Penyerang Brentford, Igor Thiago untuk pertama kali mendapat panggilan ke Timnas Brasil Foto: TVRI/Grafis/Jovi Arnanda
TVRINews - Jakarta
Igor Thiago memiliki kesempatan debut bersama Timnas Brasil dalam uji coba melawan Prancis dan Kroasia.
Igor Thiago sedang bersinar bersama Brentford. Penyerang berusia 24 tahun tersebut menyarangkan 19 gol dari 30 pertandingan Liga Primer Inggris musim ini. Jumlah tersebut menempatkannya sebagai pemain paling produktif kedua di bawah Erling Haaland dengan 22 gol.
Penampilan gemilang Igor Thiago di kompetisi kasta tertinggi sepak bola Inggris membuat pelatih Timnas Brasil, Carlo Ancelotti kepincut. Namanya masuk dalam daftar panggilan untuk laga uji coba menghadapi Prancis dan Kroasia pada 26 dan 31 Maret 2026. Kesempatan yang tak boleh disia-siakan, karena ini akan membuka peluangnya dibawa ke Piala Dunia 2026.
Kali pertama pemain binaan akademi Cruzeiro mendapat panggilan ke tim nasional, yang harus dilakukan terlebih dulu agar bisa mencatatkan debut ialah memenangi persaingan dengan Endrick, Rayan, Matheus Cunha, dan Joao Pedro untuk posisi penyerang tengah.
Jika produktivitas nama-nama tersebut diperbandingkan di level klub musim ini, Igor Thiago yang paling unggul. Dari 32 penampilan di seluruh kompetisi bersama Brentford, ia mencetak 22 gol. Kemudian ada Pedro yang menyumbang 18 gol dari 42 laga bersama Chelsea.
Cunha yang bermain untuk Manchester United telah mencetak tujuh gol dari 29 laga. Lalu ada Rayan yang dibeli Bournemouth dari Vasco da Gama pada Januari 2026 dengan dua gol dari tujuh pertandingan.
Saingan terberat Thiago dalam perebutan tempat di skuad utama Brasil adalah Endrick. Penyerang berusia 19 tahun itu sudah mencatatkan 14 penampilan bersama Tim Samba. Sejak dipinjamkan Real Madrid ke Lyon di paruh kedua musim ini, ia tampil sebanyak 12 kali dengan sumbangan enam gol.
Merantau ke Eropa
Sejak kehilangan ayahnya di usia 13 tahun, Thiago memiliki tekad yang besar untuk membawa keluarganya keluar dari kemiskinan. Ia tak mau lagi sang ibu, Maria Diva bekerja sebagai penyapu jalanan di Kota Brasilia.
"Ketika kami kehilangan ayah, beliau harus bekerja keras untuk membantu kami. Beliau adalah contoh bagaimana mengatasi kesulitan, tetapi dari situlah saya menyadari bahwa saya ingin memberikan segalanya untuknya, membantu sebisa mungkin, dan mengubah situasi keluarga saya," kata Thiago, dikutip dari Marca.
Futsal menjadi pilihan pertama Thiago di awal meniti karier. Setelah itu ia coba ikut seleksi di beberapa tim hingga akhirnya diterima tim U-17 Vere pada 2017. Dua tahun berselang, akademi Cruzeiro merekrutnya.
Thiago hanya butuh waktu setahun di akademi sampai akhirnya diturunkan sebagai starter dalam pertandingan tim senior Cruzeiro di Campeonato Mineiro melawan Boa Esporte. Tiga tahun ia habiskan di sana dengan catatan 64 penampilan, 10 gol, dan tiga asis.
Tim papan atas Bulgaria, Ludogorets Razgrad merekrutnya pada 2022. Thiago lebih dulu ditempatkan di tim kedua tujuan beradaptasi. Tiga gol dari empat laga membuat jajaran pelatih yakin untuk menariknya ke tim utama.
Turun sebagai pemain pengganti melawan CSKA Sofia pada 20 April 2022, Thiago tampil memukau dengan sumbangan satu gol. Dari sana ia terus menjadi andalan dan turut andil dalam merebut dua gelar juara Liga Utama Bulgaria secara beruntun (2021/2022 dan 2022/2023).
Tawaran sebesar 7,9 juta euro (Rp154 miliar) dari Club Brugge untuk memboyong Thiago tak bisa ditampik oleh Ludogorets. Pada Juni 2023, akhirnya ia pergi ke Liga Belgia dengan mengukir sejarah sebagai penjualan termahal tim berjuluk The Eagles.
Ketajaman Thiago sudah ditunjukkan sejak pertandingan pertamanya bersama Club Brugge. Satu musim bermain di sana, ia tampil sebanyak 55 kali dengan sumbangan 29 gol dan enam asis.
Pembelian Termahal
Brentford yang kehilangan Ivan Toney karena hijrah ke Liga Arab Saudi kemudian membelinya dari Club Brugge. Sejarah kembali terukir, karena biaya transfer 30 juta poundsterling (Rp675 miliar) merupakan yang tertinggi dikeluarkan oleh Brentford untuk menebus seorang pemain.
Thomas Frank yang ketika itu menjabat sebagai manajer Brentford menganggap Thiago adalah pengganti sepadan untuk Toney. Manajemen kemudian memberikan kontrak berdurasi lima tahun kepadanya.
"Kami telah mendatangkan pemain kunci untuk posisi kunci. Ia pekerja keras dan pemain yang sangat bagus dalam melakukan pressing. Ia juga memiliki fisik yang kuat, sangat bagus di dalam kotak penalti dan dapat menghubungkan pemain," ujar Frank.
Musim pertamanya di Brentford tidak mulus karena dua kali ia mengalami cedera meniskus yang mengharuskan istirahat panjang. Begitu kembali bugar di musim ini, Thiago membayar kepercayaan yang diberikan dengan sangat baik.
Mantan gelandang Chelsea, Joe Cole dibuat terkesima oleh permainan Thiago yang disebutnya bergaya penyerang tengah jadul. Ia mampu menempatkan diri dalam posisi bagus untuk menciptakan peluang.
"Igor Thiago seperti seorang penyerang tengah jadul. Ia menyerang ruang dengan sangat baik. Secara teknis ia mahir. Permainannya secara keseluruhan sangat membuat saya terkesan," katanya.