 dengan sebagian besar pertandingan digelar di AS, sementara dua negara tuan rumah lainnya, Meksiko dan Kanada, hanya beberapa partai, permintaan tiket melonjak hingga dikabarkan melebihi ketersediaan.

Di sisi lain, Gulati berharap sepak bola terus bertumbuh di negaranya setelah pergelaran akbar. "Itulah warisan turnamen dan mengapa kami menjadi tuan rumah," tutup Gulati.