Bek Inggris, Dan Burn. Foto: TVRI/Grafis/Yusuf
TVRINews – Florida, Amerika Serikat
Dan Burn memulai karier sepak bola dari kompetisi kasta bawah, tetapi sekarang ada dalam skuad Inggris di Piala Dunia 2026.
Dari kompetisi non-liga hingga panggung Piala Dunia. Dan Burn mengaku masih sulit percaya dirinya kini menjadi bagian dari skuad Inggris untuk Piala Dunia 2026 setelah menempuh perjalanan karier yang panjang dan berliku.
Karier sepak bola Burn dimulai dari Darlington, klub yang bermain di kompetisi kasta keenam Inggris. Sempat ia direkrut oleh Fulham, tetapi kemudian dipinjamkan ke Yeovil Town yang ada di kasta ketiga.
Kesempatan bermain di Fulham baru didapat Burn pada musim 2013/2014 di Divisi Championship (kasta kedua). Ia sempat merasakan promosi ke Premier League, tetapi kemudian kembali terdegradasi ke kasta kedua.
Tiga musim bersama Fulham, Burn dipinang oleh Wigan Athletic. Musim pertamanya dilalui dengan buruk karena degradasi dari Divisi Championship ke League One. Namun, pada musim berikutnya ia berkontribusi besar membawa tim tersebut promosi kembali.
Di awal musim 2018/2019, pinangan dari Brighton & Hove Albion yang berkompetisi di Premier League datang. Ditebus dengan nilai transfer 3,5 juta euro (Rp72 miliar), ia dibiarkan tetap berada di Wigan dengan status pinjaman.
Kesempatan bermain di Premier League bersama Brighton datang pada musim 2019/2020. Tak disangka, pelatih Graham Potter mempercayakannya sebagai pilihan pertama mengawal jantung pertahanan.
Penampilan konsisten Burn mencuri perhatian Newcastle United. Bek bertubuh jangkung tersebut direkrut pada musim 2021/2022 dengan mahar mencapai Rp310 miliar.
Konsistensinya bersama Newcastle dalam empat musim beruntun membuat Tuchel memanggilnya ke skuad Inggris pada 2025. Ia dimainkan selama 90 menit penuh dalam laga kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Eropa melawan Albania.
Mulai dari sana, ia kerap mendapat pemanggilan ke tim nasional. Sampai akhirnya Tuchel percaya untuk membawanya ke turnamen yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Mencicipi atmosfer turnamen besar seperti Piala Dunia di usia 34 tahun terasa tidak nyata bagi Burn. Hal seperti ini jauh dari yang ia bayangkan, terutama ketika masih berada di kompetisi kasta bawah Inggris.
“Rasanya agak tidak nyata. Jika Anda bertanya kepada saya saat masih bermain untuk Darlington di Conference dan League Two apakah saya akan berada di sini, saya mungkin akan menjawab ‘tidak’, terutama di usia seperti sekarang,” kata Burn, dikutip dari France24, Minggu (14/6/2026).
Burn tak mau terlalu banyak memikirkan kesempatan bermain yang akan ia dapatkan di Piala Dunia 2026. Sebab, bergabung dengan skuad berjuluk The Three Lions seperti sekarang sudah sangat istimewa baginya.
“Tetapi saya hanya berusaha menikmati setiap momen. Jelas, semua ini masih sangat baru bagi saya. Ini pertama kalinya saya mengalami semuanya. Jadi, saya sangat senang berada di sini,” ujarnya.
“Saya ingin membantu tim semaksimal mungkin, entah sebagai starter atau masuk dari bangku cadangan, membantu memenangkan pertandingan atau mengamankan kemenangan,” ia menambahkan.
Setelah mencatatkan delapan penampilan bersama Inggris, kini Burn menanti kesempatan mengukir capaian baru, yakni turun bertanding di Piala Dunia 2026. Terbuka kemungkinan Tuchel memainkannya di antara tiga laga awal Inggris di Grup L melawan Kroasia, Gana, atau Panama.