Marco Materazzi menjadi pilar lini belakang Timnas Italia saat menjuarai Piala Dunia 2006. Foto: TVRI/Grafis/Jovi Arnanda
TVRINews - Jakarta
Perjalanan Timnas Italia menuju gelar juara Piala Dunia 2006 tidaklah mudah.
Timnas Italia menunjukkan performa terbaiknya di Piala Dunia 2006. Dengan perpaduan pemain senior dan junior yang memiliki kemampuan mumpuni, skuad asuhan Marcello Lippi keluar sebagai juara setelah mengalahkan Prancis di partai puncak.
Italia yang identik dengan filosofi Catenaccio diperkuat deretan bek kelas dunia seperti Fabio Cannavaro, Alessandro Nesta, Marco Materazzi, Gianluca Zambrotta, Cristian Zaccardo, dan Fabio Grosso. Di bawah mistar, ada Gianluigi Buffon yang saat itu tengah bersinar bersama Juventus.
Di lini tengah, Marcello Lippi memiliki Daniele De Rossi, Simone Perrotta, dan Gennaro Gattuso yang bertipe pekerja keras dan tak kenal kompromi dalam menghentikan serangan lawan. Sementara Andrea Pirlo yang memiliki visi dan akurasi umpan yang bagus ditugaskan sebagai deep-lying playmaker.
Barisan depan Italia juga menakutkan lawan. Marcello Lippi masih mengandalkan pemain senior seperti Filippo Inzaghi, Alessandro Del Piero, Francesco Totti, dan Luca Toni untuk mencetak gol.
7 Kemenangan di Kualifikasi
Italia berada di Grup 5 kualifikasi Piala Dunia 2006 zona Eropa. Mereka menang dalam dua laga awal saat menjamu Norwegia dan melawat ke markas Moldova. Pada pertandingan ketiga di kandang Slowenia, tim berjuluk Gli Azzurri menderita kekalahan 0-1.
Hasil buruk itu melecut semangat para pemain Italia. Dua pertandingan berikutnya di kandang sendiri berhasil dimenangkan. Mereka mengalahkan Belarus dengan skor 4-3 dan unggul dua gol tanpa balas atas Skotlandia.
Kritik berdatangan kepada Cannavaro dan kawan-kawan karena dalam dua pertandingan tandang berikutnya melawan Norwegia dan Skotlandia berakhir imbang. Keraguan penggemar terhadap mereka dijawab dengan tiga kemenangan beruntun atas Belarus, Slowenia, dan Moldova.
Tujuh kemenangan, dua kali imbang, dan sekali kalah sudah cukup membuat Gli Azzurri bertengger di puncak klasemen Grup 5 dan berhak atas tiket ke Piala Dunia 2006 yang dilangsungkan di Jerman. Toni menjadi bintang Italia dengan sumbangan empat golnya.
Diiringi Isu Tak Sedap
Beberapa hari sebelum Italia berangkat ke Jerman untuk melakoni pertandingan di Piala Dunia 2006, Lippi diganggu isu tak sedap. Ia dipanggil ke pengadilan untuk menjelaskan isi percakapan telepon dengan petinggi Juventus, Luciano Moggi terkait penentuan pemain yang akan dipanggil untuk membela Italia.
Meski hanya dipanggil sebagai saksi, namun publik tetap menyuarakan agar Lippi mengundurkan diri sebagai pelatih Italia. Ia menolak mengikuti desakan tersebut dan mendapat dukungan penuh dari Federasi Sepak Bola Italia (FIGC).
Juru taktik berjuluk Il Mister itu membuktikan diri layak memimpin Italia di Piala Dunia 2006 dengan kemenangan 2-0 atas Gana pada laga perdana di Grup E. Sempat ditahan imbang 1-1 Amerika Serikat pada laga kedua, Gli Azzurri akhirnya memastikan diri sebagai pemuncak klasemen berkat kemenangan 2-0 atas Ceko.
Isu tak sedap yang mengiringi Italia berikutnya adalah kemenangan 1-0 atas Australia di babak 16 besar. Gol penalti yang Francesco Totti digugat. Gli Azzurri dinilai tidak pantas mendapat penalti karena Fabio Grosso yang berduel dengan Lucas Neill melakukan diving.
Beberapa bulan setelah insiden itu, Presiden FIFA, Sepp Blatter melontarkan pernyataan yang kontroversial. Ia meminta maaf kepada para penggemar sepak bola Australia dan menilai seharusnya skuad asuhan Guus Hiddink yang lolos ke perempat final, mengingat Italia bermain dengan 10 orang usai Materazzi diganjar kartu merah pada menit ke-50.
"Saya rasa ada terlalu banyak kecurangan dari pihak pemain. Saya ingin meminta maaf kepada para penggemar di Australia. Seharusnya Socceroos yang lolos ke perempat final menggantikan Italia. Anda masuk ke babak perpanjangan waktu dan Anda bermain 11 lawan 10" ujarnya, dikutip dari Al Jazeera.
Menuju Tangga Juara
Performa baik ditunjukkan di tengah banyaknya orang yang meragukan kelayakan mereka melangkah ke perempat final. Dua gol Luca Toni dan satu dari Gianluca Zambrotta membawa Italia mengalahkan Ukraina dengan skor 3-0.
Tantangan di semifinal semakin berat. Gli Azzurri harus berhadapan dengan Jerman di Westfalenstadion, Dortmund. Duel ini terasa menyakitkan bagi tuan rumah karena gawang mereka dibobol di pengujung babak kedua waktu tambahan.
Fabio Grosso memecah kebuntuan Italia pada menit 119. Dua menit berselang, Jerman kembali dikejutkan dengan gol Alessandro Del Piero. Gli Azzurri merayakan keberhasilan ke final di depan puluhan ribu penggemar tuan rumah.
Duel Italia melawan Prancis di final Piala Dunia 2006 berlangsung sengit sejak awal. Les Bleus unggul pada menit ketujuh lewat titik putih yang dieksekusi dengan sangat baik oleh Zidane. Hanya berselang 12 menit kemudian, Materazzi menyamakan kedudukan menjadi 1-1 dan bertahan sampai 90 menit waktu normal usai.
Ketegangan terjadi di babak pertama waktu tambahan. Zidane dan Materazzi terlibat perselisihan. Keduanya saling adu mulut, sampai akhirnya Zidane menanduk dada Materazzi. Kartu merah dilayangkan wasit kepada pemain yang pada Piala Dunia 1998 membawa Prancis menjadi juara.
Italia memastikan gelar juara Piala Dunia keempatnya melalui adu penalti. Lima pemain yang dipercaya menjadi eksekutor, Pirlo, Materazzi, De Rossi, Del Piero, dan Grosso menjalankan tugas dengan baik. Sementara penendang kedua Prancis, David Trezeguet menemui kegagalan.