TVRINews – Houston, Amerika Serikat

Media Jepang menyoroti kesenjangan sepak bola yang kian melebar dengan Korea Selatan dalam beberapa tahun terakhir yang berpuncak di Piala Dunia 2026.

Dalam beberapa jam ke depan, Tim Nasional Jepang akan menantang salah satu raksasa sepak bola dunia, Brasil, di babak 32 besar Piala Dunia 2026. Pertandingan di Houston Stadium, Amerika Serikat (AS) itu bakal disiarkan langsung di TVRI Sport pada Senin (29/06/2026) mulai pukul 23.00 WIB. 

Di sisi lain, “saudara” Samurai Biru sesama tim asal Asia, Korea Selatan (Korsel), sudah harus pulang setelah juga gagal saat berharap masuk fase gugur melalui jalur peringkat ketiga terbaik. 

Kesenjangan antara Korea dan Jepang telah melebar hingga ke titik di mana semakin sulit untuk menganggap kedua negara tersebut sebagai rival sepak bola yang sepadan, dan salah satu indikatornya bisa dilihat dari langkah kedua tim di Piala Dunia di AS, Kanada, dan Meksiko ini. 

Dalam artikel berjudul “Kesenjangan yang Melebar antara Korea dan Jepang: Jepang Melaju ke Fase Gugur Sementara Korea Tersingkir di Fase Grup Piala Dunia 48 Tim”, salah satu media Jepang, TV Tokyo Sports, menggambarkan perbedaan hasil Piala Dunia itu sebagai petunjuk jelas mengenai posisi kedua tim nasional saat ini.

Timnas Korsel menempati peringkat ketiga di Grup A setelah mengalahkan Republik Ceko pada pertandingan pembuka, namun kemudian menelan kekalahan berturut-turut dari Meksiko dan Afrika Selatan. 

Korea sempat menanti hasil dari grup-grup lain dengan harapan bisa lolos berbekal tiga poin dan selisih gol -1. Namun kemenangan tak terduga Republik Demokratik Kongo atas Uzbekistan menempatkan Korea di peringkat kesembilan di antara 12 tim peringkat ketiga turnamen, yang pada akhirnya menggagalkan langkah mereka ke fase gugur. 

Format Piala Dunia yang diperluas menjadi 48 tim sebenarnya menawarkan jalan yang lebih terbuka untuk melaju ke fase gugur. Namun, Taeguk Warriors tetap gagal mencapainya. Kegagalan ini menandai kali pertama tim tersebut gagal menembus fase gugur sejak Piala Dunia 2018 di Rusia. 

Sebaliknya, Jepang melaju ke babak 32 besar tanpa terkalahkan setelah mencatatkan satu kemenangan dan dua hasil imbang—mengumpulkan lima poin—di Grup F, yang di atas kertas lebih berat dibanding Grup A yang dihuni Korsel. 

Berada satu grup dengan Belanda, Tunisia, dan Swedia, Jepang mengawali kiprahnya dengan hasil imbang 2-2 melawan Belanda, mengalahkan Tunisia 4-0, lalu seri dengan Swedia 1-1 pada pertandingan grup terakhir. Hasil tersebut memastikan pertemuan dengan Brasil di babak 32 besar.

Artikel di TV Tokyo Sports itu menyoroti kekecewaan yang kian membesar di Korsel terkait performa tim. Grup tersebut awalnya dianggap relatif ringan karena tidak dihuni oleh tim-tim unggulan yang tangguh seperti Brasil atau Argentina, namun hasil yang diraih jauh dari harapan. 

Tulisan itu juga menyoroti kritik yang semakin tajam terhadap taktik dan pemilihan pemain oleh pelatih kepala Hong Myung-bo, serta mengutip istilah-istilah keras yang digunakan media Korea, seperti “kekalahan memalukan”, “Piala Dunia terburuk dalam sejarah”, dan “bencana”.

Keputusan tidak lazim Asosiasi Sepak Bola Korea (KFA) untuk tidak menggelar upacara penyambutan saat tim kembali ke tanah air juga mencerminkan suasana muram yang menyelimuti skuad tersebut. Kata laporan tersebut.

Di sisi lain, Timnas Jepang mendapat penilaian positif karena secara konsisten membangun skuad yang bertumpu pada pemain-pemain yang berkarier di Eropa. 

Setelah mengalahkan Jerman dan Spanyol untuk melaju ke fase gugur Piala Dunia 2022 di Qatar, Jepang kembali membuktikan kemampuannya mengimbangi tim-tim papan atas dunia dengan menahan imbang Belanda pada turnamen tahun ini.

Sebagai catatan, skuad pelatih Hajime Moriyasu ini belum mencerminkan kekuatan Jepang seutuhnya setelah sejumlah pemain bintang mereka seperti Wataru Endo, Kaoru Mitoma, dan Takumi Minamino tidak bisa masuk skuad karena cedera.  

Artikel tersebut membandingkan kemajuan Jepang dengan kegagalan Korea lolos dari fase grup—meskipun diperkuat pemain level bintang seperti Son Heung-min, Lee Kang-in, dan Kim Min-jae—yang menandai kali kedua Korea tersingkir di fase grup dalam tiga Piala Dunia terakhir.

“Kedua tim telah lama menjadi kekuatan utama sepak bola Asia. Namun, jika mencermati performa Piala Dunia terkini, kedalaman skuad, dan kekuatan keseluruhan mereka, terlihat adanya kesenjangan yang kian melebar,” tulis artikel tersebut, seraya menyiratkan bahwa status mereka sebagai rival yang setara mungkin perlu ditinjau kembali.

“Piala Dunia ini mungkin memaksa kita untuk berpikir ulang apakah Korsel dan Jepang masih bisa disebut sebagai rival.”

Jepang baru mampu turun di Piala Dunia pada 1998 di Prancis. Setelah itu, mereka tidak pernah absen dari turnamen hingga turun kedelapan kalinya tahun ini. 

Pencapaian terbaik Samurai Biru—16 besar pada 2002, 2010, 2018, dan 2022—memang belum menyamai Taeguk Warriors yang menjadi semifinalis saat menggelar Piala Dunia 2002 bersama Jepang.

Korsel sendiri lebih “berpengalaman” turun di Piala Dunia setelah debut pada 1954 di Swis. Sempat absen panjang, Korsel baru bisa kembali pada 1986 dan tidak pernah absen sampai 2026 ini (11 edisi). 

Namun, setelah finis di peringkat keempat, torehan Taeguk Warriors terkesan stagnan karena setelah 2002, langkah paling jauh hanya 16 besar pada 2010 dan 2022.