Mohamed Ouahbi dalam konferensi pers pengangkatannya sebagai pelatih Timnas Maroko, Kamis (5/3/2026). Foto: TVRI/Grafis/Yusuf
TVRINews - New Jersey, Amerika Serikat
Mohamed Ouahbi menilai, hasil imbang 1-1 lawan Brasil-nya Carlo Ancelotti adalah hasil yang bagus.
Pelatih Timnas Maroko, Mohamed Ouahbi, menilai hasil imbang 1-1 timnya lawan Brasil pada Sabtu malam waktu setempat atau Minggu (14/6/2026) pagi WIB adalah hasil yang bagus karena yang mereka hadapi adalah Brasil-nya Carlo Ancelotti.
Pelatih 49 tahun ini juga memberikan pujian kepada para pemainnya yang dalam pertandingan di Stadion New York New Jersey Stadium tersebut bermain sesuai dengan rencana, menyerang pertahanan Brasil sebisa mungkin.
"Kami bermain seperti yang telah kami rencanakan, tapi saya menghadapi Carlo Ancelotti, jadi itu tidaklah sederhana," kata Mohamed Ouahbi dalam konferensi pers setelah laga berakhir.
Meski kecewa karena mengakhir laga hanya dengan satu poin, namun Mohamed Ouahbi menilai hasil ini sudah cukup bagus mengingat kualitas lawan yang dihadapi timnya. Pelatih yang menggantikan Walid Regragui pada 5 Maret 2026 lalu ini memang cukup puas dengan satu poin ini.
Sebagai pelatih yang baru empat bulan menangani Achraf Hakimi dan kawan-kawan, dirinya berhasil memetik satu poin. Apalagi, dari jejak kariernya, Mohamed Ouahbi tentu sangat jauh jika dibandingkan dengan Carlo Ancelotti.
Ini pertama kalinya Mohamed Ouahbi menangani timnas senior. Sebelumnya, dia hanya menangani Timnas Maroko U-23 dan U-20. Mantan guru ini mendapatkan kepercayaan dari Kerajaan Federasi Sepak Bola Maroko (FRMF) untuk menangani The Atlas Lions.
Bukan kebetulan pula Mohamed Ouahbi beberapa kali menyebutkan nama Carlo Ancelotti dalam konferensi pers setelah laga ini. Semua itu bagian dari kekagumannya terhadap pelatih Brasil yang berasal dari Italia tersebut.
Bahkan, dalam konferensi pers jelang laga ini atau pada dua hari lalu, Mohamed Ouahbi menyatakan dirinya membaca buku baik itu biografi sang maestro Italia tersebut maupun sumber lainnya terkait Carlo Ancelotti, pelatih berusia 67 tahun.
"Saya membaca beberapa buku tentang Carlo Ancelotti. Saya tahu juga beberapa rahasianya," kata Mohamed Ouahbi, tertawa, dalam konferensi pers tersebut. Bukan rahasia lagi bahwa pelatih berusia 49 tahun ini mengagumi Don Carletto. Bahkan, dia menjadikan Carlo Ancelotti sebagai referensi sekaligus inspirasi dalam perjalanan kariernya sebagai pelatih.
Kekaguman Mohamed Ouahbi kepada Carlo Ancelotti diperlihatkan saat pertama kali dia diperkenalkan sebagai pelatih Timnas Maroko. Saat itu, dia ditanya tentang gaya atau filosofinya dalam melatih.
Dengan percaya diri dan tenang, dia mengatakan bahwa dia menyampaikan kalimat yang pernah disampaikan Carlo Ancelotti: "Singa berlari untuk mencari makan, rusa juga berlari agar tidak menjadi mangsa. Keduanya berlari untuk mencapai tujuan."
Pengandaian itu tampaknya cukup tepat untuk dimunculkan lagi dari laga Brasil vs Maroko yang berakhir imbang tadi pagi ini. Ya, Mohamed Ouahbi berhasil membuat Maroko juga sama-sama seperti singa seperti halnya Brasil.
Seperti yang pernah diulas, kariernya Mohamed Ouahbi dimulai sebagai seorang pendidik atau guru di sebuah sekolah di Schaerbeek, Belgia. Hanya karena minatnya yang besar terhadap sepak bola membuatnya memutuskan untuk menjadi pelatih.
Latar belakangnya sebagai guru tampaknya yang membuatnya membawa tim muda Maroko juara Piala Dunia U-20 pada 2025. Itu adalah momen terbaiknya sebagai pelatih. Dan, jejak kariernya kini bisa ditambahkan dengan keberhasilannya membawa Maroko meraih satu poin menghadapi tim kuat di dunia dengan sejarah yang besar yaitu Brasil.
Pertandingan menghadapi Brasil merupakan momen penting dalam kariernya sebagai pelatih. Seperti Carlo Ancelotti, dia pun berstatus pelatih debutan di turnamen tahun ini. Tapi, tentu saja jejaknya antara dirinya dan Carlo Ancelotti berbeda.